Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Ramadan 2026: Kemenag Tetapkan Batas Volume Toa Masjid

BPS Catat Ekonomi Indonesia 2025 Tumbuh 5,11 Persen

Rebung Lebih Sehat dari Dugaan

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Kamis, 5 Februari 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

PDIP Pecat Jokowi: Dinamika Baru

Hubungan PDIP dan Joko Widodo berubah dari harmoni menjadi konflik politik yang mendalam.
Udex MundzirUdex Mundzir17 Desember 2024 Editorial
Jokowi petugas partai Megawati
Jokowi petugas partai Megawati (.ant)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Ketegangan politik PDIP mencuat ke permukaan setelah keputusan mengejutkan partai banteng merah ini memecat Joko Widodo, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, dan Muhammad Bobby Afif Nasution dari keanggotaan. Langkah ini bukan hanya memutus hubungan politik personal, tetapi juga mengubah lanskap politik nasional.

Surat pemecatan, ditandatangani langsung oleh Ketua Umum Megawati Soekarnoputri dan Sekjen Hasto Kristiyanto, diumumkan secara resmi pada Senin (16/12/2024). Dalam pidato Ketua Bidang Kehormatan Komarudin Watubun, pemecatan ini merupakan konsekuensi atas pelanggaran anggaran dasar partai yang tak dijelaskan secara spesifik. Namun, hubungan yang kian memburuk antara Joko Widodo dan PDIP dalam setahun terakhir menjadi alasan utama langkah ini diambil.

Keputusan ini menandai babak akhir perjalanan politik Joko Widodo sebagai “petugas partai” yang akhirnya membelot bersama keluarganya, termasuk Gibran, yang kini telah resmi menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia.

Dinamika Relasi yang Retak

Ketegangan antara PDIP dan Joko Widodo mulai mencuat sejak pemilu 2024. Pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming, yang didukung secara terbuka oleh Joko Widodo, berhasil menyingkirkan capres PDIP, Ganjar Pranowo, dari kursi kepresidenan. Kekalahan ini memperkuat persepsi bahwa dukungan Jokowi telah menciptakan “kubu tandingan” di dalam partai.

Bahkan di level daerah, kekalahan kandidat PDIP di Jawa Tengah dan Sumatra Utara dari calon yang didukung Jokowi menambah luka politik. PDIP, partai yang pernah menjadi kendaraan politik utama Jokowi, kini merasa tersingkirkan di “kandang banteng” sendiri.

Gibran Rakabuming Raka, sebagai Wakil Presiden, juga menjadi simbol pergeseran ini. Proses politiknya, mulai dari “dikuningkan” oleh Partai Golkar hingga menjadi pendamping Prabowo di Pilpres 2024, menunjukkan betapa kendali PDIP terhadap Joko Widodo dan keluarganya telah runtuh.

Petugas Partai yang Membelot

Sejak awal karier politiknya, Joko Widodo dikenal sebagai “petugas partai,” istilah yang sering ditegaskan oleh Megawati. Sebutan ini sempat mengundang kritik, dianggap merendahkan peran seorang pemimpin yang seharusnya berada di atas kepentingan partai. Namun, Jokowi tampaknya berusaha keluar dari bayang-bayang PDIP, mengukuhkan dirinya sebagai pemimpin nasional yang independen.

Langkah Jokowi untuk mendukung Prabowo dan Gibran di Pilpres 2024 merupakan puncak dari pembelotannya. Tidak hanya Jokowi, keluarganya—termasuk Gibran dan Bobby—terlihat mengambil sikap politik yang bertentangan dengan PDIP. Ini merupakan bentuk keberanian, meskipun dengan konsekuensi politik besar.

Ironisnya, konflik ini mengingatkan pada dinamika besar politik Indonesia di masa lalu. Pada awal era reformasi, Megawati sendiri pernah menjadi bagian dari pengkhianatan besar terhadap koalisi reformasi yang semula dibangun bersama Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Amien Rais, dan Sri Sultan Hamengkubuwono X. Koalisi yang bertujuan mengembalikan demokrasi pasca-Orde Baru itu retak ketika Megawati, yang seharusnya mendukung Gus Dur sebagai presiden, justru bersekutu dengan Amien Rais untuk menjatuhkannya melalui Sidang Istimewa MPR 2001. Megawati pun merebut kursi presiden itu dengan cara ‘konstitusional’

Gus Dur akhirnya digulingkan. Amien Rais memimpin proses tersebut dari kursi Senayan. Sementara Sultan Hamengkubuwono X kembali ke posisinya sebagai simbol budaya di Yogyakarta.

Pengkhianatan itu menjadi momen besar dalam sejarah politik Indonesia yang membuktikan bahwa kekuasaan kerap memicu perseteruan di antara sekutu. Kini, apa yang terjadi pada Jokowi adalah gambaran dari ungkapan lama: sesama pengkhianat pada akhirnya akan saling mengkhianati.

Implikasi Politik dan Solusi ke Depan

Keputusan pemecatan ini menegaskan bahwa PDIP tengah merestrukturisasi kekuatannya, mengeliminasi figur-figur yang dianggap tak sejalan. Namun, langkah ini berisiko menciptakan fragmentasi lebih lanjut dalam politik nasional.

PDIP kini menghadapi tantangan untuk memulihkan kekuatan di tengah situasi politik yang terpecah. Kehilangan tokoh populer seperti Joko Widodo dan Gibran dapat memengaruhi basis pemilihnya, terutama di Jawa dan Sumatra.

Bagi Joko Widodo dan keluarganya, pemecatan ini mungkin menjadi peluang untuk membangun poros politik baru yang lebih independen. Namun, upaya ini harus disertai dengan komitmen untuk tetap mendukung stabilitas politik nasional, tanpa memicu konflik yang merugikan bangsa.

PDIP dan Joko Widodo telah memasuki fase hubungan baru yang lebih berjarak. Pemecatan ini bukan sekadar akhir dari ikatan formal, tetapi juga simbol pergeseran kekuatan politik di Indonesia.

Bangsa ini membutuhkan pemimpin yang mampu berdiri di atas semua kepentingan, tanpa kehilangan integritas. PDIP, Joko Widodo, dan seluruh pemangku kepentingan politik perlu memprioritaskan harmoni nasional di atas perbedaan, demi masa depan demokrasi Indonesia yang lebih baik.

Bobby Nasution Gibran Rakabumimng Joko Widodo PDIP Politik Indonesia
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleDPR Minta Pemerintah Perketat Regulasi Pinjol untuk Lindungi Masyarakat
Next Article Pekerja Padat Karya Bergaji Rp 10 Juta Kini Bebas Pajak

Informasi lainnya

Politisi dan Nafsu Menguasai Institusi

31 Januari 2026

Gaduh Ijazah dan Politik Adu Domba

26 Januari 2026

Warisan Masalah Era Jokowi

19 Januari 2026

ASEAN di Tengah Preseden Maduro

5 Januari 2026

Menguji Gelar Pahlawan Soeharto

13 November 2025

Insentif MBG: Jangan Alihkan Beban

2 November 2025
Paling Sering Dibaca

TikTok & Konten Viral

Opini Alfi Salamah

Terpidana Dilindungi, Hukum Dipermalukan

Editorial Udex Mundzir

Gizi di Meja, Konglomerat di Pintu

Editorial Udex Mundzir

Lepaskan Ketegangan, Raih Kedamaian

Daily Tips Udex Mundzir

Jurnalisme di Bawah Bayang Algoritma

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Pendidikan
Lisda Lisdiawati28 Januari 2026

Workshop Transformasi Tugas Akhir menjadi Artikel Ilmiah di Politeknik Triguna

Gus Yaqut Disorot KPK di Balik Skema 50:50 Kuota Haji

Susu Dingin atau Hangat, Mana yang Lebih Baik untuk Tubuh?

Workshop Visi SMPN 1 Cisayong Tekankan Karakter Murid

Harga Tandan Buah Segar Sawit di Kaltim Turun Rp2.099,15 per Kilogram

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.