Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Ramadan 2026: Kemenag Tetapkan Batas Volume Toa Masjid

BPS Catat Ekonomi Indonesia 2025 Tumbuh 5,11 Persen

Rebung Lebih Sehat dari Dugaan

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Kamis, 5 Februari 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Gaya Politik Kekanak-Kanakan Ala RIDO

Udex MundzirUdex Mundzir8 Desember 2024 Editorial
Gaya politik kekanak-kanakan RIDO Pilkada Jakarta
Gaya politik kekanak-kanakan RIDO Pilkada Jakarta (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Pilkada Jakarta 2024 mencatat berbagai drama politik, salah satunya aksi walk out pasangan Ridwan Kamil-Suswono (RIDO) dalam rapat pleno penetapan hasil Pilkada oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jakarta. Langkah ini memunculkan kesan bahwa RIDO memilih gaya politik kekanak-kanakan yang lebih banyak menciptakan polemik dibanding solusi nyata.

Dengan raihan suara sebesar 39,4%, pasangan nomor urut 1 ini terpaut jauh dari Pramono Anung-Rano Karno (Pramono-Rano) yang meraih 50,7% suara sah. Meski kekalahan sudah terlihat jelas, RIDO tetap melontarkan tuduhan pelanggaran di beberapa Tempat Pemungutan Suara (TPS) seperti di Pinang Ranti, Jakarta Timur.

Namun, tuduhan ini tidak disertai bukti konkret. Sebaliknya, mereka memilih meninggalkan forum pleno setelah menyampaikan keberatan, tanpa memberi ruang untuk diskusi atau solusi yang konstruktif.

Walk out dalam politik sering kali digunakan sebagai bentuk protes. Namun, dalam kasus ini, tindakan RIDO justru memperlihatkan ketidakmampuan menerima realitas politik. Bukannya menunjukkan sikap negarawan yang siap berkompetisi secara elegan, mereka memilih keluar dari forum resmi yang menjadi simbol demokrasi.

Sebagai pasangan yang pernah memimpin di tingkat nasional dan daerah, Ridwan Kamil dan Suswono seharusnya lebih bijak dalam merespons hasil Pilkada. Langkah walk out hanya memperkuat persepsi publik bahwa mereka tidak siap kalah, sekaligus menunjukkan gaya politik yang lebih mementingkan emosi daripada strategi.

RIDO menyebut adanya pelanggaran kode etik di TPS tertentu, rendahnya partisipasi pemilih, hingga tuduhan pelanggaran terstruktur, sistematis, dan masif (TSM). Namun, hingga kini, tidak ada bukti konkret yang mereka sampaikan kepada publik atau pihak berwenang.

KPU Jakarta, yang telah menggelar seluruh proses secara transparan, menyatakan bahwa setiap keberatan telah ditindaklanjuti di tingkat kabupaten/kota. Ketua Divisi Teknis KPU Jakarta, Dody Wijaya, menegaskan bahwa tidak ada temuan yang bisa mengubah hasil akhir Pilkada. Hal ini semakin mempertegas bahwa tuduhan RIDO lebih bersifat politis daripada substansial.

Langkah RIDO tidak hanya mencoreng proses demokrasi, tetapi juga berpotensi menciptakan polarisasi di masyarakat. Dalam situasi politik yang sudah sensitif, tindakan emosional seperti ini dapat memicu ketegangan antarpendukung.

Selain itu, gaya politik yang tidak dewasa juga menciptakan preseden buruk bagi generasi muda yang tengah belajar memahami nilai-nilai demokrasi. Jika elite politik terus memperlihatkan sikap tidak sportif, bagaimana masyarakat bisa percaya pada sistem demokrasi yang seharusnya mengutamakan keadilan dan kedewasaan politik?

Di sisi lain, pasangan Pramono-Rano, yang resmi ditetapkan sebagai pemenang dengan suara terbanyak, menghadapi tantangan besar untuk membuktikan bahwa kemenangan mereka tidak hanya simbolis. Dengan 21 janji kampanye yang mencakup berbagai bidang, mereka harus bekerja keras untuk merealisasikan harapan warga Jakarta.

Namun, beban ini tidak hanya menjadi tanggung jawab pasangan terpilih. Pihak yang kalah, termasuk RIDO, juga memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas politik. Mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK) adalah hak mereka, tetapi tindakan itu harus didasarkan pada bukti nyata, bukan sekadar ambisi politik.

Gaya politik kekanak-kanakan yang ditunjukkan RIDO dalam Pilkada Jakarta 2024 hanya memperkuat kesan bahwa mereka lebih mengutamakan ego daripada kepentingan masyarakat. Walk out dari forum resmi dan tuduhan tanpa bukti adalah langkah mundur bagi demokrasi.

Sebaliknya, Pramono-Rano memiliki peluang besar untuk membawa Jakarta ke arah yang lebih baik. Namun, untuk mewujudkan hal tersebut, mereka membutuhkan dukungan dari semua pihak, termasuk oposisi. Dalam demokrasi, perbedaan pandangan seharusnya menjadi kekuatan, bukan alasan untuk menciptakan perpecahan.

Sudah saatnya elite politik meninggalkan gaya kekanak-kanakan dan menunjukkan bahwa mereka mampu menjadi teladan bagi masyarakat. Politik yang dewasa bukan hanya soal menang atau kalah, tetapi tentang bagaimana menjunjung tinggi prinsip keadilan dan integritas.

Gaya Politik RIDO Pilkada Jakarta 2024 Pramono-Rano
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticlePramono-Rano Raih Suara Terbanyak, RK-Suswono Walk Out
Next Article Kamboja Tahan Imbang Malaysia di Laga Perdana Piala AFF 2024

Informasi lainnya

Politisi dan Nafsu Menguasai Institusi

31 Januari 2026

Gaduh Ijazah dan Politik Adu Domba

26 Januari 2026

Warisan Masalah Era Jokowi

19 Januari 2026

ASEAN di Tengah Preseden Maduro

5 Januari 2026

Menguji Gelar Pahlawan Soeharto

13 November 2025

Insentif MBG: Jangan Alihkan Beban

2 November 2025
Paling Sering Dibaca

Nomor HP Tidak Pernah Ganti 10 Tahun? Ini Tanda Kamu Layak Dipercaya

Daily Tips Ericka

Amalan Agar Bisa Berjodoh dengan Orang yang Dicintai

Daily Tips Ericka

Rencanakan Liburan: Jadwal Cuti Bersama Desember 2023

Travel Alfi Salamah

Harta Ilmu di Perpustakaan Masjid Nabawi Menanti Eksplorasi

Islami Alfi Salamah

Mubarok dan Amanah Sejati: Pelajaran Jujur dari Seorang Hamba Sahaya

Islami Ericka
Berita Lainnya
Pendidikan
Lisda Lisdiawati28 Januari 2026

Workshop Transformasi Tugas Akhir menjadi Artikel Ilmiah di Politeknik Triguna

Gus Yaqut Disorot KPK di Balik Skema 50:50 Kuota Haji

Susu Dingin atau Hangat, Mana yang Lebih Baik untuk Tubuh?

Workshop Visi SMPN 1 Cisayong Tekankan Karakter Murid

Harga Tandan Buah Segar Sawit di Kaltim Turun Rp2.099,15 per Kilogram

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.