Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

MK Tegaskan Sikap soal Nikah Beda Agama

Politisi dan Nafsu Menguasai Institusi

Aphrodisias: Kota Dewi Cinta yang Abadi

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Kamis, 5 Februari 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Saat Bahasa Membentuk Hirarki: Ucapan ‘Mohon Izin’ dan ‘Siap’

Bahasa yang kita pilih hari ini menentukan budaya yang kita wariskan esok hari.
Alfi SalamahAlfi Salamah24 Desember 2025 Daily Tips
Fenomena “mohon izin” dan “siap”
Ilustrasi Fenomena Ucapan “mohon izin” dan “siap” (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Kata pembuka sering kali terasa sepele. Namun, belakangan ini, ruang kerja, grup keluarga, hingga obrolan santai dipenuhi frasa yang sama. “Mohon izin…”, “izin bertanya…”, atau cukup satu kata pendek, “siap”. Kalimat-kalimat ini meluncur refleks, seolah menjadi tiket wajib sebelum menyampaikan maksud. Padahal, sering kali tidak ada izin yang benar-benar dibutuhkan.

Fenomena ini menarik sekaligus menggelitik. Ungkapan tersebut kerap tidak berkaitan logis dengan kalimat berikutnya. “Mohon izin, saya sudah kirim email.” “Mohon izin, saya setuju.” Bahkan, “mohon izin, saya sudah duduk.” Bahasa seperti bergerak otomatis, mendahului kesadaran penuturnya.

Dari Kebiasaan Sopan ke Verbal Tic

Awalnya, frasa-frasa ini terdengar sopan dan penuh hormat. Namun, ketika diulang tanpa konteks, ia berubah menjadi verbal tic. Sebuah kebiasaan linguistik refleks yang mengakar kuat. Ia tumbuh subur di lingkungan birokrasi dan korporasi, lalu menyebar ke ruang publik. Warung kopi, transportasi umum, hingga grup keluarga ikut terpapar.

Tanpa mengucapkan “mohon izin”, pembicaraan seolah kurang pantas. Tanpa menjawab “siap”, komitmen terasa kurang total. Bahasa tidak lagi sekadar alat komunikasi, tetapi penanda kepatuhan.

Akar Militer dalam Ruang Sipil

Dalam tradisi militer, bahasa komando memiliki fungsi jelas. Respons harus cepat, tegas, dan hierarkis. Frasa seperti “siap” atau “siap laksanakan” efektif dalam situasi operasi. Masalah muncul ketika bahasa ini bermigrasi ke ruang sipil.

Birokrasi menjadi lahan awal. Struktur vertikal membuat bahasa komando terasa alami. Dunia korporasi kemudian menirunya, sering kali demi citra disiplin dan efisiensi. Lambat laun, bahasa militer berubah menjadi gaya komunikasi sehari-hari.

Akibatnya, nilai egaliter dalam ruang sipil mulai tergerus. Rapat ide yang seharusnya bebas berubah kaku. Setiap pendapat terasa perlu izin. Setiap tugas ditutup dengan kata “siap”.

Feodalisme dalam Kata-Kata

Inilah yang kerap disebut sebagai feodalisme linguistik. Bukan feodalisme klasik, melainkan versi modern yang halus. Ia hadir melalui ritual bahasa yang menegaskan siapa “atas” dan siapa “bawah”.

Contoh sederhana sering terlihat di daftar hadir rapat. Nomor awal dibiarkan kosong untuk atasan, meski staf datang lebih dulu. Logika digeser oleh rasa sungkan. Jika urusan tanda tangan saja tidak setara, bagaimana dengan percakapan?

Dalam dunia profesional, ketimpangan ini terasa nyata. Dialog berubah menjadi laporan satu arah. Kata “mohon izin” menjadi dinding tipis yang memisahkan posisi. Kolaborasi terhambat oleh imajinasi hierarki.

Bahasa sebagai Permainan Kekuasaan

Filsuf Ludwig Wittgenstein pernah menyebut bahasa sebagai permainan. Setiap permainan memiliki aturan. Dalam banyak ruang kerja, permainan yang dimainkan adalah permainan hierarki. Satu pihak memberi instruksi. Pihak lain merespons dengan kepatuhan.

Ketika permainan ini terus diulang, pola pikir ikut terbentuk. Bahasa tidak hanya mencerminkan realitas sosial. Ia juga membangunnya. Dunia yang dipenuhi frasa tunduk akan melahirkan budaya tunduk.

Menuju Bahasa yang Lebih Setara

Apakah solusi berarti menghapus “mohon izin” dan “siap”? Tentu tidak. Bahasa selalu kontekstual. Dalam situasi tertentu, ungkapan itu tetap relevan. Masalahnya bukan pada katanya, melainkan pada kesadaran penggunaannya.

Ada banyak alternatif yang tetap sopan namun lebih egaliter. “Saya ingin menyampaikan…”, “Saya setuju dengan usulan ini”, atau “Baik, akan saya tindak lanjuti.” Kalimat-kalimat ini menjaga hormat tanpa menurunkan posisi penutur.

Demokrasi hidup dari keberanian berbicara. Ia tumbuh dari dialog setara, bukan dari izin yang berlebihan. Setiap kata yang kita pilih membentuk relasi. Ketika kita memilih bahasa yang setara, kita sedang membangun budaya yang lebih sehat.

Pada akhirnya, ini bukan soal gaya bicara. Ini soal cara berpikir. Bahasa yang membebaskan akan melahirkan ruang dialog yang hidup. Dan perubahan besar sering kali dimulai dari hal kecil. Termasuk dari cara kita membuka kalimat, tanpa harus selalu mohon izin.

Bahasa Indonesia Budaya Bahasa Komunikasi Kerja Psikologi Sosial Refleksi Sosial
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleBMKG Imbau Masyarakat Waspada Cuaca Ekstrem Menjelang Nataru
Next Article Mau Upgrade Diri? Inilah 5 Buku yang Wajib Kamu Baca di Awal Tahun

Informasi lainnya

Digital Nomad, Hidup atau Ilusi?

20 Januari 2026

Film Korea Komedi Pilihan untuk Malam Tahun Baru 2026

31 Desember 2025

Etika Toilet Umum, Cermin Kesadaran Sosial Sehari-hari

30 Desember 2025

Mau Upgrade Diri? Inilah 5 Buku yang Wajib Kamu Baca di Awal Tahun

24 Desember 2025

Tips Mengatur Waktu agar Gak Overwhelmed Tiap Hari

12 November 2025

Berhenti Pakai Satu Handuk untuk Badan dan Wajah

31 Oktober 2025
Paling Sering Dibaca

Hukum dan Tata Cara Distribusi Kulit Hewan Qurban dalam Islam

Islami Udex Mundzir

10 Amalan Sunnah di Bulan Ramadhan

Islami Alfi Salamah

Jamaah Haji Wafat Dibadalkan Gratis dengan Sertifikat Bukti

Islami Alfi Salamah

AI Menghapus Pekerjaan Manusia?

Argumen Alfi Salamah

Cokelat! Lezat, Kaya Manfaat, dan Penuh Fakta Menarik

Food Alfi Salamah
Berita Lainnya
Pendidikan
Lisda Lisdiawati28 Januari 2026

Workshop Transformasi Tugas Akhir menjadi Artikel Ilmiah di Politeknik Triguna

Gus Yaqut Disorot KPK di Balik Skema 50:50 Kuota Haji

Susu Dingin atau Hangat, Mana yang Lebih Baik untuk Tubuh?

Workshop Visi SMPN 1 Cisayong Tekankan Karakter Murid

Harga Tandan Buah Segar Sawit di Kaltim Turun Rp2.099,15 per Kilogram

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.