Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Ramadan 2026: Kemenag Tetapkan Batas Volume Toa Masjid

BPS Catat Ekonomi Indonesia 2025 Tumbuh 5,11 Persen

Rebung Lebih Sehat dari Dugaan

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Kamis, 5 Februari 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Antara Harapan dan Kekecewaan

Dilema kinerja Shin Tae-yong mencerminkan tantangan reformasi sepak bola Indonesia: membangun dengan visi jangka panjang atau menuruti tekanan hasil instan.
Udex MundzirUdex Mundzir26 Desember 2024 Editorial
Shin Tae-yong menghadapi kegagalan timnas Indonesia di Piala ASEAN 2024 serta tantangan reformasi sepak bola nasional.
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Kegagalan tim nasional Indonesia lolos ke semifinal Piala ASEAN 2024 telah membuka babak baru dalam perdebatan publik tentang masa depan pelatih Shin Tae-yong (STY). Pelatih asal Korea Selatan yang mulai memimpin timnas sejak 2019 ini kini menghadapi tagar #STYOut yang menggema di media sosial. PSSI, melalui ketuanya Erick Thohir, menjanjikan evaluasi menyeluruh, sementara pengamat menilai laga melawan Australia dalam kualifikasi Piala Dunia 2026 akan menjadi ujian terakhir bagi STY.

Namun, di balik tagar dan kritik yang berseliweran, ada pertanyaan mendasar yang harus dijawab: Apakah kita menilai kinerja STY secara adil? Di satu sisi, ia membawa angin segar dengan pendekatan profesional dan fokus pada regenerasi. Di sisi lain, kegagalan memenuhi target seperti di Piala ASEAN 2024 menjadi noda besar dalam perjalanan kariernya bersama Indonesia.

Salah satu kritik utama adalah kebijakan naturalisasi pemain diaspora. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah dan PSSI telah memanfaatkan aturan FIFA untuk menaturalisasi 17 pemain. Sebagian besar berasal dari Belanda dengan latar belakang keluarga Indonesia. Namun, program ini mendapat sorotan tajam karena dianggap tidak berdampak signifikan pada peningkatan kualitas permainan timnas. Dalam laga melawan Bahrain pada Oktober 2024, 10 dari 11 pemain yang diturunkan merupakan hasil naturalisasi, tetapi hasilnya tetap mengecewakan.

Masalah lainnya adalah kebiasaan STY yang sering mengubah susunan pemain di setiap pertandingan. Hal ini membuat tim sulit membangun chemistry, apalagi ketika mayoritas pemain belum memiliki pengalaman internasional yang cukup. Pengamat sepak bola Kesit B. Handoyo bahkan menyebut pola ini sebagai “kebiasaan buruk” yang justru menambah tekanan pada tim.

Namun, tidak adil jika hanya melihat sisi buruknya. Di bawah asuhan STY, timnas mencatat beberapa pencapaian penting, seperti meraih medali emas SEA Games 2023 dan kemenangan atas Arab Saudi di kualifikasi Piala Dunia. Regenerasi pemain muda yang diprioritaskan STY juga patut diapresiasi, terutama karena mayoritas pemain Piala ASEAN 2024 berusia di bawah 22 tahun.

Masalah mendasar dari kegagalan ini bukan hanya pada sosok STY, tetapi pada struktur sepak bola Indonesia secara keseluruhan. Pendekatan instan yang terus diulang tanpa pembenahan akar masalah telah menjadi pola. Kompetisi lokal yang tidak konsisten, minimnya investasi dalam pembinaan usia muda, dan kurangnya fasilitas yang memadai membuat sepak bola Indonesia sulit bersaing di level internasional.

Jika PSSI benar-benar serius mengevaluasi, fokus tidak hanya harus tertuju pada STY, tetapi juga pada sistem yang mendukung timnas. Reformasi liga, peningkatan pelatihan pelatih lokal, dan investasi dalam infrastruktur sepak bola adalah langkah mendasar yang tidak bisa ditunda lagi.

Di sisi lain, kebijakan naturalisasi harus dievaluasi ulang. Jika terus dilakukan, proses seleksi harus lebih ketat dengan mempertimbangkan kebutuhan strategis timnas, bukan hanya popularitas atau status diaspora. Selain itu, pembinaan pemain lokal harus tetap menjadi prioritas utama.

Bagi Shin Tae-yong, tantangan terbesarnya bukan sekadar membuktikan kemampuan di laga melawan Australia, tetapi juga menunjukkan bahwa ia mampu membawa timnas keluar dari pola kegagalan yang berulang. Jika ia berhasil, bukan hanya kontraknya yang akan diperpanjang, tetapi juga kepercayaan publik terhadap visi jangka panjang sepak bola Indonesia. Namun, jika ia gagal, maka wajar jika PSSI mempertimbangkan sosok pelatih baru dengan reputasi dan strategi yang lebih baik.

Di akhir cerita, sepak bola Indonesia membutuhkan arah yang jelas. Ini bukan tentang memilih antara STY atau pelatih baru, melainkan tentang membangun sistem yang dapat menopang prestasi jangka panjang. Karena di balik setiap kemenangan atau kekalahan, ada jutaan harapan yang menggantung pada bendera merah putih di lapangan hijau.

Pemain Naturalisasi Piala AFF 2024 PSSI Sepak Bola Indonesia Shin Tae-yong
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleAncaman PHK Massal Mengintai Karyawan Sritex
Next Article 7 Aplikasi Jahat yang Harus Segera Anda Hapus

Informasi lainnya

Politisi dan Nafsu Menguasai Institusi

31 Januari 2026

Gaduh Ijazah dan Politik Adu Domba

26 Januari 2026

Warisan Masalah Era Jokowi

19 Januari 2026

ASEAN di Tengah Preseden Maduro

5 Januari 2026

Menguji Gelar Pahlawan Soeharto

13 November 2025

Insentif MBG: Jangan Alihkan Beban

2 November 2025
Paling Sering Dibaca

Langkah Utang Pemerintah di Akhir 2024

Editorial Udex Mundzir

Integritas di Balik Gelar Akademik

Editorial Udex Mundzir

Cara Mengetahui Sifat Asli Manusia

Opini Udex Mundzir

Israel vs Iran: Medan Dominasi, Bukan Lagi Proxy

Editorial Udex Mundzir

Ketika Vape Jadi Narkoba Baru

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Pendidikan
Lisda Lisdiawati28 Januari 2026

Workshop Transformasi Tugas Akhir menjadi Artikel Ilmiah di Politeknik Triguna

Gus Yaqut Disorot KPK di Balik Skema 50:50 Kuota Haji

Susu Dingin atau Hangat, Mana yang Lebih Baik untuk Tubuh?

Workshop Visi SMPN 1 Cisayong Tekankan Karakter Murid

Harga Tandan Buah Segar Sawit di Kaltim Turun Rp2.099,15 per Kilogram

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.