Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2026
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

BEM UI Turun ke Bundaran HI, Soroti Ekonomi dan APBN

Meksiko Awali Piala Dunia 2026 dengan Kemenangan 2-0

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Minggu, 14 Juni 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2026
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Coba Vaksin? Wakil Rakyat Dulu!

Kalau mereka mewakili kita untuk gaji dan fasilitas, mestinya mereka juga mewakili dalam menanggung risiko publik.
Udex MundzirUdex Mundzir1 Juni 2025 Editorial
Wakil Rakyat dan Uji Coba Vaksin TBC di Indonesia
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Ada yang ganjil tapi sudah dianggap biasa. Setiap kali negara butuh sukarelawan untuk uji coba vaksin, yang dicari adalah masyarakat umum. Orang-orang biasa. Warga sipil yang barangkali bahkan tidak tahu secara rinci apa isi vaksinnya, bagaimana risikonya, atau apa implikasinya jangka panjangnya.

Baru-baru ini Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) membuka pendaftaran 2.000 sukarelawan untuk uji coba vaksin TBC (Tuberkulosis) yang didukung oleh Bill & Melinda Gates Foundation. Vaksin ini adalah bagian dari upaya global mengatasi penyakit menular yang masih jadi momok di banyak negara berkembang.

Namun, yang menarik bukan soal vaksinnya. Tapi siapa yang diminta untuk ikut uji coba: masyarakat. Bukan pejabat. Bukan elite. Dan tentu saja, bukan para wakil rakyat.

Padahal, jika berbicara dalam kerangka representasi, bukankah mereka—anggota DPR, DPD, DPRD, bahkan MPR—yang selalu menyebut diri sebagai “wakil rakyat”?

Lantas, jika ada risiko, mengapa rakyat yang harus lebih dulu mewakili?

Pertanyaan ini sederhana, tapi punya makna yang dalam. Karena kita tahu: ketika giliran pembagian fasilitas, mereka ada di barisan depan.

Mereka dapat tunjangan rumah, mobil dinas, dana aspirasi, perjalanan luar negeri, bahkan pengamanan khusus. Mereka juga punya ruang kerja mewah, gaji tinggi, dan berbagai fasilitas kelas satu yang sulit dibayangkan oleh mayoritas rakyat Indonesia.

Semua itu diterima atas nama “wakil rakyat”.

Tapi ketika negara butuh sukarelawan untuk sesuatu yang mengandung risiko—seperti uji coba vaksin—mengapa tiba-tiba rakyat yang didorong ke depan?

Inilah titik persoalan yang mengguncang rasa keadilan.

Sebagai negara demokrasi, kita membanggakan sistem perwakilan. Tapi sistem ini seolah hanya bekerja satu arah. Dalam hal keuntungan, para wakil rakyat dengan cepat mengklaim hak. Tapi dalam hal risiko, mereka menghilang dari panggung.

Baca Juga:
  • Jangan Lupa! Palestina Dirampas, Israel Berdiri
  • Di Balik Kegelapan yang Diteriakkan
  • Di Atas Hukum, Di Luar Akal Sehat
  • Bahlil dan Wajah Baru Penjajahan

Padahal, menjadi wakil rakyat bukan hanya soal mengambil keputusan atas nama publik. Tapi juga soal berbagi beban, berbagi risiko, berbagi kenyataan.

Bayangkan jika para anggota DPR dan DPD ikut secara terbuka dalam uji coba vaksin ini. Tidak hanya menyatakan dukungan lewat konferensi pers, tetapi betul-betul ikut mendaftarkan diri.

Apa yang akan terjadi? Setidaknya ada dua dampak positif.

Pertama, rasa keadilan publik akan pulih. Rakyat akan merasa bahwa para wakilnya tidak hanya pandai bicara, tapi juga berani ambil peran dalam situasi sulit.

Kedua, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap vaksin akan meningkat drastis. Jika publik melihat bahwa para pejabat tinggi ikut serta dalam uji coba, maka keraguan yang selama ini menghambat program vaksinasi bisa berkurang.

Selama ini, masyarakat sering jadi objek uji coba tanpa merasa memiliki kuasa. Banyak yang hanya ikut karena dibujuk, diberi insentif kecil, atau karena ketidaktahuan.

Tentu, dalam praktiknya, uji coba vaksin memiliki standar etika yang ketat. Tidak boleh sembarang orang dipaksa. Semua harus bersifat sukarela. Itu prinsip global.

Namun di luar kerangka prosedural itu, ada satu hal yang jauh lebih penting: legitimasi moral.

Jika negara meminta rakyat untuk “berpartisipasi” dalam uji coba yang masih belum final, maka negara juga harus menunjukkan bahwa mereka yang duduk di atas punya keberanian yang sama.

Sebab kepercayaan publik bukan dibangun oleh seminar. Tapi oleh teladan.

Artikel Terkait:
  • Bahlil Memang Tidak Punya Urat Malu
  • Prabowo itu Bayang-Bayang Jokowi atau Pemimpin Baru?
  • Hukum yang Dikebut, Rakyat yang Terjebak
  • Menghapus Jerat Judi Online Pasca Pilkada

Dan inilah krisis kita hari ini: terlalu banyak teori, terlalu sedikit teladan.

Kita sudah terlalu lama menyaksikan para wakil rakyat hanya menjadi simbol saat peresmian, saat pemotongan pita, saat duduk di panggung kehormatan. Tapi tidak terlihat ketika rakyat butuh pembelaan, perlindungan, dan rasa aman.

Inilah saatnya mereka membuktikan: apakah mereka sungguh “wakil rakyat” atau sekadar penikmat status.

Mereka yang berani menerima mobil dinas baru seharusnya juga berani menerima dosis pertama vaksin uji coba.

Mereka yang rela memperjuangkan kenaikan tunjangan semestinya juga rela menunjukkan keberanian dalam hal kesehatan publik.

Jika tidak, maka status “wakil rakyat” hanyalah kedok untuk mengelabui demokrasi.

Rakyat tidak butuh perwakilan yang hanya hadir saat acara formal. Rakyat butuh perwakilan yang hadir saat nyawa dan kesehatan jadi taruhan.

Karena jika yang “mewakili” hanya dalam hal keuntungan, dan yang “diwakili” justru yang menanggung risiko, maka demokrasi telah kehilangan makna dasarnya.

Jangan Lewatkan:
  • PDIP Pecat Jokowi: Dinamika Baru
  • Gaya Politik Kekanak-Kanakan Ala RIDO
  • Mike Tyson vs Jake Paul, Duel Fenomenal untuk Konten YouTube!
  • Relawan Muda di Arus Mudik

Maka wajar jika muncul ide satiris: biarkan 2.000 wakil rakyat itu menjadi sukarelawan vaksin. Kalau mereka tidak bersedia, silakan ajukan surat pengunduran diri.

Bangsa ini tidak kekurangan tenaga medis, ilmuwan, atau pejabat yang berintegritas. Tapi kita kekurangan keberanian di level pengambilan keputusan.

Saatnya mengubah arah. Jadikan wakil rakyat benar-benar perwakilan, bukan sekadar pelabelan.

Kalau mereka bisa mewakili kita dalam menerima fasilitas, maka mereka juga harus bersedia mewakili kita dalam risiko.

BPOM TBC Indonesia Uji Coba Vaksin Vaksin Bill Gates wakil rakyat
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleJangan Normalisasi Israel
Next Article Kemenag Tegaskan Belum Ada Kepastian Pembukaan Visa Furoda

Informasi lainnya

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

12 Juni 2026

BPOM Perketat Vape, Remaja Jadi Fokus Perlindungan

22 Mei 2026

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026

Dosen: Akademisi atau Aparatur?

5 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Djibouti dan Politik Geografi

Opini Alfi Salamah

Ujian Jabatan

Gagasan Syamril Al-Bugisyi

Menjadi Kepala Daerah

Gagasan Syamril Al-Bugisyi

Waspada Belanja Online Bodong

Bisnis Alfi Salamah

Pajak: Cermin Keberlanjutan atau Beban Tanpa Akhir?

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Ekonomi
Lisda Lisdiawati8 Desember 2025

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

Kemenhaj Umumkan Penyakit Tak Lolos Syarat Haji 2026

Aturan Baru SD: Tak Wajib Usia 7 Tahun

Modus Janji Cinta Diancam Penjara dalam KUHP Baru

Batal Jadi Ibu Kota? MK Tegaskan IKN Belum Gantikan Jakarta

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Alat Tulis Sekolah Murah Perlengkapan Pramuka Lengkap Buku Anak Islami Murah
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi