Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Rekening Botok Dibuka Lagi Usai Klarifikasi Polisi

Kwarnas Dorong Jutaan Jam Bakti Pramuka Tercatat Global

Aura Farming Viral, Mengapa Semua Ingin Terlihat Keren?

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Kamis, 27 Agustus 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Jurnalisme di Bawah Bayang Algoritma

Ketika kecerdasan buatan masuk ke ruang redaksi, pertanyaan tentang nalar, etika, dan masa depan jurnalisme tak bisa lagi ditunda.
Udex MundzirUdex Mundzir24 April 2025 Editorial
Dampak AI terhadap Jurnalisme Modern
Ilustrasi Dampak AI terhadap Jurnalisme Modern (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Teknologi berkembang lebih cepat dari cara kita menafsirkan dampaknya. Termasuk dalam dunia jurnalisme. Hari ini, kecerdasan buatan (AI) bukan lagi gagasan futuristik, tapi kenyataan yang menyusup diam-diam ke ruang redaksi.

AI tidak hanya digunakan untuk mentranskrip wawancara atau menyusun headline. Ia kini terlibat dalam menyusun narasi, memindai ribuan dokumen, bahkan memberi saran editorial.

CNN Indonesia menulis, dalam satu eksperimen sederhana, transkrip wawancara yang biasanya memakan waktu seharian, bisa diselesaikan hanya dalam lima menit dengan bantuan AI. Hemat waktu, hemat tenaga.

Tapi di balik kecepatan itu, ada kegelisahan. Apakah efisiensi yang ditawarkan AI akan mengorbankan intuisi jurnalistik? Apakah nalar editorial akan tergantikan oleh algoritma?

Media besar dunia sudah lebih dulu mengadopsi teknologi ini. The Washington Post punya sistem Heliograf. Wall Street Journal memanfaatkan AI untuk analisis data pasar. Di Norwegia, surat kabar lokal iTromsø meluncurkan DJINN, sistem yang membantu liputan investigatif berbasis dokumen publik.

Hasilnya positif. iTromsø bahkan mencatat kenaikan pembaca hingga 33 persen. Tapi keberhasilan itu lahir bukan hanya karena teknologinya. Tapi karena sistem itu dipandu oleh jurnalis, bukan digantikan oleh mesin.

AI adalah alat. Tapi seperti semua alat, ia membawa logikanya sendiri. Dalam hal ini, logika statistik, bukan logika editorial.

Logika yang dibentuk dari pola data, bukan intuisi kemanusiaan. Ketika berita disusun berdasarkan yang “paling mungkin dibaca”, maka nilai keberpihakan dan keberanian mengangkat isu minoritas bisa tersingkir.

Inilah yang menjadi kekhawatiran utama. AI tidak punya empati. Ia tidak tahu mana suara yang terpinggirkan. Ia hanya mengenali pola. Ia bekerja berdasarkan kemungkinan, bukan kebutuhan publik.

Baca Juga:
  • Kenaikan Harga BBM dan Tantangan Ketahanan Energi
  • Wartawan Gadungan, Luka di Wajah Jurnalisme
  • PKS dan Strategi Politik yang Memukul Balik
  • Menguji Gelar Pahlawan Soeharto

Saat media sosial sudah membentuk pola konsumsi yang dangkal dan cepat, AI berisiko memperparahnya. Jika digunakan tanpa nalar kritis, berita hanya akan menjadi konten yang mengikuti tren, bukan pengetahuan yang membentuk opini publik.

Dewan Pers Indonesia menyadari tantangan ini. Pada Januari 2025, mereka menerbitkan Pedoman Penggunaan AI dalam Jurnalistik. Intinya jelas: AI bukan pengganti manusia. Setiap konten yang dibuat dengan bantuan AI harus transparan.

Langkah ini penting. Tapi belum cukup. Kita butuh kesadaran yang lebih dalam: bahwa jurnalisme tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada mesin, secerdas apa pun algoritmanya.

AI memang bisa menyusun teks. Tapi ia tidak bisa membaca nuansa. Ia tidak memahami ironi. Ia tidak tahu bahwa satu kutipan bisa mengubah arah narasi.

Inilah mengapa AI hanya bisa memperkuat jurnalisme jika diarahkan dengan benar. Ia bisa membantu jurnalis, tapi tidak menggantikan kerja investigasi yang membutuhkan intuisi, empati, dan keberanian.

Nikita Roy, peneliti AI dan pendiri Newsroom Robots, mengatakan bahwa AI bukan ancaman, tapi transformasi. Seperti peralihan dari cetak ke digital. Dulu ditakuti, kini jadi infrastruktur.

Ia menekankan pentingnya agar jurnalis tetap “relevan.” Jangan terlambat memahami gelombang teknologi. Karena sejarah menunjukkan, media sering kali gagap merespons perubahan besar.

Kegagapan itu harus dicegah sekarang. Melalui pelatihan. Melalui literasi digital. Dan yang paling penting: melalui pembentukan etika baru dalam penggunaan teknologi redaksi.

Etika baru itu harus menjawab tantangan utama: bagaimana memastikan AI tidak memperkuat bias? Bagaimana agar akurasi tetap menjadi fondasi, bukan sekadar kecepatan?

Artikel Terkait:
  • Buruh Sejahtera, Pengusaha Tertekan
  • Provokator di Balik Api Jalanan
  • Dosen: Akademisi atau Aparatur?
  • Sekolah Bukan Mesin Hafalan

Studi Reuters Institute menunjukkan bahwa AI bisa memperkuat kerja jurnalistik jika digunakan untuk tugas-tugas teknis. Transkrip, ringkasan, pencarian data. Sementara jurnalis fokus pada peliputan yang bersifat investigatif dan analitis.

Tapi realitas di lapangan tidak selalu seideal itu. Media seringkali tergoda untuk menyingkat proses. Menyerahkan penyusunan teks kepada AI tanpa verifikasi. Hasilnya, berita kehilangan konteks. Narasi kehilangan kedalaman.

Ini bukan hanya soal teknologi. Ini soal tanggung jawab. Jika kita menyerahkan semua kepada mesin, maka kita tak ubahnya sekadar operator algoritma. Bukan lagi jurnalis.

Di Indonesia, ancaman lain datang dari ketimpangan. Media besar mungkin punya akses ke AI, tapi media komunitas dan lokal belum tentu. Tanpa akses yang adil, ketimpangan kualitas konten akan makin lebar.

Itu sebabnya, perlu dukungan kebijakan. Pemerintah bisa memfasilitasi pelatihan teknologi untuk jurnalis daerah. Kampus jurnalistik harus memasukkan AI sebagai bagian dari kurikulum. Literasi AI adalah syarat mutlak bagi generasi jurnalis baru.

Tak kalah penting, industri media harus membangun konsorsium berbasis kolaborasi. AI bersifat mahal dan kompleks. Tapi jika dikembangkan bersama, sumber dayanya bisa dibagi. Tak perlu semua redaksi membangun sistemnya sendiri.

Kita butuh pendekatan kolektif. AI jangan hanya jadi alat kompetisi. Ia harus menjadi infrastruktur publik untuk memperkuat ekosistem informasi yang adil.

Jangan Lewatkan:
  • Generasi Emas, Fondasi Kelas Kacau
  • Menghapus Jerat Judi Online Pasca Pilkada
  • Eksploitasi Konsumen: Kuota Hangus, Manipulasi Digital Terstruktur
  • Nasaruddin Umar di Puncak Kepuasan Publik

Masyarakat pun perlu diajak memahami bahwa berita yang dibuat dengan bantuan AI tetap membutuhkan proses editorial manusia. Transparansi dalam proses ini akan menjaga kepercayaan publik.

AI bukan akhir dari jurnalisme. Ia bisa menjadi awal dari babak baru. Tapi hanya jika kita mampu mengarahkan teknologi itu untuk memperkuat, bukan menggantikan, nalar jurnalistik.

Etika Media Jurnalisme Digital Jurnalisme Investigatif Kecerdasan Buatan Transformasi Teknologi
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleKCE 2025 Dorong Hilirisasi Kopi Lokal Kukar
Next Article PDIP Ragukan Usulan Solo Jadi Provinsi: Tak Ada Urgensi Nyata

Informasi lainnya

Robot Masuk Rumah, Siap Berbagi Ruang?

23 Agustus 2026

Chatbot Jadi Sahabat, Kesepian Bisa Hilang?

20 Agustus 2026

AI Fatigue, Saat Dunia Mulai Lelah Membicarakan AI

19 Agustus 2026

Hibah untuk Aparat, Buat Apa?

12 Juli 2026

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

12 Juni 2026

Pose Jari V Saat Selfie Disebut Simpan Risiko Siber

9 Juni 2026
Paling Sering Dibaca

Benturan Kekuasaan dan Kemanusiaan

Perspektif Assyifa

Menjaga Lisan

Islami Syamril Al-Bugisyi

Demokrasi yang Mahal untuk Sekadar Mencari Kepastian

Perspektif Udex Mundzir

Menembus Gelap

Travel Udex Mundzir

Rebung Lebih Sehat dari Dugaan

Food Lisda Lisdiawati
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Ujian Tatap Muka UT di Tasikmalaya Berjalan Tertib dan Ketat

Gunung Raung Erupsi, Warga Diminta Jauhi Kawah dalam Radius Tiga Kilometer

Tugu Titik Nol IKN Bertuliskan ‘Lorem Ipsum’, Jadi Simbol Ibu Kota yang Masih ‘Draft’

Lari Rutin Tapi Berat Badan Naik? Ini Penyebabnya!

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Produk Dapur Terlaris Buku Anak Islami Murah Perlengkapan Pramuka Lengkap
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi