Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Cak Sholeh Wafat, Tinggalkan Jejak Advokasi Warga

Curi Start, Mugus PP Khalifa Langsung Eksekusi SK Kwarnas Terbaru

Ketua Dewan Racana Pesantren Khalifa Dilantik

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Kamis, 13 Agustus 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Coba Vaksin? Wakil Rakyat Dulu!

Kalau mereka mewakili kita untuk gaji dan fasilitas, mestinya mereka juga mewakili dalam menanggung risiko publik.
Udex MundzirUdex Mundzir1 Juni 2025 Editorial
Wakil Rakyat dan Uji Coba Vaksin TBC di Indonesia
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Ada yang ganjil tapi sudah dianggap biasa. Setiap kali negara butuh sukarelawan untuk uji coba vaksin, yang dicari adalah masyarakat umum. Orang-orang biasa. Warga sipil yang barangkali bahkan tidak tahu secara rinci apa isi vaksinnya, bagaimana risikonya, atau apa implikasinya jangka panjangnya.

Baru-baru ini Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) membuka pendaftaran 2.000 sukarelawan untuk uji coba vaksin TBC (Tuberkulosis) yang didukung oleh Bill & Melinda Gates Foundation. Vaksin ini adalah bagian dari upaya global mengatasi penyakit menular yang masih jadi momok di banyak negara berkembang.

Namun, yang menarik bukan soal vaksinnya. Tapi siapa yang diminta untuk ikut uji coba: masyarakat. Bukan pejabat. Bukan elite. Dan tentu saja, bukan para wakil rakyat.

Padahal, jika berbicara dalam kerangka representasi, bukankah mereka—anggota DPR, DPD, DPRD, bahkan MPR—yang selalu menyebut diri sebagai “wakil rakyat”?

Lantas, jika ada risiko, mengapa rakyat yang harus lebih dulu mewakili?

Pertanyaan ini sederhana, tapi punya makna yang dalam. Karena kita tahu: ketika giliran pembagian fasilitas, mereka ada di barisan depan.

Mereka dapat tunjangan rumah, mobil dinas, dana aspirasi, perjalanan luar negeri, bahkan pengamanan khusus. Mereka juga punya ruang kerja mewah, gaji tinggi, dan berbagai fasilitas kelas satu yang sulit dibayangkan oleh mayoritas rakyat Indonesia.

Semua itu diterima atas nama “wakil rakyat”.

Tapi ketika negara butuh sukarelawan untuk sesuatu yang mengandung risiko—seperti uji coba vaksin—mengapa tiba-tiba rakyat yang didorong ke depan?

Inilah titik persoalan yang mengguncang rasa keadilan.

Sebagai negara demokrasi, kita membanggakan sistem perwakilan. Tapi sistem ini seolah hanya bekerja satu arah. Dalam hal keuntungan, para wakil rakyat dengan cepat mengklaim hak. Tapi dalam hal risiko, mereka menghilang dari panggung.

Baca Juga:
  • Kalau Ijazah Jokowi Palsu, Siapa Masuk Penjara?
  • Sahabat AI dan Ilusi Kedaulatan Digital
  • Vonis Sepotong, Keadilan Cacat
  • Di Balik Kegelapan yang Diteriakkan

Padahal, menjadi wakil rakyat bukan hanya soal mengambil keputusan atas nama publik. Tapi juga soal berbagi beban, berbagi risiko, berbagi kenyataan.

Bayangkan jika para anggota DPR dan DPD ikut secara terbuka dalam uji coba vaksin ini. Tidak hanya menyatakan dukungan lewat konferensi pers, tetapi betul-betul ikut mendaftarkan diri.

Apa yang akan terjadi? Setidaknya ada dua dampak positif.

Pertama, rasa keadilan publik akan pulih. Rakyat akan merasa bahwa para wakilnya tidak hanya pandai bicara, tapi juga berani ambil peran dalam situasi sulit.

Kedua, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap vaksin akan meningkat drastis. Jika publik melihat bahwa para pejabat tinggi ikut serta dalam uji coba, maka keraguan yang selama ini menghambat program vaksinasi bisa berkurang.

Selama ini, masyarakat sering jadi objek uji coba tanpa merasa memiliki kuasa. Banyak yang hanya ikut karena dibujuk, diberi insentif kecil, atau karena ketidaktahuan.

Tentu, dalam praktiknya, uji coba vaksin memiliki standar etika yang ketat. Tidak boleh sembarang orang dipaksa. Semua harus bersifat sukarela. Itu prinsip global.

Namun di luar kerangka prosedural itu, ada satu hal yang jauh lebih penting: legitimasi moral.

Jika negara meminta rakyat untuk “berpartisipasi” dalam uji coba yang masih belum final, maka negara juga harus menunjukkan bahwa mereka yang duduk di atas punya keberanian yang sama.

Sebab kepercayaan publik bukan dibangun oleh seminar. Tapi oleh teladan.

Artikel Terkait:
  • Antara Sekolah Garuda dan Sekolah Rakyat
  • Jangan Serahkan Pendidikan ke Negara yang Tak Konsisten
  • Garuda Pertiwi: Semangat Tanpa Batas di Balik Trofi Perdana
  • Politik Warisan yang Membelit

Dan inilah krisis kita hari ini: terlalu banyak teori, terlalu sedikit teladan.

Kita sudah terlalu lama menyaksikan para wakil rakyat hanya menjadi simbol saat peresmian, saat pemotongan pita, saat duduk di panggung kehormatan. Tapi tidak terlihat ketika rakyat butuh pembelaan, perlindungan, dan rasa aman.

Inilah saatnya mereka membuktikan: apakah mereka sungguh “wakil rakyat” atau sekadar penikmat status.

Mereka yang berani menerima mobil dinas baru seharusnya juga berani menerima dosis pertama vaksin uji coba.

Mereka yang rela memperjuangkan kenaikan tunjangan semestinya juga rela menunjukkan keberanian dalam hal kesehatan publik.

Jika tidak, maka status “wakil rakyat” hanyalah kedok untuk mengelabui demokrasi.

Rakyat tidak butuh perwakilan yang hanya hadir saat acara formal. Rakyat butuh perwakilan yang hadir saat nyawa dan kesehatan jadi taruhan.

Karena jika yang “mewakili” hanya dalam hal keuntungan, dan yang “diwakili” justru yang menanggung risiko, maka demokrasi telah kehilangan makna dasarnya.

Jangan Lewatkan:
  • Negeri Pungli dan Pajak Tinggi
  • Ijazah Pejabat Harus Diverifikasi Ulang
  • Jabatan Simbolis atau Ancaman Toleransi?
  • Mike Tyson vs Jake Paul, Duel Fenomenal untuk Konten YouTube!

Maka wajar jika muncul ide satiris: biarkan 2.000 wakil rakyat itu menjadi sukarelawan vaksin. Kalau mereka tidak bersedia, silakan ajukan surat pengunduran diri.

Bangsa ini tidak kekurangan tenaga medis, ilmuwan, atau pejabat yang berintegritas. Tapi kita kekurangan keberanian di level pengambilan keputusan.

Saatnya mengubah arah. Jadikan wakil rakyat benar-benar perwakilan, bukan sekadar pelabelan.

Kalau mereka bisa mewakili kita dalam menerima fasilitas, maka mereka juga harus bersedia mewakili kita dalam risiko.

BPOM TBC Indonesia Uji Coba Vaksin Vaksin Bill Gates wakil rakyat
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleJangan Normalisasi Israel
Next Article Kemenag Tegaskan Belum Ada Kepastian Pembukaan Visa Furoda

Informasi lainnya

Hibah untuk Aparat, Buat Apa?

12 Juli 2026

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

12 Juni 2026

BPOM Perketat Vape, Remaja Jadi Fokus Perlindungan

22 Mei 2026

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Enam Penyakit Hati dalam Islam dan Cara Menyembuhkannya

Islami Alfi Salamah

Rusia dan Ancaman Tsunami Abadi

Editorial Udex Mundzir

Cara Membuat Kimchi Korea Autentik

Food Alfi Salamah

Sikap PDIP: Antara Prinsip dan Kepentingan

Editorial Udex Mundzir

Bahlil Memang Tidak Punya Urat Malu

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Ekonomi
Ericka29 Mei 2025

Presiden Prabowo Izinkan Ekspor Beras ke Malaysia

Diplomasi Ubah Peta, Sebatik Bertambah Luas

Curi Start, Mugus PP Khalifa Langsung Eksekusi SK Kwarnas Terbaru

Manfaat Sehat Biji Selasih untuk Tubuh dan Kulit

PP Khalifa Matangkan Adaptasi SK Kwarnas Terbaru Menjelang Mugus

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Alat Tulis Sekolah Murah Mic Wireless Untuk Masjid Buku Anak Islami Murah
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi