Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

BI Kaltim Siapkan Rp2,18 T untuk Serambi 2026

Tim Kaltim Pantau Harga Pangan di Berau

Awal Ramadhan 1447 H Tunggu Sidang Isbat

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Rabu, 25 Februari 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Koperasi Desa: Membangun atau Menguras?

Ketika kebijakan ekonomi dijalankan tanpa transparansi, peluang pemberdayaan rakyat bisa berubah menjadi lahan korupsi baru.
AssyifaAssyifa4 Maret 2025 Editorial
Risiko Korupsi dalam Koperasi Desa
Prabowo mendirikan Koperasi Desa Merah Putih dengan pendanaan berasal dari Dana Desa (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Pemerintah kembali meluncurkan program besar. Kali ini, Presiden Prabowo Subianto menggagas Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes Merah Putih) yang akan dibentuk di 70.000 desa. Dana untuk program ini diambil dari alokasi dana desa, dengan setiap desa mendapatkan Rp 3-5 miliar dalam lima tahun. Pemerintah mengklaim koperasi ini akan menjadi pusat ekonomi desa dan memutus rantai distribusi yang merugikan produsen dan konsumen.

Namun, pertanyaan mendasar muncul: Apakah ini benar-benar untuk kesejahteraan rakyat, atau justru membuka peluang bagi praktik korupsi terselubung?

Konsep koperasi sebagai wadah ekonomi masyarakat memang menarik. Tetapi sejarah menunjukkan bahwa tidak semua koperasi dikelola dengan baik. Banyak koperasi akhirnya hanya menguntungkan segelintir orang, dengan pengelolaan keuangan yang tidak transparan. Jika koperasi ini mendapatkan kucuran dana besar tanpa mekanisme kontrol yang jelas, risiko kebocoran anggaran sangat tinggi.

Selain itu, keterlibatan Danantara—holding BUMN baru yang dibentuk untuk mengelola aset nasional—juga patut dicermati. Apakah koperasi ini akan mendapat suntikan dana dari Danantara? Jika iya, maka ada potensi besar tumpang tindih kebijakan antara koperasi rakyat dan bisnis BUMN. Ini bisa menciptakan persaingan yang tidak sehat dan mengaburkan tujuan awal koperasi, yang seharusnya berbasis pada pemberdayaan ekonomi masyarakat desa.

Dari sisi implementasi, program ini menghadapi tantangan besar dalam hal efektivitas. Jika koperasi ini benar-benar menjadi pusat ekonomi desa, maka siapa yang akan mengelolanya? Apakah ada jaminan bahwa pengurus koperasi dipilih secara demokratis dan bukan hanya orang-orang titipan? Salah kelola dapat membuat koperasi ini menjadi alat politik atau bisnis elite tertentu.

Tanpa mekanisme pengawasan yang kuat, Kopdes Merah Putih berisiko menjadi lahan korupsi baru, dengan modus mengalihkan dana desa ke proyek-proyek yang dikendalikan oleh pejabat dan kroninya. Dalam banyak kasus, dana desa sering kali bocor dalam bentuk proyek fiktif, mark-up anggaran, dan pembagian keuntungan yang tidak adil.

Jika pemerintah benar-benar ingin program ini berhasil, maka transparansi total dalam pengelolaan dana menjadi keharusan. Semua pemasukan dan pengeluaran harus terbuka untuk publik, dengan audit berkala oleh lembaga independen. Partisipasi aktif masyarakat desa juga harus diperkuat agar pengurus koperasi dipilih secara demokratis, bukan ditunjuk oleh pemerintah atau elite lokal.

Jaminan bahwa koperasi ini benar-benar untuk rakyat juga menjadi hal krusial. Jika ada intervensi dari Danantara atau BUMN lainnya, harus dipastikan bahwa keuntungan tetap kembali ke masyarakat desa, bukan ke kantong investor atau pejabat.

Koperasi desa bisa menjadi solusi atau justru masalah baru. Jika pengelolaannya tidak transparan dan akuntabel, maka Kopdes Merah Putih bisa berubah dari program pemberdayaan menjadi alat eksploitasi ekonomi desa.

Dana Desa Danantara Ekonomi Desa Koperasi Desa Prabowo Subianto
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleDPR Soroti Kepailitan Sritex: Tragedi Nasional
Next Article Run Street Ramadhan Kukar Dorong Gaya Hidup Positif Pemuda

Informasi lainnya

Ketika Narkoba Dilindungi Oknum

15 Februari 2026

Politisi dan Nafsu Menguasai Institusi

31 Januari 2026

Gaduh Ijazah dan Politik Adu Domba

26 Januari 2026

Warisan Masalah Era Jokowi

19 Januari 2026

ASEAN di Tengah Preseden Maduro

5 Januari 2026

Bupati Aceh Utara Pertanyakan Absennya Presiden Saat Banjir

30 Desember 2025
Paling Sering Dibaca

Kamu Menjadi Korban Penipuan Online? Begini Cara Melapornya

Bisnis Assyifa

Sekolah Jam 6, Jam Malam Jam 9

Editorial Udex Mundzir

TikTok & Konten Viral

Opini Alfi Salamah

Tessa Wijaya, Wanita di Balik Kesuksesan Xendit

Profil Assyifa

Rahasia Minyak Zaitun untuk Kulit dan Rambut Sehat

Daily Tips Ericka
Berita Lainnya
Nasional
Lisda Lisdiawati5 Februari 2026

Ramadan 2026: Kemenag Tetapkan Batas Volume Toa Masjid

Limbah Kelapa Muda Menumpuk, Teh Ros Tawarkan Gratis

Haji 2026 Diperketat, Jemaah Tak Sehat Terancam Gagal Berangkat

BMKG Ingatkan Hujan Lebat 15-21 Februari

Lima Fakta Menarik tentang Penemuan Ruang Antarbintang Voyager

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot thailand slot gacor slot gacor slot gacor