Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

BI Kaltim Siapkan Rp2,18 T untuk Serambi 2026

Tim Kaltim Pantau Harga Pangan di Berau

Awal Ramadhan 1447 H Tunggu Sidang Isbat

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Rabu, 25 Februari 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Ijazah Pejabat Harus Diverifikasi Ulang

Tanpa verifikasi menyeluruh dan transparan, integritas kepemimpinan akan terus terancam oleh kecurigaan dan manipulasi dokumen.
Udex MundzirUdex Mundzir15 April 2025 Editorial
Verifikasi Ijazah Pejabat Indonesia
Ilustrasi Verifikasi Ijazah Pejabat Indonesia (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Kisruh dugaan ijazah palsu Jokowi yang tak kunjung reda menunjukkan kegagalan sistem kita dalam menegakkan standar transparansi. Isu ini telah berulang kali dibantah, namun tetap hidup di tengah publik karena satu hal yang sederhana: tidak pernah ada bukti fisik yang ditunjukkan langsung oleh sang pemilik ijazah.

Masalah ini tak boleh dilihat semata sebagai fitnah politik. Ia menyentuh soal integritas dan akuntabilitas pejabat publik—sebuah fondasi dasar dalam negara demokrasi. Bila seorang kepala negara saja bisa terus dirundung polemik seputar ijazah tanpa penyelesaian transparan, bagaimana kita bisa yakin bahwa pejabat-pejabat lainnya benar-benar lolos dari manipulasi serupa?

Ini bukan tuduhan liar. Ini kritik terhadap sistem yang selama ini gagal menjalankan fungsi dasarnya.

Panitia pemilihan dan lembaga pengawas seperti KPU dan Bawaslu seharusnya memverifikasi keabsahan dokumen calon pejabat publik secara menyeluruh sebelum mereka ditetapkan. Tapi kenyataannya, proses itu lebih sering bersifat administratif: asal ada fotokopi ijazah, selesai.

Tidak ada klarifikasi mendalam ke institusi asal, tidak ada mekanisme publikasi hasil verifikasi, dan tidak ada sanksi jelas bila ditemukan kejanggalan.

Inilah akar masalahnya.

Isu seperti ini seharusnya bisa dihentikan sejak awal jika lembaga pemilu bekerja secara profesional dan transparan. Namun karena KPU dan Bawaslu selama ini hanya menjadi pelaksana teknis, bukan penjaga moralitas pemilu, maka celah-celah seperti ini dibiarkan terbuka.

Sudah saatnya Indonesia mengambil langkah korektif besar:
Lakukan verifikasi ulang seluruh dokumen ijazah pejabat publik yang sedang menjabat.

Mulai dari Presiden, Wakil Presiden, menteri, DPR, DPD, kepala daerah, hingga kepala desa. Termasuk juga para anggota DPRD di seluruh provinsi dan kabupaten.

Namun, jangan diberikan lagi pada KPU atau institusi politik. Verifikasi harus dilakukan oleh lembaga independen yang kredibel, misalnya kombinasi dari Arsip Nasional, Ombudsman, PPATK, LSM audit publik, dan perwakilan akademisi dari kampus-kampus negeri.

Tugas mereka adalah memeriksa keaslian dokumen, mencocokkannya dengan arsip universitas dan sekolah, serta memastikan tidak ada ijazah fiktif yang lolos ke sistem pemerintahan.

Hasil verifikasi wajib diumumkan ke publik secara terbuka melalui media nasional, situs resmi, dan kanal informasi publik lainnya.

Langkah ini bukan hanya untuk membungkam isu lama, tetapi juga untuk mencegah kebohongan baru. Kita tidak tahu berapa banyak pejabat di negeri ini yang mungkin lolos karena lemahnya verifikasi administrasi pemilu.

Dan ingat: publik punya hak untuk tahu.

Mengurus bantuan sosial saja rakyat harus menunjukkan berlembar-lembar dokumen. Sementara pejabat publik, dengan anggaran miliaran dan kekuasaan besar, justru bisa diloloskan hanya karena lampiran ijazah tanpa verifikasi nyata.

Itu ketimpangan yang tidak bisa dibiarkan.

Ada yang mungkin berargumen bahwa ini terlalu berlebihan. Tapi pertanyaannya sederhana: jika memang tidak ada yang salah, kenapa harus takut diverifikasi?

Langkah ini juga akan menyehatkan demokrasi dalam jangka panjang. Ia akan memberikan efek jera bagi calon pejabat yang ingin memalsukan identitas akademiknya. Di saat yang sama, rakyat bisa mendapatkan jaminan bahwa orang-orang yang mereka pilih benar-benar punya rekam jejak pendidikan yang dapat dibuktikan.

Kita juga harus mencermati bahwa lemahnya literasi politik dan keterbukaan informasi telah menciptakan ruang nyaman bagi fitnah maupun kebohongan. Publik akhirnya tidak punya alat untuk membedakan mana yang nyata dan mana yang manipulatif.

Ketika negara tidak menyediakan kejelasan, rakyat akan mencari kebenaran di tempat lain. Itulah sebabnya hoaks bisa tumbuh liar.

Dan dalam situasi seperti itu, tanggung jawab utama bukan pada pembuat hoaks, tapi pada negara yang membiarkan ruang gelap tanpa cahaya informasi.

Verifikasi ulang ini akan memperbaiki kepercayaan publik yang selama ini terkikis. Ini adalah cara konkret untuk menyegarkan kembali semangat keterbukaan dan akuntabilitas yang selama ini hanya dijadikan jargon kampanye.

Kita tidak bisa terus hidup dalam sistem yang membiarkan kebohongan tumbuh diam-diam, lalu baru geger ketika skandal terungkap.

Dengan sistem verifikasi ulang yang terbuka dan terukur, kita bisa menutup pintu itu. Bukan untuk memburu siapa pun, tapi untuk memperkuat demokrasi.

Jika demokrasi ingin sehat, maka pemimpinnya harus lolos dari uji kebenaran. Dimulai dari dokumen sekecil ijazah.

Ijazah Pejabat Publik Integritas Kepemimpinan KPU Gagal Transparansi Pemilu Verifikasi Independen
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleGunung Semeru Meletus, Kolom Abu Capai 1.000 Meter
Next Article Bupati Kukar Resmikan Gedung Baru SMP SPT Desa Separi

Informasi lainnya

Ketika Narkoba Dilindungi Oknum

15 Februari 2026

Politisi dan Nafsu Menguasai Institusi

31 Januari 2026

Gaduh Ijazah dan Politik Adu Domba

26 Januari 2026

Warisan Masalah Era Jokowi

19 Januari 2026

ASEAN di Tengah Preseden Maduro

5 Januari 2026

Menguji Gelar Pahlawan Soeharto

13 November 2025
Paling Sering Dibaca

Ketika Dilempari Batu, Bangunlah Istana: Pelajaran Bijak Menghadapi Kritik

Opini Udex Mundzir

Generasi Muda dan Tren Slow Living di Era Digital

Opini Alfi Salamah

Zainal Abidin Syah, Sultan Pejuang Papua

Profil Alfi Salamah

Menjaga Amanah

Islami Syamril Al-Bugisyi

Tips Hindari FOMO Agar Tetap Kalem dan Bahagia

Daily Tips Ericka
Berita Lainnya
Nasional
Lisda Lisdiawati5 Februari 2026

Ramadan 2026: Kemenag Tetapkan Batas Volume Toa Masjid

Limbah Kelapa Muda Menumpuk, Teh Ros Tawarkan Gratis

Haji 2026 Diperketat, Jemaah Tak Sehat Terancam Gagal Berangkat

Pelaku UMKM Kesulitan Jadi Mitra MBG, Syarat Dinilai Berat

BMKG Ingatkan Hujan Lebat 15-21 Februari

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot thailand slot gacor slot gacor slot gacor