Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Aturan Baru Batasi Medsos Anak Mulai Berlaku

Peluang Usaha di Balik Batas Medsos

Debat Iran Digelar di Samarinda, Publik Ramai

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Senin, 30 Maret 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Tabrani dan Jejak Madura untuk Bangsa

Identitas bangsa lahir dari gagasan inklusif, bukan dominasi satu kelompok, melainkan keberanian menyatukan semua.
Lisda LisdiawatiLisda Lisdiawati29 Maret 2026 Editorial
Tabrani dan Jejak Madura untuk Bangsa
Mohammad Tabrani, sang pencetus Bahasa Indonesia asal Pamekasan, Madura, Jawa Timur (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Di tengah riuh perbedaan Nusantara, lahir satu gagasan yang tidak sekadar menyatukan bahasa, tetapi juga menyatukan arah sejarah bangsa. Gagasan itu datang dari seorang pemuda bernama Muhammad Tabrani, yang pada 1928 mengusulkan istilah “Bahasa Indonesia” dalam Kongres Pemuda II. Sebuah keputusan yang tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menentukan fondasi identitas nasional hingga hari ini.

Dalam konteks sejarah, Indonesia sebelum kemerdekaan adalah ruang yang terfragmentasi. Identitas kedaerahan mendominasi hampir seluruh aspek kehidupan sosial. Orang mengenal dirinya sebagai Jawa, Sunda, Minangkabau, atau Madura. Belum ada kesadaran kolektif yang benar-benar mengikat semua kelompok dalam satu kesatuan politik dan kultural.

Bahasa, yang seharusnya menjadi alat pemersatu, justru mencerminkan fragmentasi tersebut. Bahasa daerah berkembang kuat di wilayah masing-masing. Sementara itu, bahasa Melayu memang telah digunakan sebagai lingua franca, terutama dalam perdagangan dan komunikasi antarwilayah. Namun, ia belum sepenuhnya menjadi simbol identitas bersama.

Di sinilah letak keberanian intelektual Tabrani. Ketika sebagian tokoh pergerakan cenderung memilih istilah “Bahasa Melayu” karena alasan praktis, Tabrani justru melihat persoalan yang lebih mendasar. Ia memahami bahwa bangsa tidak hanya membutuhkan alat komunikasi, tetapi juga simbol yang mampu membangun kesadaran kolektif baru.

Keputusan untuk tidak menggunakan istilah “Melayu” adalah langkah politis sekaligus kultural. Secara politik, ia menolak dominasi satu identitas etnis atas yang lain. Secara kultural, ia membuka ruang bagi seluruh kelompok untuk merasa memiliki bahasa tersebut. Dengan demikian, “Bahasa Indonesia” bukan sekadar bahasa, melainkan konstruksi identitas nasional yang inklusif.

Langkah ini menunjukkan bahwa pembentukan bangsa tidak pernah netral. Ia selalu melibatkan pilihan-pilihan yang sarat makna. Dalam perspektif politik, keputusan penamaan bahasa adalah bagian dari proses nation-building. Ia menentukan siapa yang termasuk dan siapa yang terwakili dalam narasi kebangsaan.

Dari sisi sosial, gagasan Tabrani mempercepat terbentuknya solidaritas lintas etnis. Bahasa Indonesia menjadi medium yang memungkinkan komunikasi tanpa sekat identitas daerah. Dalam waktu relatif singkat, bahasa ini tidak hanya digunakan dalam forum resmi, tetapi juga meresap ke dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Namun, dampak tersebut tidak terjadi secara otomatis. Ia diperkuat oleh peran media dan intelektual pada masa itu. Tabrani sendiri, sebagai wartawan, menggunakan tulisannya untuk menyebarkan gagasan kebangsaan. Pers menjadi alat penting dalam membangun opini publik dan memperluas kesadaran nasional.

Dalam konteks hukum dan kebijakan, pengakuan terhadap Bahasa Indonesia kemudian diperkuat setelah kemerdekaan. Konstitusi Indonesia secara tegas menetapkan bahasa ini sebagai bahasa negara. Kebijakan pendidikan juga menjadikannya sebagai bahasa pengantar utama, yang semakin mengokohkan posisinya dalam kehidupan nasional.

Namun, editorial ini tidak hanya bertujuan mengapresiasi sejarah. Lebih dari itu, kita perlu melihat relevansinya dalam konteks kekinian. Di tengah arus globalisasi dan digitalisasi, identitas nasional kembali menghadapi tantangan. Bahasa asing, terutama Inggris, semakin dominan dalam berbagai sektor, mulai dari pendidikan hingga ekonomi digital.

Fenomena ini tidak sepenuhnya negatif. Penguasaan bahasa asing penting dalam era global. Namun, tanpa kesadaran yang kuat, dominasi tersebut dapat menggerus posisi Bahasa Indonesia sebagai simbol identitas. Di media sosial, misalnya, penggunaan campuran bahasa sering kali dianggap lebih modern dan prestisius.

Di sisi lain, kesenjangan kualitas pendidikan bahasa di berbagai daerah juga menjadi persoalan. Tidak semua masyarakat memiliki akses yang sama terhadap pendidikan Bahasa Indonesia yang baik. Hal ini berpotensi menciptakan ketimpangan dalam kemampuan komunikasi nasional, yang pada akhirnya dapat memengaruhi partisipasi dalam kehidupan sosial dan ekonomi.

Dari perspektif budaya, tantangan lain muncul dalam bentuk homogenisasi. Ketika Bahasa Indonesia menjadi dominan, ada kekhawatiran bahwa bahasa daerah akan terpinggirkan. Padahal, keberagaman bahasa adalah bagian dari kekayaan budaya yang tidak boleh hilang. Di sinilah diperlukan keseimbangan antara menjaga identitas nasional dan melestarikan identitas lokal.

Secara ekonomi, bahasa juga memiliki dimensi strategis. Bahasa Indonesia tidak hanya digunakan di dalam negeri, tetapi juga memiliki potensi sebagai bahasa regional di Asia Tenggara. Dengan jumlah penutur yang besar, bahasa ini dapat menjadi aset dalam diplomasi dan kerja sama ekonomi. Namun, potensi ini belum dimanfaatkan secara optimal.

Melihat berbagai tantangan tersebut, diperlukan langkah-langkah konkret. Pertama, penguatan pendidikan Bahasa Indonesia harus menjadi prioritas. Kurikulum perlu dirancang tidak hanya untuk mengajarkan tata bahasa, tetapi juga untuk menanamkan kesadaran akan pentingnya bahasa sebagai identitas nasional.

Kedua, negara perlu mendorong penggunaan Bahasa Indonesia di ruang publik dan digital. Regulasi yang mendukung penggunaan bahasa nasional dalam media, teknologi, dan layanan publik dapat menjadi salah satu solusi. Namun, pendekatan ini harus dilakukan secara inklusif dan tidak represif.

Ketiga, pelestarian bahasa daerah harus berjalan seiring. Program dokumentasi, revitalisasi, dan pengajaran bahasa daerah perlu diperkuat. Dengan demikian, Indonesia tidak kehilangan kekayaan linguistiknya, sekaligus tetap menjaga kesatuan nasional.

Keempat, peran media dan masyarakat sipil sangat penting. Media harus menjadi ruang yang mempromosikan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, tanpa kehilangan daya tarik bagi generasi muda. Sementara itu, masyarakat perlu didorong untuk bangga menggunakan bahasa nasional dalam kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, apa yang dilakukan Tabrani pada 1928 adalah pengingat bahwa identitas bangsa tidak pernah selesai dibangun. Ia adalah proses yang terus berlangsung, yang membutuhkan kesadaran dan partisipasi semua pihak. Keberanian untuk berpikir melampaui kepentingan sempit menjadi kunci dalam proses tersebut.

Dalam dunia yang semakin terhubung, tantangan terhadap identitas nasional akan semakin kompleks. Namun, sejarah telah menunjukkan bahwa dengan visi yang jelas dan keberanian intelektual, Indonesia mampu menemukan jalannya sendiri.

Kesimpulannya, jejak Tabrani dari Madura bukanlah simbol kedaerahan, melainkan bukti bahwa Indonesia dibangun oleh keberagaman yang berpadu dalam satu tujuan. Editorial ini menegaskan bahwa menjaga dan mengembangkan Bahasa Indonesia adalah tanggung jawab kolektif. Tanpa itu, kita berisiko kehilangan salah satu pilar utama yang menyatukan Indonesia sebagai bangsa.

Bahasa Indonesia Identitas Bangsa Pemuda Indonesia Pergerakan Nasional Sejarah Nasional
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleKoperasi Desa Tanpa Arah Nyata
Next Article Debat Iran Digelar di Samarinda, Publik Ramai

Informasi lainnya

Peluang Usaha di Balik Batas Medsos

29 Maret 2026

Koperasi Desa Tanpa Arah Nyata

28 Maret 2026

Relawan Muda di Arus Mudik

17 Maret 2026

Membatasi Medsos, Mendidik Generasi

16 Maret 2026

Ketika Narkoba Dilindungi Oknum

15 Februari 2026

Politisi dan Nafsu Menguasai Institusi

31 Januari 2026
Paling Sering Dibaca

Kreasi Lezat dari Tape Bandung yang Bikin Nagih

Food Ericka

Prabowo Akan Kehilangan Kesempatan Emas

Editorial Udex Mundzir

Merdeka Jiwa

Gagasan Syamril Al-Bugisyi

Bisnis Militer: Jalan Menuju Politik?

Editorial Udex Mundzir

Garut–BCA via Politri Tasikmalaya 

Profil Adit Musthofa
Berita Lainnya
Pendidikan
Lisda Lisdiawati25 Maret 2026

Imtihan MDTU Al Barokah Cihuni Capai Puncak Acara

Mengapa Banyak Orang Sakit di 10 Hari Terakhir Ramadan?

Prioritas Silaturahmi Lebaran, Siapa Didahulukan?

Krisis Air Bersih Cisayong Saat Lebaran

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi