Tasikmalaya – Di tengah suasana yang seharusnya penuh kebahagiaan menjelang Lebaran, warga Kecamatan Cisayong justru dihadapkan pada krisis air bersih. “Air adalah kehidupan,” namun bagi sebagian warga, kalimat itu kini terasa seperti ironi akibat terhentinya pasokan air dari PDAM.
Gangguan distribusi air bersih dilaporkan mulai terjadi sejak Kamis (18/03/2026). Aliran air dari PDAM tidak mengalir ke rumah-rumah warga selama beberapa hari. Meski sempat kembali normal pada Sabtu (20/03/2026), pasokan air kembali terhenti di hari yang sama. Kondisi ini membuat warga kebingungan, terutama karena kebutuhan air meningkat menjelang hari raya.
Percakapan warga di grup WhatsApp mencerminkan keresahan tersebut. Sejumlah warga mengeluhkan kondisi air yang tak kunjung stabil, bahkan ada yang mengaku harus mencari alternatif sumber air untuk kebutuhan sehari-hari seperti memasak dan mandi.
“Tos dkomplainkeun manawi aya tindak lanjut,” tulis salah seorang warga dalam percakapan grup, menandakan bahwa keluhan sudah disampaikan namun belum ada solusi konkret.
Keluhan lain juga muncul terkait tagihan air yang tetap berjalan meskipun distribusi tersendat.
“Ayeuna mah teu cekap. Ku denda ditagih ka bumi, padahal kamari pendak sareng nu sok mariksa, cenah nu teu acan bayar disauran. Abdi mah geus sesuai nagih hak sareng kawajiban perusahaan,” ungkap warga lainnya dalam percakapan tersebut.
Situasi ini memaksa sebagian warga untuk mengandalkan sumber air alternatif seperti sumur atau membeli air dari pihak lain. Namun, tidak semua warga memiliki akses yang sama, sehingga kondisi ini berpotensi menimbulkan masalah kesehatan dan kebersihan lingkungan.
Menjelang Lebaran, kebutuhan air bersih biasanya meningkat signifikan untuk keperluan rumah tangga, ibadah, hingga persiapan hidangan. Gangguan distribusi ini pun dinilai sangat merugikan masyarakat, terutama bagi keluarga yang tidak memiliki cadangan air.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak PDAM terkait penyebab pasti gangguan distribusi tersebut maupun estimasi waktu normalisasi layanan. Warga berharap ada langkah cepat dan transparan dari pihak terkait agar krisis ini tidak berlarut-larut.
Kondisi darurat air bersih ini menjadi pengingat pentingnya kesiapan infrastruktur layanan publik, terutama pada momen krusial seperti hari besar keagamaan.
