Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

BI Kaltim Siapkan Rp2,18 T untuk Serambi 2026

Tim Kaltim Pantau Harga Pangan di Berau

Awal Ramadhan 1447 H Tunggu Sidang Isbat

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Rabu, 25 Februari 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

RK vs Lisa: Viral yang Disusun Rapi

Ketika isu pribadi dijadikan tontonan publik lewat strategi digital, yang dikorbankan adalah akal sehat dan ruang demokrasi.
Udex MundzirUdex Mundzir13 April 2025 Editorial
Strategi Digital dalam Kasus RK vs Lisa
Ilustrasi Strategi Digital dalam Kasus RK vs Lisa
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Viral tidak selalu datang dari kejutan. Kadang justru lahir dari skenario yang dirancang, dipoles, lalu disebar dengan pola yang presisi. Kasus antara Ridwan Kamil dan Lisa Mariana, yang meledak di media sosial sejak akhir Maret 2025, menunjukkan bagaimana manajemen isu pribadi bisa berubah menjadi alat produksi opini publik secara masif.

Data science menelanjangi skemanya. Berdasarkan analisis tim @oyusep dan @kawaldata, grafik mentions kasus ini melonjak tajam dari 27 Maret hingga 2 April, lalu sempat turun, sebelum kembali meroket pada 11 April—persis saat Lisa Mariana menggelar konferensi pers. Fenomena ini disebut pola “Viral + Rebound”, strategi digital klasik untuk menghidupkan isu lebih lama dengan momentum yang sengaja dipilih.

Angka-angka menunjukkan tren. Puncak pertama mencapai lebih dari 19.000 mentions dalam sehari. Ketika mulai redup, klarifikasi dilempar, dan gelombang kedua membuncah hingga 12.000 lebih. Dalam jagat media sosial yang gaduh, angka sebesar itu mustahil terjadi secara spontan, apalagi untuk isu personal tanpa pengaruh struktural.

Publik tak sedang menyaksikan drama. Mereka sedang dijadikan audiens dari narasi yang dikendalikan.

Jika ini murni kasus hukum atau konflik rumah tangga, maka emosi dominan seharusnya adalah sedih, cemas, atau prihatin. Tapi data menunjukkan dominasi emosi marah dan netral. Artinya, audiens tidak bergerak karena empati, melainkan karena terpancing atau bahkan ikut bercanda.

Inilah cara kerja kampanye digital hari ini: pancing reaksi, dorong massa, dan ulangi dengan narasi baru. Saat emosi terkumpul, mereka mudah digiring ke mana saja.

Kasus RK vs Lisa tak lagi bisa dilihat sebagai gosip selebritas atau skandal elite lokal. Ia telah menjelma jadi eksperimen sosial tentang bagaimana algoritma dan strategi komunikasi bisa membentuk percakapan nasional. Opini publik bukan lagi hasil refleksi sosial, tapi hasil produksi algoritma.

Dan kita semua menjadi konsumen setianya.

Yang perlu ditanyakan adalah: siapa yang bermain? Siapa yang diuntungkan? Dan apa yang sebenarnya coba dialihkan dari perhatian publik?

Apakah ini pengalihan dari isu ekonomi? Dari kegagalan program pemerintah? Atau sekadar manuver internal untuk menggoyang posisi politik?

Kita tak sedang mencari pembenaran atau menyalahkan satu pihak. Kita sedang mempersoalkan metode. Dalam negara demokrasi, strategi politik boleh dilakukan. Tapi jika dilakukan dengan mengorbankan akal sehat publik dan mempermainkan ruang digital, maka itu bukan strategi, itu manipulasi.

Apalagi jika dilakukan oleh atau demi tokoh politik aktif yang digadang-gadang naik panggung lebih tinggi.

Pola ini berbahaya jika dibiarkan. Sebab ia bisa jadi template: ambil satu isu personal, buat viral, kendalikan grafik, tunggu gelombang kedua, lalu tutupi semua isu serius dengan satu drama digital.

RK vs Lisa hanyalah satu episode. Tapi dampaknya melampaui keduanya. Yang dipertaruhkan bukan reputasi personal, tapi ketahanan nalar publik. Jika setiap opini publik bisa digiring semudah itu, maka demokrasi hanya jadi ilusi, dan kebenaran tinggal narasi yang kalah populer.

Kampanye Digital Lisa Mariana Manipulasi Opini Ridwan Kamil Viralitas Terstruktur
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleBupati Kukar Tinjau dan Salurkan Bantuan Banjir di Loa Kulu
Next Article Rakyat Jabar Dijadikan Figuran “Bapak Aing”

Informasi lainnya

Ketika Narkoba Dilindungi Oknum

15 Februari 2026

Politisi dan Nafsu Menguasai Institusi

31 Januari 2026

Gaduh Ijazah dan Politik Adu Domba

26 Januari 2026

Warisan Masalah Era Jokowi

19 Januari 2026

ASEAN di Tengah Preseden Maduro

5 Januari 2026

Menguji Gelar Pahlawan Soeharto

13 November 2025
Paling Sering Dibaca

Hukum Mencium Tangan dan Berdiri untuk Menghormati dalam Islam

Islami Ericka

Demokrasi Tak Boleh Kalah Oleh Lumpur

Editorial Udex Mundzir

Asal-Usul Shalat Tarawih 8 Rakaat Plus Witir 3 Rakaat

Islami Ericka

Makan Siang Gratis, Solusi Nutrisi?

Opini Lina Marlina

Gaya Politik Kekanak-Kanakan Ala RIDO

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Nasional
Lisda Lisdiawati5 Februari 2026

Ramadan 2026: Kemenag Tetapkan Batas Volume Toa Masjid

Limbah Kelapa Muda Menumpuk, Teh Ros Tawarkan Gratis

Haji 2026 Diperketat, Jemaah Tak Sehat Terancam Gagal Berangkat

Pelaku UMKM Kesulitan Jadi Mitra MBG, Syarat Dinilai Berat

BMKG Ingatkan Hujan Lebat 15-21 Februari

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot thailand slot gacor slot gacor slot gacor