Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

36 Juta Warga Jabar Gunakan Handphone, Pers Ditantang Jaga Kredibilitas

Ratusan Lembaga di Indonesia, tapi Tak Ada Satupun yang Bisa Menjawab Tuntas Soal Ijazah Gibran

Demokrasi yang Mahal untuk Sekadar Mencari Kepastian

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Kamis, 25 Juni 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Kenaikan Harga BBM dan Tantangan Ketahanan Energi

Udex MundzirUdex Mundzir1 November 2024 Editorial
Kenaikan Harga Pertamina
Kenaikan Harga Pertamina (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Lagi-lagi, Pertamina menaikkan harga sejumlah BBM non-subsidi mulai 1 November 2024, termasuk produk populer seperti Pertamax Turbo, Pertamax Green 95, Dexlite, dan Pertamina DEX. Kebijakan ini diambil dengan mengikuti ketentuan terbaru Kementerian ESDM yang memperbarui formula perhitungan harga BBM berdasarkan harga minyak dunia, kurs dolar, dan beban operasional.

Kenaikan ini jelas berdampak pada masyarakat, mengingat BBM adalah kebutuhan yang tak terelakkan bagi sektor transportasi dan industri. Namun, di balik kebijakan ini, muncul pertanyaan yang semakin mengemuka: Bagaimana pemerintah menjamin ketahanan energi di tengah fluktuasi harga BBM yang terus terjadi?

Kenaikan harga BBM non-subsidi seperti Pertamax Turbo yang kini menjadi Rp13.500 per liter, atau Dexlite yang melonjak dari Rp12.700 menjadi Rp13.050 per liter, menambah beban biaya yang cukup signifikan bagi konsumen. Tidak hanya itu, kenaikan ini menciptakan ketimpangan antara harga BBM non-subsidi dan subsidi, mengingat harga Pertalite dan Solar bersubsidi tetap tidak berubah.

Pemerintah tampak menghadapi dilema antara menjaga daya beli masyarakat dengan mempertahankan ketahanan fiskal. Terlebih, menjaga stabilitas harga bahan bakar non-subsidi tanpa subsidi tambahan menjadi tantangan besar bagi pemerintah dalam menghadapi harga minyak global yang fluktuatif.

Kenaikan ini tidak hanya berdampak pada individu atau konsumen akhir, tetapi juga pada sektor industri dan transportasi yang mengandalkan BBM non-subsidi untuk operasional mereka. Biaya operasional yang meningkat berpotensi memicu inflasi, terutama pada harga barang dan jasa yang diangkut melalui transportasi darat.

Baca Juga:
  • UI di Puncak Ranking, Tercoreng Predator Tambang
  • Narasi Globalis dan Politik Ketakutan
  • Pimpinan Viral, Yang Menderita Rakyatnya.
  • Indonesia dan Dua Periode Jokowi yang Memalukan

Inflasi yang terjadi akibat kenaikan biaya transportasi, pada gilirannya, dapat memperburuk daya beli masyarakat yang sudah melemah. Dalam kondisi ekonomi yang masih dalam pemulihan, efek domino dari kenaikan harga BBM berpotensi menekan sektor-sektor yang paling rentan.

Pemerintah telah menyatakan niat untuk mencapai swasembada energi dalam jangka panjang, namun realisasi ini masih tampak jauh. Kenaikan harga BBM seolah menjadi pengingat bahwa ketergantungan pada impor minyak mentah tetap menjadi kelemahan yang serius bagi perekonomian Indonesia.

Walaupun pembangunan infrastruktur energi terbarukan telah digalakkan, misalnya dengan memperbanyak Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan peningkatan produksi biofuel, ketergantungan pada BBM fosil masih dominan.

Tanpa diversifikasi energi yang lebih agresif, tujuan swasembada energi akan sulit tercapai, terutama jika ketergantungan pada impor minyak mentah tidak dikurangi secara signifikan.

