Tasikmalaya – Hujan yang turun bagai “tirai tak henti” pada Minggu sore berubah menjadi ancaman nyata bagi warga Kampung Citepus. Tebing sungai yang tak lagi kokoh akhirnya runtuh, membawa material tanah yang merusak harapan para petani dalam sekejap.
Peristiwa longsor tersebut terjadi di Kampung Citepus, RT 02/RW 02, Desa Santaranmekar, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, pada Minggu (5/4/2026) sekitar pukul 17.36 WIB. Hujan deras disertai petir dilaporkan mulai turun sejak selepas waktu Asar.
Intensitas hujan yang tinggi menyebabkan kondisi tanah menjadi labil, hingga akhirnya memicu longsornya tebing aliran sungai yang berada di sekitar permukiman dan lahan pertanian warga. Material longsor kemudian menimpa area pesawahan serta sebagian lingkungan pesantren di lokasi tersebut.
Meski tidak ada korban jiwa maupun kerusakan rumah warga, dampak yang ditimbulkan cukup signifikan. Saluran irigasi yang menjadi sumber utama pengairan sawah dilaporkan terputus akibat tertimbun longsoran. Hal ini berpotensi menghambat aktivitas pertanian warga yang bergantung pada aliran air tersebut.
“Sawah kami rusak karena tertimbun longsor, banyak bagian lahan yang tertutup tanah. Kami berharap segera ada penanganan supaya bisa kembali digarap,” ujar warga yang terdampak.
Pernyataan tersebut mencerminkan kekhawatiran warga yang kini menghadapi ancaman gagal panen. Kerusakan lahan tidak hanya berdampak pada hasil pertanian, tetapi juga pada keberlangsungan ekonomi keluarga petani di wilayah tersebut. Selain itu, area pesantren yang turut terdampak menjadi perhatian, mengingat aktivitas pendidikan bisa terganggu jika kondisi tidak segera ditangani.
Pemerintah desa setempat telah menerima laporan kejadian dan melakukan koordinasi dengan pihak terkait. Namun hingga kini, belum ada penanganan teknis di lapangan, baik untuk pembersihan material longsor maupun perbaikan saluran air yang rusak. Warga berharap adanya langkah cepat dari instansi berwenang untuk menanggulangi dampak yang terjadi.
Wilayah Cisayong sendiri dikenal memiliki potensi kerawanan longsor, terutama saat curah hujan tinggi. Kondisi geografis berupa lereng dan tanah yang mudah bergerak menjadi faktor utama terjadinya bencana tersebut. Oleh karena itu, upaya mitigasi seperti penguatan tebing sungai dan pemantauan kondisi tanah menjadi hal penting guna mencegah kejadian serupa di masa mendatang.
Kejadian ini menjadi pengingat bahwa bencana dapat datang tanpa peringatan, terutama di tengah cuaca ekstrem yang kerap melanda. Penanganan cepat dan kesiapsiagaan menjadi kunci untuk meminimalisasi dampak yang lebih luas bagi masyarakat.
