YouTube dan podcast kini jadi dua medan utama konten digital. Keduanya punya jutaan pengguna, basis penggemar loyal, dan menawarkan segala jenis informasi: dari edukasi, hiburan, hingga konten pribadi. Tapi ketika bicara soal menjangkau audiens muda terutama Gen Z muncul pertanyaan yang sering jadi perdebatan: mana yang lebih relevan dan efektif?
Banyak yang mengira YouTube masih tak tergoyahkan sebagai raja konten visual, tapi data dan tren belakangan ini menunjukkan peta yang mulai bergeser. Podcast, yang dulu dianggap “produk pendengar dewasa,” justru mulai menguasai ruang dengar anak muda terutama yang multitasking dan mobile.
Pola Konsumsi Gen Z: Lebih Fleksibel, Kurang Visual
Generasi muda saat ini tidak lagi duduk tenang menonton video panjang. Mereka lebih suka konten yang bisa “jalan sambil lalu” didengar sambil berangkat sekolah, olahraga, atau bahkan sambil rebahan tanpa harus fokus ke layar.
Menurut laporan dari Nielsen (2025), sekitar 52% Gen Z di Asia mendengarkan podcast setidaknya seminggu sekali, naik tajam dari 33% di 2023. Podcast menjadi ruang ekspresi baru, terutama karena formatnya yang lebih intim dan cenderung tidak “overproduced” seperti banyak video YouTube.
Di sisi lain, YouTube masih digandrungi terutama untuk konten visual yang memang butuh penjelasan atau hiburan visual, seperti vlog, video game, musik, dan tutorial. Tapi ada gejala kelelahan visual (screen fatigue) di kalangan remaja, yang menyebabkan mereka mencari medium non-visual sebagai pelarian.
Durasi Pendek Bukan Segalanya
YouTube Shorts dan TikTok memang menyesuaikan diri dengan gaya konsumsi kilat Gen Z. Tapi ketika butuh deep talk, eksplorasi topik sensitif, atau wawancara mendalam, podcast terbukti lebih unggul dalam durasi dan kedalaman.
Podcast seperti Makna Talks, Podcast Raditya Dika, hingga Rintik Sedu membuktikan bahwa Gen Z sebenarnya suka konten panjang, asal disampaikan dengan nada yang relatable dan format yang nyaman untuk didengar.
Artinya, bukan durasi yang menentukan, tapi koneksi emosional dan format personal. Sesuatu yang justru lebih mudah diraih lewat suara daripada visual yang penuh distraksi.
Platform Bersaing, Tapi Format Menentukan
Dari sisi algoritma dan monetisasi, YouTube memang masih unggul. Tapi Spotify, Noice, dan Apple Podcasts makin agresif dalam mengembangkan fitur interaktif, membuat podcast kini bukan sekadar konten audio pasif, tapi mulai bersaing dalam engagement.
Beberapa podcaster bahkan membuat konten hybrid, dengan video di YouTube dan versi audio di Spotify. Namun menariknya, survei menunjukkan bahwa audiens Gen Z cenderung loyal terhadap format audio jika merasa isi kontennya otentik.
Mereka tak terlalu peduli dengan produksi mewah, tapi lebih menghargai kejujuran dan gaya ngobrol seperti teman sendiri.
Asumsi yang Perlu Diluruskan
Salah satu asumsi umum adalah bahwa podcast kalah pamor karena tidak punya visual. Faktanya, di kalangan Gen Z, visual kadang dianggap beban, bukan kelebihan.
Di tengah kelelahan visual akibat sekolah daring, kerja remote, dan sosial media visual seperti Instagram atau TikTok, audio-only format justru memberikan ruang relaksasi dan fokus yang lebih besar.
Hal ini menjadikan podcast lebih dari sekadar medium alternatif tapi juga ruang mental yang lebih tenang di tengah hiruk pikuk digital.
Tantangan dan Potensi Keduanya
YouTube punya potensi lebih besar dalam hal penghasilan dan jangkauan global, tapi juga persaingan lebih ketat dan algoritma yang makin rumit. Podcast punya tantangan dalam distribusi dan monetisasi, tetapi justru membangun komunitas lebih erat dan kepercayaan lebih tinggi.
Untuk konten kreator, keduanya tidak harus bersaing, tetapi bisa saling melengkapi. Namun, untuk menjangkau Gen Z secara efektif, penting untuk menyesuaikan format dan cara penyampaian dengan gaya komunikasi mereka yang lebih spontan, intim, dan fleksibel.
Podcast dan YouTube
Dalam kompetisi antara podcast dan YouTube, tidak ada pemenang mutlak. Tapi ketika bicara soal koneksi emosional, fleksibilitas, dan kedekatan dengan Gen Z, podcast semakin menunjukkan keunggulannya.
Audiens muda bukan hanya cari hiburan, mereka cari teman ngobrol, tempat curhat, dan suara yang bisa dipercaya. Dan saat ini, suara itu sering datang dari headphone bukan dari layar.
