Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Syarat Tak Bisa Dicuci Kekuasaan

Jika Gibran Didiskualifikasi, Siapa Pengganti Wapres?

SPPG De La Tina Ciamis Terapkan Inovasi Pengelolaan Limbah Dapur MBG

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Senin, 5 Oktober 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Hari Kunjung Perpustakaan, Masihkah Siswa Gemar Membaca?

Hari Kunjung Perpustakaan membuka pertanyaan tentang kebiasaan membaca pelajar di tengah gawai, video pendek, dan kecerdasan buatan.
Alfi SalamahAlfi Salamah14 September 2026 Pendidikan
Perpustakaan
Ilustrasi Kunjungan Perpustakaan: Pelajar membaca buku di perpustakaan sekolah era digital
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Bandung – Rak buku kini tidak lagi menjadi satu-satunya pintu menuju pengetahuan. Di tengah telepon genggam, video pendek, mesin pencari, dan kecerdasan buatan, Hari Kunjung Perpustakaan yang diperingati setiap 14 September kembali membawa pertanyaan penting: masihkah siswa datang ke perpustakaan untuk membaca dan mencari pengetahuan?

Hari Kunjung Perpustakaan diperingati di Indonesia setiap 14 September sejak 1995. Peringatan ini digagas untuk mendekatkan masyarakat dengan perpustakaan sekaligus membangun kebiasaan membaca, sementara September juga dikenal sebagai Bulan Gemar Membaca.

Lebih dari tiga dekade kemudian, tantangan yang dihadapi perpustakaan berubah. Perpustakaan tidak lagi hanya bersaing dengan kurangnya minat membaca, tetapi juga dengan derasnya informasi digital yang dapat diakses dalam hitungan detik.

Perubahan itu paling terasa di kalangan pelajar. Buku pelajaran, ensiklopedia, dan koleksi referensi kini berdampingan dengan artikel daring, video edukasi, media sosial hingga layanan kecerdasan buatan yang mampu menjawab pertanyaan secara instan.

Kondisi tersebut membuat makna membaca ikut berubah. Membaca tidak lagi selalu berarti membuka buku cetak, melainkan juga memahami informasi digital, membandingkan sumber, memeriksa kebenaran informasi, dan memastikan pengetahuan yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan.

Hari Kunjung Perpustakaan sendiri berawal dari gagasan Kepala Perpustakaan Nasional RI pertama, Mastini Hardjoprakoso. Gagasan itu kemudian ditindaklanjuti melalui surat Perpustakaan Nasional pada Agustus 1995 yang mengusulkan 14 September sebagai Hari Kunjung Perpustakaan.

Sejak awal, tujuannya bukan sekadar meningkatkan jumlah pengunjung. Perpustakaan diharapkan menjadi ruang yang mendorong masyarakat membaca, belajar, berdiskusi, dan membangun kebiasaan mencari pengetahuan secara mandiri.

Data Perpustakaan Nasional menunjukkan kebiasaan membaca masyarakat Indonesia masih menghadapi tantangan, meski sejumlah indikator menunjukkan perbaikan. Dalam kajian Tingkat Kegemaran Membaca atau TGM tahun 2023, skor rata-rata nasional tercatat 66,77 dan masuk kategori sedang.

Kajian tersebut mencatat rata-rata masyarakat membaca sekitar lima kali dalam satu pekan. Durasi membaca berada di kisaran satu jam 47 menit per hari, sedangkan bahan bacaan yang diselesaikan rata-rata mencapai lima hingga enam bahan dalam tiga bulan.

Pada saat yang sama, internet semakin menjadi bagian dari kebiasaan membaca masyarakat. Rata-rata waktu mengakses internet untuk memperoleh bahan bacaan tercatat mendekati dua jam per hari.

Baca Juga:
  • Dedi Mulyadi Larang Study Tour, Pelaku Wisata Jawa Barat Keberatan
  • Riset Alam QSBS: Melatih Public Speaking dan Pola Pikir Kritis
  • Grand Design Wajib Belajar 13 Tahun: 1 Tahun Prasekolah Jadi Fondasi Generasi Emas
  • Guru Madrasah Tasikmalaya Tuntut Keadilan dalam Pengangkatan PPPK

Angka tersebut memperlihatkan bahwa budaya membaca tidak hilang, tetapi berubah medium. Persoalannya kemudian bukan hanya apakah seseorang membaca, melainkan apa yang dibaca, dari mana sumbernya, dan seberapa jauh informasi itu dipahami.

