Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Rekening Botok Dibuka Lagi Usai Klarifikasi Polisi

Kwarnas Dorong Jutaan Jam Bakti Pramuka Tercatat Global

Aura Farming Viral, Mengapa Semua Ingin Terlihat Keren?

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Rabu, 26 Agustus 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Bukan Lalai, Tapi Sinyal Korupsi

Ketika ribuan pejabat tak lapor harta kekayaan, itu bukan sekadar kelalaian administratif—itu tanda bahwa sesuatu sedang disembunyikan.
Udex MundzirUdex Mundzir26 Maret 2025 Editorial
Ketidakpatuhan LHKPN dan Potensi Korupsi
Ilustrasi Ketidakpatuhan LHKPN dan Potensi Korupsi
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Ketika Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkap lebih dari 50 ribu penyelenggara negara belum menyampaikan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) tahun 2024, masyarakat berhak bertanya: ada apa yang ingin disembunyikan?

Dalam sistem demokrasi yang sehat, pejabat publik harus menjadi teladan integritas. Pelaporan LHKPN adalah kewajiban hukum sekaligus komitmen etis untuk bersikap transparan kepada rakyat.

Ketidakpatuhan terhadap kewajiban ini bukan sekadar kelalaian administratif—melainkan alarm dini adanya potensi korupsi dan praktik pencucian uang.

Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Ahmad Sahroni, menyuarakan keresahan itu dengan tajam. Ia mendesak agar KPK menerapkan sistem sanksi nyata—bukan sekadar imbauan.

Gaji pejabat bisa ditahan, promosi dibekukan, atau akses ke fasilitas negara dibatasi jika mereka gagal melapor.

Usulan ini bukan bentuk represifisme, melainkan tindakan korektif atas kegagalan moral kolektif di kalangan birokrasi.

Karena fakta bahwa ada ribuan pejabat yang menghindar dari pelaporan wajib menunjukkan bahwa rasa malu dan rasa takut mereka terhadap hukum sudah menghilang.

Masalahnya, pemerintah dan KPK terlalu lunak. Setiap tahun, ketidakpatuhan ini selalu terjadi, tetapi tidak ada sanksi tegas yang dijatuhkan.

Padahal, dalam banyak kasus korupsi besar, ketidaksesuaian atau penggelapan LHKPN menjadi titik masuk awal penyelidikan.

Rafael Alun, pejabat pajak yang gaya hidupnya mewah tak sesuai gaji, akhirnya terseret kasus korupsi setelah publik dan media mencurigai laporan hartanya.

Baca Juga:
  • Polres Sampang Kecolongan
  • Pendidikan Tersedot Program MBG
  • Koperasi Desa atau Alat Kuasa?
  • Koperasi Rasa Franchise

Kasus serupa bisa saja sedang dipelihara diam-diam oleh ribuan pejabat yang enggan terbuka.

Sistem LHKPN yang dibangun pasca-reformasi pada dasarnya merupakan pagar konstitusional agar kekuasaan tidak menjadi celah memperkaya diri.

Namun pagar itu kini keropos, bukan karena sistemnya buruk, tapi karena pengawasannya longgar dan pelanggarnya tidak pernah dipermalukan.

Tidak ada publikasi resmi siapa saja yang tidak patuh, tidak ada langkah diskualifikasi dari jabatan publik, dan tidak ada tekanan sosial yang cukup.

Bahkan pejabat-pejabat yang terang-terangan tidak melapor tetap hadir di podium, tetap menikmati fasilitas negara, dan tetap bicara soal etika.

Dalam konteks krisis kepercayaan terhadap pemerintahan dan meningkatnya angka kemiskinan, pelanggaran semacam ini menyakitkan.

Rakyat dibebani pajak, dibatasi akses layanan, sementara elite pemerintahan justru menyembunyikan kekayaan mereka.

Ini bukan persoalan pelaporan, tetapi persoalan niat. Jika memang tidak ada yang disembunyikan, laporkan saja.

Sistemnya sudah digital, prosesnya transparan. Hanya orang yang punya beban moral atau kekayaan ilegal yang takut melaporkan harta kekayaannya.

Masalah ini juga membuka pertanyaan lain: apakah KPK masih bisa bertaring?

Artikel Terkait:
  • Dosen: Akademisi atau Aparatur?
  • QR Warung dan Ketakutan Amerika
  • Regulasi Pers Tanpa Arah
  • Ketika Kebijakan Membakar Dapur Rakyat

Sejak revisi UU KPK pada 2019, lembaga ini perlahan dilumpuhkan secara sistemik.

Pimpinan KPK saat ini lebih banyak tampil di ruang publik dengan bahasa normatif ketimbang tindakan keras.

Penyakit sistemik ini tidak akan sembuh dengan imbauan moral, melainkan dengan tekanan politik dari publik dan sanksi tegas yang ditegakkan tanpa kompromi.

Apalagi di era pemerintahan Prabowo Subianto yang segera dimulai, sinyal-sinyal konsolidasi kekuasaan dan kembalinya gaya pemerintahan terpusat semakin jelas.

Dalam situasi ini, lembaga pengawas seperti KPK justru harus memperkuat perannya agar tidak menjadi alat kosmetik belaka.

LHKPN adalah instrumen konstitusional yang bisa mencegah dominasi oligarki.

Ketika ribuan pejabat menghindar dari kewajiban ini, sesungguhnya mereka sedang memberi sinyal bahwa sistem ini bisa ditipu, dan kekuasaan bisa dibungkus dengan kebohongan.

Editorial ini meyakini bahwa ketegasan terhadap pelanggar LHKPN adalah ujian besar bagi keseriusan negara dalam menjaga demokrasi.

Jangan Lewatkan:
  • Jangan Goyang Pemerintah Sah
  • Pilwalkot Samarinda 2024: Formalitas Saja
  • Vonis Sepotong, Keadilan Cacat
  • Negara Diam, Judi Online Merajalela

Jika KPK masih memiliki keberanian, inilah saatnya menunjukkan bahwa lembaga itu bukan hanya simbol semata.

Harta yang disembunyikan hari ini bisa jadi bom waktu yang meledak besok.

Dan setiap pejabat yang gagal melapor harus dianggap sebagai calon koruptor sampai terbukti sebaliknya.

Harta Pejabat Integritas Publik Korupsi pejabat KPK LHKPN
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleProgram Nyaman Bejukut Kukar Berlanjut, Fokus Dorong Kemandirian Nelayan
Next Article Buka Puasa DWP Kukar Jadi Momen Spesial Ultah Ketua Hj Yulaikah

Informasi lainnya

Mengapa Korupsi Menjadi Budaya?

15 Agustus 2026

Hibah untuk Aparat, Buat Apa?

12 Juli 2026

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

12 Juni 2026

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Ulang Tahun Google ke-25 Tahun: Perjalanan Singkat dan Inovasi Saat Ini

Refleksi Ericka

6 Karakter Muslimah High Value Masa Kini

Islami Alfi Salamah

Agar Generasi Z tidak Mencemaskan

Refleksi Syamril Al-Bugisyi

B.J. Habibie: Arsitek Kebebasan Pers Indonesia

Profil Ericka

7 Rekomendasi Masakan Sehat untuk Bekal Anak Sekolah

Daily Tips Alfi Salamah
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Ujian Tatap Muka UT di Tasikmalaya Berjalan Tertib dan Ketat

Gunung Raung Erupsi, Warga Diminta Jauhi Kawah dalam Radius Tiga Kilometer

Tugu Titik Nol IKN Bertuliskan ‘Lorem Ipsum’, Jadi Simbol Ibu Kota yang Masih ‘Draft’

Lari Rutin Tapi Berat Badan Naik? Ini Penyebabnya!

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Alat Tulis Sekolah Murah Mic Wireless Untuk Masjid Produk Dapur Terlaris
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi