Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

MK Tegaskan Sikap soal Nikah Beda Agama

Politisi dan Nafsu Menguasai Institusi

Aphrodisias: Kota Dewi Cinta yang Abadi

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Kamis, 5 Februari 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Antara Sekolah Garuda dan Sekolah Rakyat

Ketika negara ikut menamai ketimpangan, pendidikan kehilangan wajah keadilannya.
Udex MundzirUdex Mundzir23 Mei 2025 Editorial
Ketimpangan Pendidikan di Indonesia
Ilustrasi Ketimpangan Pendidikan di Indonesia (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Ketimpangan pendidikan di Indonesia tak lagi tersembunyi. Ia hadir dalam bentuk fisik, kebijakan, hingga nama. Saat istilah “Sekolah Garuda” dilekatkan pada institusi pendidikan anak pejabat dan elite, dan “Sekolah Rakyat” pada lembaga pendidikan untuk masyarakat biasa, maka negara secara tidak langsung melegitimasi dua kasta dalam dunia belajar.

Ini bukan soal nama semata. Ini soal makna simbolik yang mencerminkan pandangan struktural terhadap siapa yang dianggap layak mendapat pendidikan berkualitas.

Di satu sisi, Sekolah Garuda tampil dengan gedung megah, fasilitas modern, kurikulum unggulan, dan akses global. Di sisi lain, Sekolah Rakyat dijadikan simbol kesederhanaan, seolah cukup puas dengan keterbatasan yang dimaklumi.

Kesenjangan ini tidak lahir tiba-tiba. Ia dibentuk oleh sistem yang memprioritaskan kelompok tertentu. Anak-anak dari keluarga kaya masuk dengan mudah ke sekolah unggulan. Biaya bukan kendala. Reputasi orang tua dan jejaring sosial menjadi jaminan tidak tertulis.

Sementara itu, anak-anak miskin, meski brilian, harus menempuh jalan terjal. Mulai dari akses informasi yang terbatas, kendala administrasi, biaya seleksi, hingga hambatan psikologis karena merasa “tidak pantas” berada di sekolah elite.

Meritokrasi yang diklaim adil ternyata hanya berlaku di permukaan. Anak-anak tidak memulai dari garis start yang sama.

Pendidikan hari ini bukan lagi alat pembebasan, tapi instrumen reproduksi kelas. Anak elite tetap berada di puncak. Anak miskin ditampung dalam skema bantuan yang sering kali hanya tambal sulam.

Program seperti KIP dan BOS memang membantu, tetapi tidak menyentuh akar. Sekolah negeri favorit tetap didominasi anak-anak kota dan keluarga mapan. Jalur afirmasi hanya menyisakan tempat kecil yang sering kali bersifat simbolik.

Lebih menyakitkan lagi ketika negara bukan hanya membiarkan, tapi ikut menamai ketimpangan ini. Sekolah Garuda seolah jadi menara gading modern, sementara Sekolah Rakyat dijadikan bukti bahwa negara telah hadir bagi kaum marjinal.

Padahal, dengan menamai sekolah seperti itu, negara justru menciptakan segregasi psikologis sejak dini. Anak-anak diajarkan bahwa mereka berasal dari dua dunia yang berbeda.

Narasi seperti ini harus dikritisi secara tajam. Sebab pendidikan bukan soal identitas kelompok, tetapi soal kesetaraan hak.

Jika negara serius memperjuangkan keadilan, maka istilah-istilah segregatif itu harus dihapus. Yang dibangun bukan “sekolah elite untuk elite” dan “sekolah sederhana untuk rakyat”, tapi sistem nasional yang menjamin mutu merata di seluruh wilayah.

Solusi sesungguhnya bukan menciptakan versi elite dan versi rakyat dari sekolah unggulan. Yang diperlukan adalah perombakan total dalam cara pandang dan kebijakan pendidikan.

Semua sekolah harus menjadi unggulan. Di kota maupun di desa. Di pusat maupun pinggiran.

Negara harus menjamin bahwa sekolah publik bisa menandingi bahkan melampaui sekolah swasta mahal. Dari kualitas guru, kurikulum, fasilitas, hingga akses teknologi.

Sistem seleksi juga harus adil secara struktural. Bukan hanya berdasarkan nilai ujian, tapi memperhitungkan latar belakang sosial dan geografis anak didik.

Jika ada afirmasi, maka afirmasi itu harus disertai pendampingan jangka panjang. Baik dari sisi akademik, psikologis, maupun sosial.

Pendidikan bukan proyek pencitraan. Ia adalah pondasi peradaban. Jika pemerintah membuat sekolah hanya untuk pamer kehadiran, maka pendidikan telah kehilangan maknanya yang paling hakiki.

Pendidikan adalah hak, bukan hadiah. Setiap anak, apapun latar belakangnya, berhak mendapatkan kualitas yang sama.

Ketika istilah “Sekolah Garuda” dan “Sekolah Rakyat” dibiarkan tumbuh tanpa kritik, maka yang sebenarnya sedang dibangun adalah tembok pemisah—bukan jembatan keadilan.

Jika kita ingin masa depan yang setara, maka kita harus mulai dari sekolah yang setara. Bukan dua sistem yang berjalan paralel dengan jurang di antaranya.

Karena di antara Sekolah Garuda dan Sekolah Rakyat, yang sejatinya hilang adalah: keadilan.

Keadilan Sosial Ketimpangan Pendidikan Pendidikan Nasional Sekolah Garuda Sekolah Rakyat
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleRahasia Packing Cerdas untuk Liburan 1 Minggu
Next Article KLH Dorong Pembatasan Impor Plastik Virgin Demi Kurangi Sampah

Informasi lainnya

Politisi dan Nafsu Menguasai Institusi

31 Januari 2026

Gaduh Ijazah dan Politik Adu Domba

26 Januari 2026

Warisan Masalah Era Jokowi

19 Januari 2026

ASEAN di Tengah Preseden Maduro

5 Januari 2026

Menguji Gelar Pahlawan Soeharto

13 November 2025

Insentif MBG: Jangan Alihkan Beban

2 November 2025
Paling Sering Dibaca

Jamaah Haji Wafat Dibadalkan Gratis dengan Sertifikat Bukti

Islami Alfi Salamah

Inilah Seputar Mental Illness yang Perlu Anda Ketahui!

Opini Alfi Salamah

Bukan Lalai, Tapi Sinyal Korupsi

Editorial Udex Mundzir

Iklan Pinjaman Syariah Mencurigakan, Berujung Minta Uang Zakat

Kroscek Udex Mundzir

Prabowo itu Bayang-Bayang Jokowi atau Pemimpin Baru?

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Pendidikan
Lisda Lisdiawati28 Januari 2026

Workshop Transformasi Tugas Akhir menjadi Artikel Ilmiah di Politeknik Triguna

Gus Yaqut Disorot KPK di Balik Skema 50:50 Kuota Haji

Susu Dingin atau Hangat, Mana yang Lebih Baik untuk Tubuh?

Workshop Visi SMPN 1 Cisayong Tekankan Karakter Murid

Harga Tandan Buah Segar Sawit di Kaltim Turun Rp2.099,15 per Kilogram

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.