Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

MK Tegaskan Sikap soal Nikah Beda Agama

Politisi dan Nafsu Menguasai Institusi

Aphrodisias: Kota Dewi Cinta yang Abadi

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Kamis, 5 Februari 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Provokasi di Balik Aksi Jalanan

Demonstrasi tanpa narasi jelas hanya menjadi panggung provokator yang menunggangi keresahan publik.
Udex MundzirUdex Mundzir31 Agustus 2025 Editorial
Demonstrasi Tanpa Narasi Jelas dan Provokasi Politik.
Ilustrasi Demonstrasi Tanpa Narasi Jelas dan Provokasi Politik (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Gelombang demonstrasi besar-besaran yang terjadi baru-baru ini memperlihatkan betapa rapuhnya ruang publik ketika kebijakan negara memicu ketidakpuasan. Rakyat turun ke jalan karena merasa tertekan oleh kebijakan yang dianggap membingungkan dan merugikan. Namun, di balik keresahan itu, muncul jejak provokasi yang berusaha menggeser aspirasi menjadi kekacauan.

Daftar kebijakan kontroversial dalam beberapa bulan terakhir memang panjang. Mulai dari isu PPN, premium oplosan, gas LPG, hingga persoalan tanah dan laut yang tidak tuntas. Kebijakan yang tampak “ngawur” ini menambah frustrasi masyarakat dan menciptakan ruang bagi kemarahan kolektif.

Tetapi yang lebih mengkhawatirkan adalah pola pergerakan aksi. Seruan demonstrasi sering kali datang dari akun-akun anonim yang sulit dipertanggungjawabkan. Narasi tunggal untuk memperjelas tuntutan tidak muncul, sehingga aksi cenderung diarahkan oleh provokasi yang menunggu momentum.

Ketika tidak ada kepemimpinan aksi yang jelas, ruang terbuka bagi penyusup. Intel menyamar, provokator mendorong bentrokan, bahkan insiden tragis dimanfaatkan untuk membangun stigma bahwa negara sedang gagal. Demonstrasi kehilangan makna substantif dan berubah menjadi panggung rekayasa politik.

Fenomena ini tidak bisa dilihat sekadar sebagai luapan spontan akibat kebijakan. Ada pola yang sengaja dibangun, dari daerah hingga nasional. Contohnya terlihat di Pati, di mana pengurangan dana daerah memaksa pejabat menaikkan pajak pendapatan, lalu meledak menjadi kemarahan massal.

Namun, ketika keresahan lokal tiba-tiba terkonsolidasi menjadi aksi nasional, wajar bila publik bertanya: siapa yang mengatur? Ada pihak yang sengaja menyulut agar kemarahan tersebar, bukan hanya sekadar respons spontan rakyat. Isu yang seharusnya bersifat regional dipelintir menjadi serangan politik.

Secara politik, ini mencerminkan kerasnya perebutan panggung kekuasaan. Rumor soal jatah kekuasaan dua tahun bagi Presiden Prabowo, lalu digantikan aktor lain, menambah bumbu liar. Narasi seperti ini bukan memperkuat kritik kebijakan, tetapi justru memelihara teori konspirasi.

Jika dibiarkan, masyarakat sibuk mengonsumsi isu politik yang belum tentu benar. Mereka terjebak pada drama kekuasaan, bukan pada tuntutan perbaikan kebijakan nyata. Di titik ini, oposisi sah berubah menjadi sabotase yang melemahkan negara.

Dari sisi hukum, lemahnya pengawasan terhadap penyebaran hoaks dan seruan provokatif memperburuk keadaan. Ajakan aksi anonim tanpa tanggung jawab seharusnya segera diidentifikasi dan dipertanggungjawabkan. Jika tidak, demonstrasi akan terus jadi panggung gelap bagi kepentingan tersembunyi.

Aparat memang dihadapkan pada dilema besar. Mereka wajib menjaga kebebasan berekspresi, tetapi juga harus mencegah kekacauan. Tugas ini tidak mudah, apalagi ketika provokator sengaja mengarahkan massa untuk berkonflik dengan polisi demi melahirkan korban.

Secara sosial, demonstrasi tanpa arah yang jelas lebih banyak merugikan rakyat sendiri. Mereka yang berharap menyampaikan aspirasi justru terseret dalam kekerasan. Fasilitas umum rusak, stigma negatif menempel pada gerakan sipil, dan aspirasi substantif hilang.

Di sisi lain, pemerintah juga kehilangan kredibilitas ketika gagal merespons keresahan dengan bijak. Komunikasi publik yang buruk memperlebar jurang antara kebijakan dan penerimaan masyarakat. Akibatnya, setiap kebijakan baru dicurigai sebagai jebakan.

Budaya politik intrik yang terus dipelihara memperburuk keadaan. Alih-alih menjadi ruang musyawarah, demokrasi diperalat sebagai arena adu siasat. Demonstrasi yang seharusnya kanal aspirasi rakyat malah dijadikan senjata politik untuk menggoyang legitimasi.

Ekonomi pun ikut terguncang oleh keresahan publik. Kebijakan fiskal yang membingungkan, seperti perubahan pajak tanpa penjelasan rinci, langsung menekan kepercayaan masyarakat. Situasi ini mudah dimanfaatkan oleh kelompok yang ingin menggiring amarah menjadi aksi besar.

Jika komunikasi ekonomi tidak dibenahi, setiap regulasi akan selalu ditolak di jalanan. Rakyat sulit percaya pada kebijakan yang tidak transparan. Dalam kondisi ini, provokator hanya perlu sedikit percikan untuk menyalakan api.

Kemarahan publik yang menumpuk juga erat kaitannya dengan realitas ekonomi sehari-hari. Harga pangan naik, biaya hidup makin berat, dan kesempatan kerja tidak merata. Semua itu membuat masyarakat lebih sensitif terhadap kebijakan baru yang dianggap tidak berpihak.

Di desa, keresahan ekonomi ini bahkan lebih terasa. Ketika subsidi pupuk terlambat atau harga gabah jatuh, petani langsung merasakan dampaknya. Kebijakan pusat yang lamban atau tidak tepat sasaran memperkuat kesan bahwa negara abai pada wong cilik.

Sementara itu, di kota, generasi muda menghadapi tantangan berbeda. Banyak yang berpendidikan tinggi tetapi sulit mendapatkan pekerjaan yang layak. Frustrasi ini menjadi energi tambahan bagi demonstrasi, meski tuntutannya sering kali kabur.

Dalam konteks budaya politik Indonesia, demonstrasi memang punya akar sejarah panjang. Dari era reformasi hingga sekarang, aksi jalanan dianggap cara sah untuk menekan pemerintah. Namun, ketika budaya ini dipelihara tanpa disiplin narasi, ia menjadi ruang empuk bagi provokasi.

Tidak bisa dipungkiri, demokrasi kita masih rentan dibajak oleh kepentingan sempit. Protes sah sering kali ditunggangi, lalu diarahkan untuk tujuan politik tertentu. Ini merusak makna sejati demokrasi sebagai alat koreksi, bukan penghancur.

Solusinya harus konkret. Pertama, pemerintah perlu memperbaiki transparansi dan komunikasi kebijakan. Setiap perubahan regulasi harus dijelaskan dengan jelas dan terbuka agar tidak menjadi bahan fitnah. Rakyat butuh kepastian, bukan kejutan.

Kedua, aparat harus tegas menindak provokator, bukan menekan demonstran damai. Kebebasan menyampaikan pendapat harus dilindungi, tetapi mereka yang sengaja merusak tatanan harus diproses hukum. Penegakan aturan harus konsisten dan adil.

Ketiga, elite politik wajib berhenti bermain api dengan memanfaatkan keresahan rakyat. Kritik adalah bagian dari demokrasi, tapi sabotase adalah penghianatan terhadap bangsa. Negara harus berani membersihkan lingkaran birokrasi dari parasit politik.

Keempat, media dan masyarakat sipil punya peran penting dalam melawan provokasi. Literasi publik harus diperkuat agar masyarakat mampu memilah informasi. Tidak semua seruan aksi adalah aspirasi rakyat; ada yang sekadar skenario kelompok tertentu.

Akhirnya, demonstrasi adalah hak konstitusional yang harus dijaga. Tetapi jika hak ini dipelintir menjadi alat sabotase, yang lahir hanyalah kerusakan. Demokrasi sehat menuntut kritik yang membangun, bukan provokasi yang menghancurkan.

Pemerintah harus belajar mendengar, rakyat harus kritis menuntut, dan elite politik harus berhenti mempermainkan emosi publik. Hanya dengan itu ruang demokrasi bisa kembali menjadi sarana perbaikan, bukan ajang pertarungan provokator.

Demokrasi Indonesia Demonstrasi Nasional Provokasi Politik Transparansi Kebijakan
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleSuara Moral yang Tersisa
Next Article Titik Kritis Kepemimpinan Prabowo

Informasi lainnya

Politisi dan Nafsu Menguasai Institusi

31 Januari 2026

Gaduh Ijazah dan Politik Adu Domba

26 Januari 2026

Warisan Masalah Era Jokowi

19 Januari 2026

ASEAN di Tengah Preseden Maduro

5 Januari 2026

Pasal Penghinaan Presiden Dinilai Rentan Bungkam Kritik

4 Januari 2026

Menguji Gelar Pahlawan Soeharto

13 November 2025
Paling Sering Dibaca

Bahaya Riba dalam Islam dan Cara Menghindarinya

Islami Ericka

Gegetuk, Jejak Manis Kuliner Sunda

Food Alfi Salamah

Merince Kogoya dan Batas Ekspresi

Editorial Udex Mundzir

Investigasi MUI Terhadap Al Zaytun Mencapai Tahap Penting, Fatwa Menanti!

Islami Adit Musthofa

Rahasia Ayam Goreng Kalasan yang Garing dan Manisnya Pas

Food Alfi Salamah
Berita Lainnya
Pendidikan
Lisda Lisdiawati28 Januari 2026

Workshop Transformasi Tugas Akhir menjadi Artikel Ilmiah di Politeknik Triguna

Gus Yaqut Disorot KPK di Balik Skema 50:50 Kuota Haji

Susu Dingin atau Hangat, Mana yang Lebih Baik untuk Tubuh?

Workshop Visi SMPN 1 Cisayong Tekankan Karakter Murid

Harga Tandan Buah Segar Sawit di Kaltim Turun Rp2.099,15 per Kilogram

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.