Solusi jangka pendek yang realistis adalah meningkatkan sinergi antara pemerintah dan Pertamina dalam upaya diversifikasi energi, terutama untuk sektor transportasi. Peningkatan fasilitas transportasi publik berbasis energi listrik perlu dipercepat, agar konsumsi BBM dapat ditekan.

Artikel Terkait:
  • Jamnas Bukan Ajang Si Punya Uang
  • Trump Berlagak Pahlawan Tapi Kesiangan
  • Garuda Diselamatkan, Tapi Sampai Kapan?
  • Gizi di Meja, Konglomerat di Pintu

Selain itu, pemberlakuan subsidi atau insentif bagi kendaraan listrik juga dapat menjadi salah satu cara mengurangi konsumsi BBM di sektor ritel. Pemerintah juga dapat mendorong program efisiensi energi di sektor industri, yang selama ini menjadi konsumen utama BBM non-subsidi.

Dalam jangka panjang, percepatan transisi ke energi terbarukan sangat krusial untuk meminimalisir dampak volatilitas harga minyak global terhadap perekonomian nasional. Pengembangan energi terbarukan, seperti biofuel berbasis kelapa sawit, perlu terus dikaji dan disempurnakan agar dapat diimplementasikan lebih luas tanpa mengorbankan lingkungan.

Selain itu, percepatan eksplorasi energi baru seperti hidrogen dan energi angin dapat dijadikan prioritas investasi jangka panjang bagi pemerintah. Investasi ini harus didukung kebijakan yang jelas dan insentif bagi sektor swasta agar turut terlibat aktif dalam mewujudkan kemandirian energi nasional.

Akhirnya, kenaikan harga BBM non-subsidi ini menggarisbawahi pentingnya peralihan dari bahan bakar fosil menuju energi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Pemerintah perlu memastikan agar setiap langkah dalam kebijakan energi mencerminkan visi yang kuat dan berorientasi pada keberlanjutan.

Jangan Lewatkan:
  • Ijazah Pejabat Harus Diverifikasi Ulang
  • Pemblokiran Rekening Tanpa Akal
  • Eksploitasi Konsumen: Kuota Hangus, Manipulasi Digital Terstruktur
  • Jangan Lupa! Palestina Dirampas, Israel Berdiri

Penyesuaian harga BBM adalah realitas ekonomi yang tak terhindarkan, tetapi dengan perencanaan yang baik, Indonesia dapat mencapai kemandirian energi tanpa harus bergantung pada volatilitas pasar internasional.

Harga BBM non-subsidi Ketahanan Energi Pertamina
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleDPRD Kaltim Mantapkan Langkah, Evaluasi Kinerja lewat Tiga Pokja
Next Article Harga BBM Pertamina, Shell, dan BP Kompak Naik, Begini Rinciannya

Informasi lainnya

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

12 Juni 2026

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026

Dosen: Akademisi atau Aparatur?

5 Mei 2026

MBG dan Risiko Cobra Effect

4 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

XL dan Smartfren Merger: Strategi Besar Telekomunikasi

Bisnis Assyifa

Pimpinan Viral, Yang Menderita Rakyatnya.

Editorial Udex Mundzir

Tren Paylater Melonjak, Saatnya Melek Finansial

Bisnis Ericka

Menjaga Keberkahan Rumah dalam Islam

Islami Udex Mundzir

Ketika Makkah Padat, Jamaah Haji Disarankan Ibadah di Hotel

Islami Alfi Salamah
Berita Lainnya
Ekonomi
Lisda Lisdiawati8 Desember 2025

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

Kemenhaj Umumkan Penyakit Tak Lolos Syarat Haji 2026

Modus Janji Cinta Diancam Penjara dalam KUHP Baru

Lari Rutin Tapi Berat Badan Naik? Ini Penyebabnya!

Gelombang PHK Global 2025: Amazon hingga Nestlé Pangkas Ribuan Pekerja

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Perlengkapan Pramuka Lengkap Buku Anak Islami Murah Mic Wireless Untuk Masjid
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi