Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Main Character Energy, Saat Hidup Terasa Seperti Film

Rekening Botok Dibuka Lagi Usai Klarifikasi Polisi

Kwarnas Dorong Jutaan Jam Bakti Pramuka Tercatat Global

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Kamis, 27 Agustus 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Citra Retak di Balik Kata

SilvaSilva7 Desember 2024 Refleksi
Kontroversi mengenai ucapan Gus Miftah
Kontroversi mengenai ucapan Gus Miftah (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Kontroversi yang memanas terkait ucapan Gus Miftah membuka babak baru dalam perdebatan tentang etika dan tanggung jawab pejabat publik. Miftah Maulana Habiburrahman, yang akrab disapa Gus Miftah, memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatan Utusan Khusus Presiden (UKP) Bidang Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan. Langkah ini muncul setelah gelombang protes publik atas ucapan kontroversialnya di acara Magelang Bersholawat.

Insiden tersebut berawal dari candaan yang dilontarkan kepada seorang pedagang es teh di depan umum, menggunakan kata kasar yang kemudian viral di media sosial. Ucapan itu tidak hanya melukai pihak terkait, tetapi juga menimbulkan kekecewaan luas. Dengan cepat, video tersebut menyebar, memancing kemarahan masyarakat yang melihat kejadian ini sebagai bentuk pelecehan verbal dari seorang pemuka agama sekaligus pejabat publik.

Petisi daring menuntut pencopotannya dari jabatan berhasil mengumpulkan lebih dari 50.000 tanda tangan dalam waktu singkat. Bahkan Presiden Prabowo Subianto, melalui perwakilannya, menyatakan penyesalan atas insiden tersebut dan meminta pelaku untuk segera meminta maaf secara terbuka.

Namun, permintaan maaf saja tampaknya belum cukup untuk meredakan amarah publik. Tekanan dari berbagai pihak, termasuk tokoh agama dan organisasi keagamaan, memperjelas bahwa tindakan tersebut telah mencoreng citra institusi yang diwakilinya. Keputusan mengundurkan diri memang terlihat sebagai langkah bertanggung jawab. Namun, di sisi lain, kejadian ini menggarisbawahi persoalan yang lebih besar: kurangnya kesadaran pejabat publik terhadap pentingnya menjaga tutur kata, terutama dalam ruang lingkup yang melibatkan masyarakat luas.

Baca Juga:
  • Growth Mindset
  • Kontroversi Gubernur Lampung Arinal Djunaidi, Antikritik dan Kemewahan Helikopter
  • Manusia Bersifat Air
  • Modal Waktu

Belajar dari sejumlah tokoh lain, seperti Fahri Hamzah, Rafli Harun, dan Mahfud MD, pentingnya memahami peran dalam jabatan menjadi sangat relevan. Fahri Hamzah, saat masih di parlemen, dikenal vokal karena tugasnya sebagai pengawas kebijakan. Namun, ia memahami perbedaan itu saat berada di lingkaran eksekutif, di mana ia menjaga komunikasi yang lebih strategis untuk melayani kepentingan publik. Rafli Harun, di sisi lain, adalah contoh pejabat yang konsisten menjaga etikanya, baik dalam forum publik maupun tertutup, sehingga ia tetap dihormati oleh berbagai kalangan.

Sementara itu, Mahfud MD telah lama menjadi figur yang mampu menjaga keseimbangan antara kritis dan santun. Sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, ia menunjukkan bahwa ketegasan dapat berjalan seiring dengan keadilan dan rasa hormat terhadap semua pihak. Dalam berbagai pernyataannya, Mahfud tidak hanya mengedepankan fakta, tetapi juga mempertimbangkan dampak ucapannya terhadap stabilitas sosial.

Tokoh-tokoh tersebut memberi pelajaran penting bahwa pemahaman tentang peran dan tanggung jawab pejabat publik adalah kunci untuk menjaga integritas dalam jabatan. Tidak cukup hanya memiliki kecakapan teknis atau popularitas, tetapi juga diperlukan kesadaran penuh akan dampak setiap tindakan dan ucapan terhadap masyarakat luas.

Untuk mencegah kasus serupa terulang, pemerintah perlu mengedepankan program pelatihan etika bagi pejabat publik. Selain itu, Indonesia harus segera menetapkan standar kelayakan bagi pejabat publik yang meliputi kriteria moral, kemampuan komunikasi, dan pemahaman mendalam tentang fungsi jabatan. Mekanisme evaluasi yang lebih ketat dapat memastikan hanya individu dengan rekam jejak dan integritas tinggi yang menduduki posisi strategis.

Artikel Terkait:
  • Tombol Motivasi
  • Unwanted Leader
  • AI Menghapus Pekerjaan Manusia?
  • Hidup yang PSBB

Di sisi lain, tokoh agama dan masyarakat juga perlu dilibatkan dalam dialog untuk memperkuat budaya santun dan menghormati sesama. Pendekatan yang melibatkan komunitas ini dapat menjadi langkah konkret dalam membangun kembali kepercayaan yang telah tercoreng.

Insiden ini menjadi pelajaran penting bahwa ucapan, meski sering dianggap remeh, dapat membawa konsekuensi besar. Kehilangan kepercayaan masyarakat adalah risiko nyata bagi seorang pejabat publik yang gagal menjaga etika. Langkah pengunduran diri patut diapresiasi, namun ini hanya awal dari proses pemulihan citra yang lebih luas.

Ke depan, pejabat publik perlu lebih sadar akan tanggung jawab besar yang melekat pada jabatan mereka. Indonesia membutuhkan pejabat yang tidak hanya kompeten, tetapi juga mampu menjadi panutan moral bagi masyarakat. Menetapkan standar kelayakan pejabat publik harus menjadi prioritas untuk memastikan integritas pemerintahan di masa depan

Jangan Lewatkan:
  • Hindari Jebakan Kehidupan
  • Mewaspadai Komunisme
  • Podcast vs YouTube: Rebutan Atensi Gen Z
  • Memilih Menteri
Etika pemerintahan Pejabat Publik Indonesia Standar kelayakan jabatan
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticlePKB Desak Prabowo Tolak Pengunduran Diri Miftah
Next Article Bimtek RPJMDes Hijau di Kutim, Langkah Besar Pembangunan Berkelanjutan dan Desa Ramah Lingkungan

Informasi lainnya

Mengapa Korupsi Menjadi Budaya?

15 Agustus 2026

Podcast vs YouTube: Rebutan Atensi Gen Z

18 Januari 2026

AI Menghapus Pekerjaan Manusia?

17 Januari 2026

Memahami Kuasa Pengampunan Negara

1 Agustus 2025

Musik AI Tanpa Hak Cipta

27 Juli 2025

Menunda Beban, Mengutamakan Rakyat

23 Desember 2024
Paling Sering Dibaca

Salat Taubat dan Hajat: Apa Bedanya?

Islami Alfi Salamah

Rahasia Minyak Zaitun untuk Kulit dan Rambut Sehat

Daily Tips Ericka

Empat Kunci Hidup Tenang dalam Islam

Islami Alfi Salamah

Hindari Jebakan Kehidupan

Refleksi Syamril Al-Bugisyi

Coba Vaksin? Wakil Rakyat Dulu!

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Ujian Tatap Muka UT di Tasikmalaya Berjalan Tertib dan Ketat

Gunung Raung Erupsi, Warga Diminta Jauhi Kawah dalam Radius Tiga Kilometer

Tugu Titik Nol IKN Bertuliskan ‘Lorem Ipsum’, Jadi Simbol Ibu Kota yang Masih ‘Draft’

Lari Rutin Tapi Berat Badan Naik? Ini Penyebabnya!

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Produk Dapur Terlaris Alat Tulis Sekolah Murah Buku Anak Islami Murah
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi