Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

BI Kaltim Siapkan Rp2,18 T untuk Serambi 2026

Tim Kaltim Pantau Harga Pangan di Berau

Awal Ramadhan 1447 H Tunggu Sidang Isbat

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Kamis, 26 Februari 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Wibawa Prabowo Dipertanyakan, Siapa Pemimpin Sebenarnya?

Ketika pemimpin baru masih berada di bawah bayang-bayang pendahulunya, kapan kepemimpinan sejati benar-benar dimulai?
Udex MundzirUdex Mundzir21 Februari 2025 Editorial
Wibawa Prabowo Dipertanyakan dalam Konflik Retret Magelang
Wibawa Prabowo Dipertanyakan dalam Konflik Retret Magelang (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Retret kepala daerah di Akademi Militer (Akmil) Magelang menjadi panggung baru ketegangan politik di Indonesia. Mantan Presiden Joko Widodo menegaskan bahwa seluruh kepala daerah yang telah dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto wajib hadir dalam acara tersebut. Namun, Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, justru menginstruksikan kepala daerah dari partainya untuk tidak hadir.

Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar: di mana wibawa Prabowo sebagai presiden baru? Mengapa kebijakan pemerintahan ini masih terlihat seperti perpanjangan tangan Jokowi?

Seharusnya, ketika Prabowo resmi dilantik, kepemimpinan penuh ada di tangannya. Namun, fakta bahwa Jokowi masih memberi instruksi kepada kepala daerah dan mempengaruhi jalannya pemerintahan menunjukkan bahwa bayang-bayang mantan presiden itu masih begitu kuat.

Sejak awal, publik memang melihat bahwa pemerintahan Prabowo terbentuk atas kompromi besar. Koalisi gemuk yang dibangun bukan hanya untuk mengakomodasi partai-partai pendukungnya, tetapi juga untuk menjaga keseimbangan antara kekuatan lama dan baru. Dalam hal ini, loyalis Jokowi tetap mendapatkan tempat strategis di kabinet dan jalannya pemerintahan.

Namun, jika Prabowo ingin dikenal sebagai pemimpin yang mandiri dan berwibawa, saatnya mengambil alih kendali penuh.

Polemik retret Magelang semakin memperjelas bagaimana tarik-ulur kekuasaan masih terjadi. Megawati, dengan instruksinya yang melarang kepala daerah PDIP hadir, menunjukkan bahwa partai masih ingin menjaga jarak dari pemerintahan baru. Ini adalah sinyal bahwa PDIP ingin membangun oposisi yang lebih kuat setelah tidak lagi menjadi partai utama di pemerintahan.

Di sisi lain, Jokowi justru bertindak seolah masih memiliki otoritas atas kepala daerah, meskipun ia sudah tidak lagi menjabat sebagai presiden. Ini menjadi anomali dalam sistem pemerintahan, di mana seorang mantan presiden masih memiliki pengaruh yang begitu besar dalam kebijakan eksekutif.

Dari sudut pandang politik, ini menimbulkan dilema bagi Prabowo. Jika ia terlalu tunduk pada arahan Jokowi, maka publik akan melihatnya sebagai presiden yang hanya melanjutkan agenda pemerintahan sebelumnya tanpa inovasi berarti. Sebaliknya, jika ia mengambil langkah konfrontatif, maka stabilitas politiknya bisa terganggu di awal masa pemerintahan.

Sebagai presiden yang baru saja dilantik, Prabowo memiliki kesempatan untuk membuktikan bahwa ia adalah pemimpin sejati, bukan sekadar penerus yang masih berada di bawah bayang-bayang Jokowi. Ada beberapa langkah yang harus ia ambil jika ingin memperkuat posisinya.

Pertama, menegaskan otoritasnya secara mandiri. Prabowo harus memastikan bahwa setiap kebijakan yang diambil adalah hasil keputusannya sendiri, bukan sekadar melanjutkan arahan dari presiden sebelumnya. Jika retret di Magelang memang strategis bagi pemerintahan, Prabowo sendiri yang harus menjelaskan urgensinya, bukan Jokowi.

Kedua, memutus ketergantungan pada figur lama. Pemerintahan baru harus memiliki karakter dan identitasnya sendiri. Jika terlalu banyak bergantung pada pengaruh Jokowi, Prabowo akan kesulitan membangun citranya sebagai pemimpin yang kuat.

Ketiga, mengelola koalisi dengan tegas. Prabowo memang memimpin koalisi besar, tetapi ia harus mampu menyeimbangkan berbagai kepentingan tanpa kehilangan kendali. Jika tidak, ia akan terus terlihat sebagai presiden yang lebih banyak mengikuti arus daripada mengendalikan arah.

Keempat, membuktikan kepemimpinan dengan kebijakan nyata. Alih-alih sibuk dengan tarik-ulur kekuasaan antara Jokowi dan Megawati, Prabowo seharusnya fokus pada kebijakan-kebijakan yang membuktikan bahwa ia memiliki visi sendiri untuk Indonesia.

Saat ini, Prabowo berada di persimpangan sejarah. Ia bisa memilih untuk menjadi pemimpin yang kuat dan mandiri, atau terus berada dalam orbit kekuasaan lama.

Jika ia terus membiarkan Jokowi mengambil peran dominan dalam kebijakan pemerintahan, maka wibawanya sebagai presiden akan terus dipertanyakan. Masyarakat tidak hanya ingin melihat kontinuitas pemerintahan, tetapi juga kepemimpinan yang tegas dan jelas arahnya.

Pada akhirnya, pertanyaan terbesar yang muncul dari polemik ini bukanlah apakah kepala daerah harus menghadiri retret di Magelang atau tidak. Pertanyaan sebenarnya adalah: siapa yang benar-benar memimpin Indonesia saat ini?

Jokowi Kepemimpinan Nasional Megawati Soekarnoputri Prabowo Subianto Retret Magelang
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleBupati Kukar: Posyandu Jadi Garda Terdepan Cegah Stunting
Next Article Menjaga Privasi: Kunci Hidup Damai dan Bebas Drama

Informasi lainnya

Ketika Narkoba Dilindungi Oknum

15 Februari 2026

Politisi dan Nafsu Menguasai Institusi

31 Januari 2026

Gaduh Ijazah dan Politik Adu Domba

26 Januari 2026

Warisan Masalah Era Jokowi

19 Januari 2026

ASEAN di Tengah Preseden Maduro

5 Januari 2026

Bupati Aceh Utara Pertanyakan Absennya Presiden Saat Banjir

30 Desember 2025
Paling Sering Dibaca

Asal-Usul Tradisi Memberi Takjil di Bulan Ramadan

Islami Ericka

PLN Targetkan 1.100 SPKLU Baru untuk Dukung Kendaraan Listrik 2025

Techno Silva

Rp10 Ribu, Antara Anggaran dan Harapan

Opini Alfi Salamah

Luangkan Waktu untuk Ngobrol, Bikin Istri Bahagia

Happy Silva

Modal Waktu

Gagasan Syamril Al-Bugisyi
Berita Lainnya
Nasional
Lisda Lisdiawati5 Februari 2026

Ramadan 2026: Kemenag Tetapkan Batas Volume Toa Masjid

Limbah Kelapa Muda Menumpuk, Teh Ros Tawarkan Gratis

Haji 2026 Diperketat, Jemaah Tak Sehat Terancam Gagal Berangkat

Pelaku UMKM Kesulitan Jadi Mitra MBG, Syarat Dinilai Berat

Layanan Legalisasi Apostille, Langkah Terbaru Ditjen AHU

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot thailand slot gacor slot gacor slot gacor