Perubahan ini membuat perpustakaan memiliki tugas baru. Selain menyediakan koleksi, perpustakaan dituntut membantu masyarakat menghadapi banjir informasi yang belum tentu semuanya benar.

Bagi siswa, tantangan itu semakin besar sejak kecerdasan buatan generatif semakin mudah digunakan. Jawaban atas soal, rangkuman bacaan, bahkan ide untuk tugas sekolah dapat diperoleh dalam beberapa detik.

Kemudahan itu membawa manfaat, tetapi juga risiko. Pelajar dapat memperoleh informasi lebih cepat, namun bisa kehilangan proses membaca secara mendalam jika hanya mengambil jawaban tanpa memahami sumber dan alasan di baliknya.

Di sinilah fungsi perpustakaan tetap relevan. Perpustakaan dapat menjadi ruang untuk mengajarkan bahwa pengetahuan tidak berhenti pada menemukan jawaban, tetapi juga memahami proses pencarian informasi.

Di Kota Bandung, penguatan literasi masyarakat juga menjadi perhatian pemerintah daerah. Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Bandung bersama Badan Pusat Statistik Kota Bandung pada Februari 2025 membahas peningkatan kualitas data literasi masyarakat.

Salah satu indikator yang digunakan adalah Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat atau IPLM. Indikator tersebut digunakan untuk melihat dukungan terhadap literasi melalui sarana, prasarana, layanan, serta pengembangan perpustakaan.

Pengukuran itu penting karena kebiasaan membaca tidak hanya bergantung pada kemauan seseorang. Ketersediaan bahan bacaan, akses terhadap perpustakaan, kualitas layanan, jumlah koleksi, ruang yang nyaman, dan kemampuan pustakawan juga berpengaruh terhadap kebiasaan masyarakat membaca.

Perpustakaan sekolah memiliki posisi yang tidak kalah penting. Bagi sebagian siswa, perpustakaan sekolah menjadi tempat pertama mereka mengenal bahan bacaan di luar buku pelajaran.

Namun tantangannya tidak sederhana. Perpustakaan sekolah perlu memiliki koleksi yang sesuai dengan usia dan kebutuhan siswa, sekaligus menyediakan ruang yang membuat pelajar mau datang tanpa harus menunggu tugas dari guru.

Artikel Terkait:
  • Desi Siti Hoerunnisa: Wisuda Awal Perjuangan Baru
  • SDN 1 Cisayong Gelar Pengajian Rutinan, Lina: 5 Tipe Wanita dalam Al-Qur’an
  • DPR Panggil Mendikti Terkait Polemik Banyak Siswa Gagal Daftar SNBP
  • Eco-enzyme Lebih Cepat Jadi dengan Inovasi Farmasi Unisba

Rak yang penuh buku belum tentu menunjukkan budaya membaca tumbuh. Ukurannya justru dapat dilihat dari seberapa sering koleksi dipinjam, seberapa banyak siswa datang, dan apakah perpustakaan menjadi bagian dari kegiatan belajar sehari-hari.

Perubahan teknologi juga menuntut perpustakaan bergerak lebih jauh. Koleksi digital, katalog daring, buku elektronik, ruang diskusi, kegiatan komunitas, hingga kelas literasi digital dapat menjadi bagian dari layanan perpustakaan modern.

Perpustakaan Nasional dalam berbagai program literasi sebelumnya juga menekankan pentingnya perluasan akses bahan bacaan dan penguatan layanan perpustakaan. Upaya tersebut mencakup peningkatan koleksi, pengembangan pustakawan, keterlibatan keluarga, sekolah, pemerintah daerah, dan komunitas membaca.

Bagi keluarga, kebiasaan membaca bahkan dapat dimulai dari aktivitas sederhana. Membacakan buku kepada anak, menyediakan bahan bacaan di rumah, atau mengajak anak berkunjung ke perpustakaan dapat membantu menjadikan membaca sebagai kegiatan yang dekat dengan keseharian.

Bagi sekolah, perpustakaan dapat menjadi ruang belajar yang melengkapi kelas. Siswa tidak hanya mencari jawaban, tetapi belajar menemukan sumber, membandingkan informasi, dan memahami suatu persoalan dari lebih dari satu sudut pandang.

Sementara bagi pemerintah daerah, tantangannya adalah memastikan akses terhadap bahan bacaan tidak hanya tersedia di pusat kota. Perpustakaan keliling, taman bacaan, perpustakaan sekolah, dan layanan digital menjadi penting untuk menjangkau masyarakat yang jauh dari fasilitas perpustakaan besar.

Hari Kunjung Perpustakaan tahun ini juga hadir ketika kebiasaan membaca harus berbagi perhatian dengan konten singkat yang terus mengalir dari layar. Informasi semakin mudah diperoleh, tetapi perhatian pembaca justru semakin diperebutkan.

Karena itu, persoalan literasi hari ini bukan sekadar rendah atau tingginya minat membaca. Tantangannya adalah membangun kemampuan membaca secara utuh, memahami isi, mengenali sumber, serta membedakan informasi yang dapat dipercaya dan yang menyesatkan.

Perpustakaan memiliki ruang untuk mengambil peran tersebut. Fungsinya tidak harus berhenti sebagai tempat menyimpan buku, tetapi dapat berkembang menjadi ruang belajar, tempat bertanya, pusat informasi, dan titik pertemuan masyarakat dengan pengetahuan.

Jangan Lewatkan:
  • “Akhirnya Paham Cara Menemukan Celah Kebaruan Riset.”
  • Praktek Rukyat Awal Bulan Dzulqo’dah di PP. Sunan Ampel 2 Jombang Bawa Santri Menuju Puncak Pengetahuan Falak
  • Kwarcab Bone Gelar KPDK Perkuat Tata Kelola Dewan Kerja
  • Kursus Pembina Pramuka Dibuka di Ponpes Al-Iman Ponorogo

Hari Kunjung Perpustakaan pada akhirnya tidak perlu dipahami sebagai perlombaan antara buku dan teknologi. Keduanya dapat berjalan bersama selama masyarakat memiliki kemampuan untuk membaca secara kritis dan menggunakan informasi dengan bijak.

Tiga puluh satu tahun setelah Hari Kunjung Perpustakaan pertama kali dicanangkan, ukuran keberhasilannya pun tidak cukup dilihat dari berapa banyak orang yang datang pada 14 September. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah perpustakaan mampu membuat masyarakat, terutama pelajar, ingin kembali membaca setelah peringatan itu selesai.

Di tengah zaman ketika jawaban dapat muncul hanya dengan mengetik beberapa kata, proses membaca justru menjadi semakin penting. Perpustakaan masih memiliki tempat selama mampu membantu generasi muda bukan hanya menemukan informasi, tetapi juga memahami apa yang mereka baca.

Hari Kunjung Perpustakaan Kota Bandung Literasi Pelajar Pendidikan Perpustakaan
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleKetika Bencana Mengubah Cara Kita Bepergian
Next Article Bazar Murah Bandung, Berapa Warga Bisa Berhemat?

Informasi lainnya

100 Mahasiswa UBB Dapat Beasiswa Kelapa 2026

3 September 2026

Kwarnas Dorong Jutaan Jam Bakti Pramuka Tercatat Global

26 Agustus 2026

Dosen MM UIA Bedah Kurikulum, Kompetensi Jadi Fokus

22 Agustus 2026

OBE Mengubah Ukuran Keberhasilan Perkuliahan

22 Agustus 2026

Temaram di Khalifa

14 Agustus 2026

Curi Start, Mugus PP Khalifa Langsung Eksekusi SK Kwarnas Terbaru

6 Agustus 2026
Paling Sering Dibaca

Hukum Jual Beli Emas Digital dalam Islam

Bisnis Ericka

Tips Move On Ala Ustaz Hanan Attaki

Islami Assyifa

MPW PP Kaltim Gelar Nuzulul Quran, Ajak Masyarakat Jaga Silaturahmi dan Peduli Sesama

Islami Dexpert Corp

Israel vs Iran: Medan Dominasi, Bukan Lagi Proxy

Editorial Udex Mundzir

Rahasia Membuat Kentang Goreng Tetap Sehat

Food Alfi Salamah
Berita Lainnya
Politik
Udex Mundzir1 Oktober 2026

Jika Gibran Didiskualifikasi, Siapa Pengganti Wapres?

Modus Janji Cinta Diancam Penjara dalam KUHP Baru

Rahasia Daisugi, Teknik Bertani Pohon Tanpa Membabat Hutan

Hukum Barang Temuan dalam Islam

PANDI Perketat Aturan Sengketa Domain untuk Cegah Cybersquatting

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Alat Tulis Sekolah Murah Produk Dapur Terlaris Perlengkapan Pramuka Lengkap
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi