Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Politisi dan Nafsu Menguasai Institusi

Aphrodisias: Kota Dewi Cinta yang Abadi

Ma Eroh, Perempuan Bertangan Batu

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Senin, 2 Februari 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Mas Isman, Komandan Rakyat Muda

Ia tak memilih kenyamanan birokrasi, tapi medan laga bersama pelajar demi kemerdekaan yang nyata dan merata.
Alfi SalamahAlfi Salamah29 Januari 2026 Profil
Mayor Jenderal TNI Isman
Taman Nasional Mas Isman (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Sosok militer ini tidak hanya dikenal karena pangkatnya, tetapi karena semangatnya memimpin pasukan pelajar di garis depan kemerdekaan. Mayor Jenderal TNI (Purn.) Mas Isman adalah figur penting dalam sejarah Indonesia, yang kiprahnya mencerminkan keberanian, pengabdian, dan komitmen terhadap rakyat, terutama generasi muda.

Ia bukan sekadar tentara, tetapi penggerak. Ia bukan hanya pejuang, tapi juga pendidik dan pemimpin. Dari medan perang hingga meja diplomasi, Mas Isman konsisten memperjuangkan Indonesia yang merdeka, adil, dan berdaulat.

Memimpin Pasukan Pelajar di Medan Tempur

Lahir pada 1 Januari 1924 di Bondowoso, Jawa Timur, Mas Isman mulai dikenal luas saat memimpin Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) di Jawa Timur. TRIP merupakan satuan militer yang beranggotakan para pelajar yang memilih angkat senjata untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang baru diproklamasikan.

Ia adalah tokoh penting di balik transformasi BKR/TKR Pelajar menjadi pasukan formal yang diakui struktur militer Republik. Di bawah komandonya, TRIP menjadi kekuatan yang disegani dan menunjukkan bahwa semangat nasionalisme bisa menyala kuat di dada para remaja Indonesia.

Pertempuran Jalan Salak dan Legenda TRIP

Mas Isman memimpin pertempuran-pertempuran penting, salah satunya adalah peristiwa heroik di Jalan Salak, Malang yang kini dikenal sebagai Jalan TRIP. Pertempuran ini menjadi simbol pengorbanan pemuda dalam mempertahankan kemerdekaan, sekaligus menegaskan bahwa TRIP bukan pasukan main-main, melainkan kekuatan strategis dalam revolusi.

Kepemimpinan Isman dicirikan oleh keberanian dan kedekatan dengan pasukannya. Ia turun langsung ke lapangan, bukan sekadar memberi perintah dari belakang. Hal inilah yang membuatnya dihormati bukan hanya sebagai komandan, tetapi sebagai rekan seperjuangan.

Dari Pejuang ke Diplomat

Setelah perjuangan bersenjata mereda, Mas Isman tidak lantas pensiun dari pengabdian. Ia masuk ke dunia birokrasi dan diplomasi dengan semangat yang sama. Pada 1956–1958, ia bertugas di Kantor Perdana Menteri, sebelum kemudian menjadi delegasi Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Karier diplomatiknya berlanjut sebagai Duta Besar RI untuk negara-negara penting seperti Myanmar, Thailand, dan Mesir. Dalam tugas-tugas ini, Isman membawa semangat Indonesia merdeka ke dunia internasional, sekaligus membangun jaringan diplomatik penting pascakemerdekaan.

Politik dan Perjuangan Ekonomi Kerakyatan

Tak berhenti di situ, Mas Isman juga aktif dalam dunia politik. Ia menjadi anggota DPR/MPR RI hingga akhir hayatnya. Namun salah satu warisan terpentingnya adalah pendirian KOSGORO (Kesatuan Organisasi Serbaguna Gotong Royong) pada 10 November 1957.

Organisasi ini bergerak di bidang koperasi dan ekonomi rakyat, menjadi wadah penguatan ekonomi berbasis gotong royong yang sangat dibutuhkan Indonesia pada masa transisi pascakemerdekaan. Di tengah politik yang penuh manuver, Mas Isman memilih jalur penguatan rakyat melalui ekonomi kerakyatan.

Sosok Rendah Hati dan Egaliter

Di tengah prestasinya yang besar, Mas Isman tetap dikenal sebagai pribadi sederhana dan merakyat. Ia tidak meminta dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, tetapi di pemakaman umum Tanah Kusir, agar rakyat bisa lebih mudah berziarah.

Itu bukan sekadar gestur simbolik, tapi mencerminkan keyakinannya bahwa seorang pejuang sejati tidak pernah terpisah dari rakyat. Bahkan setelah wafat pada 12 Desember 1982, warisannya tetap hidup melalui semangat gotong royong dan perlawanan rakyat yang ia tanamkan.

Pengakuan sebagai Pahlawan Nasional

Pada 5 November 2015, Presiden Joko Widodo menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Mas Isman. Ini bukan sekadar penghargaan atas jasa masa lalu, tetapi pengakuan terhadap nilai-nilai perjuangan yang relevan hingga hari ini: kepemimpinan, keberanian, kesetiaan kepada rakyat, dan pengabdian tanpa pamrih.

Gelar itu juga menjadi pengingat bahwa Indonesia dibangun oleh banyak tangan termasuk tangan-tangan muda yang dulu menggenggam senjata di bawah komando Mas Isman, bukan demi kuasa, tapi demi kemerdekaan sejati.

Inspirasi bagi Generasi Muda

Mas Isman memberi teladan bahwa perjuangan bukan hanya milik mereka yang berusia matang. Ia menunjukkan bahwa pemuda bisa menjadi motor utama perubahan ketika diberi ruang, kepercayaan, dan visi.

Di tengah tantangan masa kini ketimpangan sosial, kemiskinan struktural, dan degradasi moral politik teladan Mas Isman semakin penting. Ia tak membangun dinasti atau menumpuk kekayaan, tapi membangun institusi, solidaritas, dan cita-cita.

Mas Isman adalah gambaran lengkap dari seorang pemimpin: hadir di masa genting, berpikir jauh ke depan, dan tetap berpihak pada rakyat hingga akhir hayatnya.

Kemerdekaan Indonesia Mas Isman Pahlawan Nasional Profil Tokoh Sejarah Indonesia
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleWorkshop Transformasi Tugas Akhir menjadi Artikel Ilmiah di Politeknik Triguna
Next Article Göbekli Tepe: Terungkapnya Misteri Peradaban Tertua

Informasi lainnya

Ma Eroh, Perempuan Bertangan Batu

31 Januari 2026

Malahayati, Laksamana Laut Perempuan

30 Januari 2026

Göbekli Tepe: Terungkapnya Misteri Peradaban Tertua

29 Januari 2026

S.K. Trimurti: Suara Perempuan Merdeka

28 Januari 2026

Tan Malaka: Pejuang Tanpa Mahkota

27 Januari 2026

Dari Sel Penjara ke Ruang Sidang

24 Januari 2026
Paling Sering Dibaca

Taksi Terbang IKN: Mimpi yang Terbang Terlalu Tinggi

Editorial Udex Mundzir

Shin Tae Yong Beri Dampak Positif pada Sepak Bola Indonesia

Kroscek Alfi Salamah

Tips Belajar Efektif untuk Anak-anak

Daily Tips Alfi Salamah

Prabowo-Gibran dan Propaganda 78% Publik Puas

Editorial Udex Mundzir

Selamat Tinggal Agustus Kelabu: Tinggalkan Joget-joget di Istana

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Pendidikan
Lisda Lisdiawati28 Januari 2026

Workshop Transformasi Tugas Akhir menjadi Artikel Ilmiah di Politeknik Triguna

Susu Dingin atau Hangat, Mana yang Lebih Baik untuk Tubuh?

Workshop Visi SMPN 1 Cisayong Tekankan Karakter Murid

Eka Cahya Prima Jadi Profesor Fisika Termuda di UPI

Harga Tandan Buah Segar Sawit di Kaltim Turun Rp2.099,15 per Kilogram

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.