Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Relawan Muda di Arus Mudik

Takbiran Diminta di Rumah Saat Nyepi di Bali

Libur Lebaran, Program MBG Hemat Rp5 Triliun

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Rabu, 18 Maret 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Populer, Bukan Baik: Demokrasi yang Terjebak

Udex MundzirUdex Mundzir25 November 2024 Editorial
Pasangan Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan
Pasangan Cagub-Cawagub Jabar, Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Sayangnya, demokrasi kita tidak memilih orang baik. Pilihan rakyat sering kali jatuh pada mereka yang populer, bukan yang berkualitas. Pilkada, termasuk Pilgub Jabar 2024, adalah cerminan dari tren ini, di mana elektabilitas lebih sering ditentukan oleh citra dibandingkan substansi.

Pasangan Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan, misalnya, mendominasi survei dengan angka elektabilitas di atas 65% menurut enam lembaga survei berbeda. Dukungan yang masif ini tentu mencerminkan popularitas mereka di tengah masyarakat Jawa Barat. Namun, apakah popularitas ini berbanding lurus dengan kemampuan dan komitmen untuk memperbaiki Jawa Barat?

Demokrasi modern sering kali menjadi panggung kontestasi pencitraan. Kandidat berlomba-lomba menghadirkan janji manis, kampanye megah, hingga slogan yang menarik perhatian. Sayangnya, substansi program sering kali tenggelam di balik hingar-bingar kampanye. Pemilih jarang diajak berdialog tentang visi jangka panjang atau rencana konkrit pembangunan daerah.

Keberhasilan pasangan Dedi-Erwan di survei mungkin juga dipengaruhi oleh dukungan besar dari koalisi partai-partai kuat, seperti Gerindra, Golkar, dan Demokrat. Dengan kekuatan logistik dan jaringan yang mumpuni, mereka mampu menjangkau basis pemilih yang luas. Namun, apakah ini berarti pasangan lain, seperti Ahmad Syaikhu-Ilham Habibie, tidak layak diperhitungkan?

Di sisi lain, pasangan seperti Acep Adang Ruhiat-Gitalis Dwi Natarina dan Jeje Wiradinata-Ronal Surapradja tampak kesulitan keluar dari bayang-bayang ketidakpopuleran. Elektabilitas mereka yang berkisar di angka 4-5% menunjukkan bahwa popularitas tetap menjadi tiket utama untuk memenangkan kompetisi demokrasi.

Analisis ini mencerminkan kegagalan demokrasi kita dalam menghadirkan pemimpin berkualitas. Demokrasi sejatinya adalah proses memilih yang terbaik, bukan sekadar yang terkenal. Ketika popularitas menjadi satu-satunya ukuran, isu-isu mendasar seperti kemiskinan, pengangguran, atau pendidikan sering kali tidak mendapatkan perhatian serius.

Budaya politik kita juga turut andil dalam melanggengkan pola ini. Masyarakat cenderung terpesona oleh kemeriahan kampanye dibandingkan rekam jejak kandidat. Kandidat dengan latar belakang teknokrat atau religius seperti Ahmad Syaikhu-Ilham Habibie, yang menawarkan solusi berbasis teknologi dan spiritualitas, justru kurang menarik perhatian publik dibandingkan pasangan yang lebih atraktif di media.

Lantas, apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki situasi ini? Pertama, pendidikan politik harus menjadi prioritas. Pemilih harus diajak memahami pentingnya memilih berdasarkan kompetensi dan integritas, bukan sekadar pesona. Media juga memiliki peran penting untuk menggali isu substansial dan mendorong debat yang bermutu.

Kedua, regulasi kampanye perlu diperketat agar lebih fokus pada program kerja. Pembatasan kampanye yang berlebihan, seperti hura-hura atau pembagian suvenir, dapat mengurangi polarisasi yang tidak sehat.

Ketiga, partai politik harus menanamkan budaya meritokrasi dalam pencalonan kandidat. Alih-alih mengutamakan popularitas, partai harus berani memajukan figur dengan rekam jejak yang jelas dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Jika langkah-langkah ini diterapkan, demokrasi Indonesia tidak lagi menjadi arena perebutan popularitas semata. Pilkada, termasuk Pilgub Jabar 2024, dapat menjadi momentum memilih pemimpin yang benar-benar layak. Namun, tanpa reformasi mendalam, kita hanya akan terus mengulang pola lama: memilih yang populer, bukan yang baik.

Demokrasi Indonesia Pemimpin berkualitas Pilgub Jabar 2024 Pilkada 2024
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleKutim Tetapkan Libur Nasional untuk Pilkada 2024, Pelayanan Esensial Tetap Berjalan
Next Article KPU Sidoarjo Tuntaskan Logistik Pilkada, KPPS Sebar Formulir C

Informasi lainnya

Relawan Muda di Arus Mudik

17 Maret 2026

Membatasi Medsos, Mendidik Generasi

16 Maret 2026

Ketika Narkoba Dilindungi Oknum

15 Februari 2026

Politisi dan Nafsu Menguasai Institusi

31 Januari 2026

Gaduh Ijazah dan Politik Adu Domba

26 Januari 2026

Warisan Masalah Era Jokowi

19 Januari 2026
Paling Sering Dibaca

Ayi Mulyana: Membangun Pramuka yang Berkontribusi Nyata

Profil Silva

10 Situs Legal dan Terpercaya untuk Nonton Film Gratis dengan Kualitas HD

Happy Dexpert Corp

Peran dan Pengaruh Kucing dalam Film, Buku, dan Musik

Opini Alfi Salamah

Ketika Relawan Butuh Akal Sehat, Bukan Sekadar Semangat

Opini Udex Mundzir

Syarat dan Cara Membuat SKCK Menurut Polri untuk WNA dan WNI

Happy Alfi Salamah
Berita Lainnya
Kesehatan
Lisda Lisdiawati14 Maret 2026

Mengapa Banyak Orang Sakit di 10 Hari Terakhir Ramadan?

Waktu Pencernaan Makanan, Kenali Sebelum Mengatur Pola Makan

Mendagri Tito Wajibkan Siskamling Aktif di Seluruh RT/RW

SMPN 1 Cisayong Tutup Program Kokulikuler Ramadhan

Diskon Tarif Tol Mudik Lebaran 30 Persen Masih Berlaku Hari Ini

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi