Kisah inspiratif sahabat Nabi banyak mewarnai perjalanan umat Islam hingga hari ini. Salah satu yang paling menarik adalah sosok Abdurrahman bin Auf seorang sahabat yang kaya luar biasa, namun tetap hidup sederhana dan sangat dermawan. Di tengah godaan dunia, ia justru menjadi teladan tentang bagaimana seorang Muslim seharusnya menyikapi kekayaan.
Pedagang Ulung Sejak Datang ke Madinah
Abdurrahman bin Auf berasal dari kalangan bangsawan Quraisy dan termasuk dalam delapan orang pertama yang memeluk Islam. Saat berhijrah ke Madinah, ia tak membawa harta benda apa pun. Ia bahkan memulai dari nol—tanpa modal, tanpa koneksi, hanya dengan semangat dan keimanan yang kokoh.
Saat tiba di Madinah, Rasulullah SAW mempersaudarakannya dengan Sa’ad bin Rabi’, salah satu sahabat Anshar yang kaya raya. Sa’ad menawarkan setengah dari hartanya kepada Abdurrahman, namun ia menolak dengan halus, seraya berkata: “Tunjukkan padaku di mana pasar.”
Kalimat itu legendaris. Dalam waktu singkat, Abdurrahman sukses berdagang di pasar Madinah dengan kejujuran dan ketekunannya. Ia dikenal tak pernah menipu, tidak menimbun barang, dan selalu mengedepankan etika dalam berbisnis.
Kekayaan yang Melimpah, Derma yang Melebihi Logika
Kekayaan Abdurrahman bin Auf begitu besar hingga disebut-sebut bahwa hartanya bisa memberi makan seluruh penduduk Madinah. Namun yang lebih menakjubkan, ia tidak pernah menahan harta itu untuk dirinya sendiri. Justru sebaliknya ia menjadi orang yang sangat dermawan hingga sulit ditandingi.
Dalam beberapa riwayat disebutkan:
- Ia menyumbangkan 700 ekor unta penuh muatan dagangan kepada pasukan Islam.
- Ia pernah mendermakan 40.000 dinar emas sekaligus.
- Ia menyumbang 500 ekor kuda perang dan 1.500 unta untuk jihad fi sabilillah.
Bahkan ketika meninggal, ia mewariskan harta dalam jumlah besar yang dibagikan kepada para pejuang Badar dan keluarga Nabi.
Yang menarik, ia tidak hidup dalam kemewahan pribadi. Makanannya biasa, pakaiannya sederhana, dan rumahnya tak mencolok. Ia menolak hidup mewah walau semua fasilitas ada padanya.
Zuhud di Tengah Kekayaan: Mungkinkah?
Zuhud bukan berarti tidak punya harta. Zuhud artinya tidak menjadikan harta sebagai tujuan utama hidup. Abdurrahman bin Auf adalah bukti hidup bahwa seseorang bisa sangat kaya, namun tetap zuhud.
Rasulullah SAW pernah bersabda:
“Tidak akan bergeser kaki anak Adam di hari kiamat sebelum ditanya tentang empat hal: tentang hartanya, dari mana ia peroleh, dan ke mana ia belanjakan…” (HR. Tirmidzi)
Abdurrahman bin Auf sangat sadar akan hal ini. Karena itulah, ia menggunakan hartanya untuk membantu kaum miskin, mendukung perjuangan Islam, membebaskan budak, serta merawat keluarga Nabi SAW. Ia takut kekayaannya menjadi beban di akhirat.
Ketika Abdurrahman Menangis di Akhir Hidupnya
Di akhir hayatnya, Abdurrahman bin Auf justru menangis ketika menyadari betapa besar hartanya. Ia khawatir bahwa terlalu banyak hartanya yang belum sempat ia infakkan. Ia berkata: “Aku khawatir semua kenikmatan ini adalah bagian dari balasan yang dipercepat di dunia.”
Tangisan itu menunjukkan betapa dalam rasa takutnya kepada Allah. Ia tak terlena dengan pujian orang, tak merasa bangga dengan kekayaannya, justru semakin takut jika hartanya membuatnya lalai dari akhirat.
Inilah wajah sejati seorang Muslim yang sukses dunia tapi tidak lepas dari nilai-nilai ukhrawi.
Pelajaran Besar di Zaman Kapitalistik
Di zaman sekarang, harta sering jadi tolok ukur keberhasilan, bahkan di kalangan umat Islam sendiri. Sayangnya, banyak yang kaya tapi tidak peduli pada zakat, enggan berbagi, dan lebih sibuk memamerkan kekayaan daripada menjadikannya ladang pahala.
Kisah Abdurrahman bin Auf menjadi sangat relevan. Ia menunjukkan bahwa Islam tak melarang kekayaan, bahkan mendorong umatnya untuk sukses dalam bisnis dan ekonomi. Tapi kekayaan itu harus menjadi alat, bukan tujuan.
Bayangkan jika hari ini para konglomerat Muslim memiliki jiwa seperti Abdurrahman bin Auf: tak hanya menyumbang, tapi juga terlibat aktif dalam membangun kesejahteraan umat, pendidikan, ekonomi, hingga dakwah.
Sosok yang Dirindukan Rasulullah
Rasulullah SAW sangat mencintai Abdurrahman bin Auf. Beliau pernah berkata: “Abdurrahman bin Auf adalah orang yang amanah dan terpercaya di sisi Allah dan Rasul-Nya.”
Ia juga salah satu dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga (Asyrah al-Mubasysyirah). Meski demikian, ia tidak pernah menyombongkan status itu. Ia justru lebih takut, lebih tawadhu, dan lebih dermawan dari sebelumnya.
Rasa amanah, rendah hati, dan derma inilah yang menjadikannya sangat dirindukan oleh Rasulullah dan para sahabat. Bahkan Aisyah RA, istri Nabi, pernah berkata bahwa jika ada orang yang bisa menyaingi Abu Bakar dalam kedermawanan, maka itu adalah Abdurrahman bin Auf.
Kaya Boleh, Tapi…
Abdurrahman bin Auf adalah simbol bahwa seorang Muslim bisa sukses dunia tanpa kehilangan arah ke akhirat. Justru dengan hartanya, ia memperjuangkan agama dan membantu ribuan jiwa.
Di tengah krisis moral dan ketimpangan ekonomi hari ini, semangat Abdurrahman bin Auf harus dihidupkan kembali. Ia bukan sekadar tokoh sejarah, tapi cermin nilai Islam yang sesungguhnya: kerja keras, kejujuran, dan pengabdian sosial.
Bagi para pengusaha Muslim, pejabat, dan siapa pun yang diberi rezeki lebih, jadikan Abdurrahman bin Auf sebagai teladan. Bukan hanya kaya, tapi juga bermanfaat dan takut kepada Allah.
