Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Sudah Kerja Keras, Mengapa Sukses Belum Juga Datang?

Martha Tilaar Wafat, Wariskan Kecantikan Nusantara

Tren Hidup Hemat Gen Z, Gengsi Mulai Ditinggalkan?

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Jumat, 16 Oktober 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Meski Telah Berpura-pura jadi Jakmania, Kang Emil Tetap Kalah

Udex MundzirUdex Mundzir9 Desember 2024 Perspektif
Ridwan Kamil-Suswono saat mendaftar ke KPU DKI Jakarta
Ridwan Kamil-Suswono saat mendaftar ke KPU DKI Jakarta (.lip6)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Kekalahan Ridwan Kamil-Suswono dalam Pilkada DKI Jakarta 2024 menyimpan pelajaran penting tentang kompleksitas politik ibu kota. Sebagai mantan gubernur Jawa Barat dengan popularitas nasional, Ridwan Kamil tampak percaya diri maju ke Jakarta. Namun, hasil akhir menunjukkan pasangan Pramono Anung-Rano Karno justru menguasai panggung dengan perolehan 50,07% suara, unggul satu putaran. Apa yang membuat Ridwan Kamil gagal di Jakarta?

Salah satu faktor utama adalah sentimen identitas yang tak bisa diabaikan. Jakarta, sebagai pusat politik dan ekonomi, memiliki karakter masyarakat yang unik. Meski dikenal secara nasional, Ridwan Kamil masih dianggap sebagai “tokoh Jawa Barat.” KTP Bandung dan fakta bahwa ia mencoblos di Jawa Barat pada hari pemungutan suara semakin menguatkan anggapan bahwa RK-Suswono adalah “pendatang” di Jakarta. Ini kontras dengan pasangan Pramono-Rano, di mana Rano Karno lekat dengan budaya Betawi melalui perannya di “Si Doel Anak Sekolahan.”

Langkah Ridwan Kamil untuk “mendekatkan diri” dengan Jakarta juga menjadi bumerang. Upayanya mengenakan seragam Persija dalam kampanye, misalnya, dianggap publik sebagai pencitraan yang berlebihan. Jakarta, dengan pemilih yang lebih kritis, melihat ini sebagai “pura-pura Jakarta” daripada usaha tulus untuk memahami masyarakat.

Pemilih Jakarta, dengan tingkat pendidikan dan akses informasi yang lebih tinggi, menunjukkan bahwa mereka tidak mudah terbuai pencitraan kosong—berbeda dengan Jawa Barat yang kerap masih terjebak dalam politik transaksional dan pesona permukaan.

Baca Juga:
  • Penyebab dan Dampak Kesombongan dalam Kehidupan Sehari-Hari
  • Ijazah Jokowi, Ada Atau Tidak?
  • Rakyat Tidak Punya Hak untuk Mendapat Keadilan di Negara Hukum
  • Jurnal Ilmiah Indonesia, Banyak Tapi Bagaikan Buih

Faktor lain adalah strategi politik yang terlalu bergantung pada dukungan partai. Ridwan Kamil diusung oleh koalisi besar yang mencakup Presiden Jokowi dan Prabowo Subianto.

Namun, banyak partai di dalam koalisi itu tidak mengerahkan kekuatan penuh. Sebagian “mematikan mesin partai,” sementara yang lain menjalankan kampanye setengah hati. Akibatnya, dukungan besar ini justru menjadi beban yang tak memberikan dampak signifikan di lapangan.

Selain itu, tingkat partisipasi pemilih yang rendah, hanya 57,52%, menjadi tantangan tambahan. Banyak warga Jakarta memilih golput, merasa kandidat yang ada tidak cukup mewakili aspirasi mereka. Hal ini menunjukkan apatisme politik yang semakin meningkat, terutama dibandingkan dengan Pilkada 2017 yang mencatat partisipasi hingga 77,8%.

Blunder besar lainnya adalah pernyataan kontroversial Ridwan Kamil yang bernada seksis. Di kota seperti Jakarta, dengan masyarakat yang lebih terdidik dan progresif, komentar-komentar seperti itu menjadi penghalang besar dalam meraih simpati. Ridwan Kamil tampak kurang memahami karakter masyarakat Jakarta, di mana ketelitian dalam komunikasi politik sangat penting.

Artikel Terkait:
  • Ketika Presiden Diganti, Siapa Memimpin?
  • Pilkada Kabupaten Tasikmalaya 2024, Hanya Legitimasi Kemenangan Petahana
  • Djibouti dan Politik Geografi
  • Ketika Pramuka Belajar Korupsi

Sebaliknya, kemenangan Pramono Anung dan Rano Karno menunjukkan bahwa politik identitas masih kuat di Jakarta. Rano Karno sebagai figur budaya Betawi memberikan keunggulan emosional yang tidak dimiliki pasangan lain. Peran Pramono Anung, meski dianggap tokoh administratif tanpa daya tarik elektoral yang besar, juga berhasil dimaksimalkan oleh PDIP untuk menghadirkan narasi solid.

Namun, kemenangan ini juga tak lepas dari realitas politik Jakarta. Dengan pemilih yang kritis, pasangan yang mampu membangun koneksi emosional dan menawarkan identitas lokal yang kuat lebih cenderung menang. Keberhasilan ini juga menunjukkan bahwa popularitas semata, seperti yang dimiliki Ridwan Kamil di Jawa Barat, tidak otomatis berbuah kemenangan di Jakarta.

Kekalahan Ridwan Kamil di Pilkada Jakarta 2024 adalah cerminan bahwa strategi politik yang gagal memahami masyarakat lokal akan sulit berhasil. Politik metropolitan menuntut lebih dari sekadar popularitas nasional—ia memerlukan pendekatan yang relevan, komunikasi yang cermat, dan koneksi emosional yang tulus. Jakarta adalah arena yang kompleks, dan bagi Ridwan Kamil, ibu kota tetap menjadi kota yang tak tergapai.

Jangan Lewatkan:
  • Ketika Notifikasi Mengalahkan Literasi
  • Jenis-Jenis Bunga, Mengungkap Keindahan dan Pesan di Baliknya
  • Generasi Muda dan Tren Slow Living di Era Digital
  • Rp10 Ribu, Antara Anggaran dan Harapan
Pilkada Jakarta 2024 Politik identitas Ridwan Kamil kalah
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleSunarto: Tiga Strategi untuk Integritas Hakim yang Lebih Baik
Next Article Jika Nanti Status DKI Resmi Dicabut, Ini Dampaknya

Informasi lainnya

Parlemen Ringkas, Pilpres Terbuka

10 Oktober 2026

Siapa yang Layak Dipidana dalam Kasus Gibran

8 Oktober 2026

Syarat Tak Bisa Dicuci Kekuasaan

3 Oktober 2026

Dana Pendidikan Dikorupsi, Sitaan Korupsi untuk Pendidikan Gratis. Aneh!

22 September 2026

Ketika Peneliti Mengurus Kuitansi

10 September 2026

Bank Mandiri dan Krisis Kepercayaan

25 Agustus 2026
Paling Sering Dibaca

Manfaat dan Batas Aman Konsumsi Nanas

Food Silva

Menunda Panggilan Haji: Benarkah Kehendak atau Keragu-raguan

Islami Alfi Salamah

Growth Mindset

Refleksi Syamril Al-Bugisyi

Sabar dan Doa: Kunci Mengubah Hidup Menjadi Lebih Baik

Islami Assyifa

D’MASIV Menuju Panggung Dunia dari Ciledug ke Los Angeles

Happy Ericka
Berita Lainnya
Politik
Udex Mundzir1 Oktober 2026

Jika Gibran Didiskualifikasi, Siapa Pengganti Wapres?

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

PANDI Perketat Aturan Sengketa Domain untuk Cegah Cybersquatting

Modus Janji Cinta Diancam Penjara dalam KUHP Baru

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Perlengkapan Pramuka Lengkap Alat Tulis Sekolah Murah Produk Dapur Terlaris
“Landing

☪   JADWAL SALAT

Mendeteksi lokasi...

Memuat tanggal...

⌖  Menyiapkan lokasi
Memuat jadwal salat...
SALAT BERIKUTNYA —
Menunggu jadwal...
Metode Kemenag RI

© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi