Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Santriwati Digerebek, DPR Desak Usut Tindakan Polisi

Raffi Ahmad Ajak Lawan Hoaks, Peserta Deklarasi Sumpah Pemuda Akui Dibayar

Kopdes Bidik Dana Pensiun ASN, Taspen Tunggu Aturan

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Kamis, 5 November 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Mendirikan Yayasan, Cara Orang Kaya Menata Warisan Sosial

Antara kepedulian publik, strategi filantropi, dan keabadian nama di ruang sosial.
Lisda LisdiawatiLisda Lisdiawati20 Januari 2026 Ekonomi
Mendirikan Yayasan, Cara Orang Kaya Menata Warisan Sosial
Ilustrasi Bill Gates, pemilik Gates Foundation, yayasan terbesar di dunia (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Di tengah jurang ketimpangan ekonomi yang kian terasa, para miliarder dunia justru ramai mendirikan yayasan. Seperti menanam jejak di tanah yang lebih luas dari rekening pribadi, yayasan menjadi cara baru orang kaya menata warisan sosial mereka, bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk masa depan yang ingin mereka bentuk.

Fenomena ini terlihat dari berbagai yayasan besar yang didirikan tokoh-tokoh super kaya dunia. Salah satu yang paling sering disorot adalah Bill & Melinda Gates Foundation milik Bill Gates, yang dikenal aktif di bidang kesehatan global, pendidikan, dan pengentasan kemiskinan.

Yayasan ini tercatat memiliki aset puluhan miliar dolar AS dan menjadi rujukan utama filantropi modern. Praktik serupa juga dilakukan oleh Elon Musk melalui Elon Musk Foundation yang berfokus pada riset ilmiah, energi bersih, hingga kecerdasan buatan, serta Jeff Bezos lewat Bezos Earth Fund yang mengalokasikan komitmen miliaran dolar untuk memerangi krisis iklim.

Di Indonesia, pola tersebut tercermin melalui Tanoto Foundation milik Sukanto Tanoto yang menitikberatkan pendidikan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta Djarum Foundation yang aktif dalam pengembangan sosial, olahraga, dan pelestarian lingkungan. Deretan contoh ini memperlihatkan bahwa yayasan bukan sekadar simbol kedermawanan, melainkan instrumen strategis dalam pengelolaan kekayaan.

Bagi kalangan super kaya, mendirikan yayasan merupakan cara terstruktur untuk menyalurkan dana agar berdampak jangka panjang. Filantropi tidak lagi dimaknai sebagai donasi sesaat, melainkan sebagai intervensi sosial yang dirancang dengan perencanaan, indikator keberhasilan, dan visi berkelanjutan.

Baca Juga:
  • Harga Emas Antam Naik, Per Gram Sentuh Rp1,535 Juta
  • Sepekan Terakhir, Bursa Efek Indonesia Catatkan Transaksi Saham Melambat
  • Transisi Ekonomi Global Tertahan Perlambatan Dunia
  • Avanza Kuasai Puncak Penjualan Mobil Indonesia, Brio Tersingkir

Riset Bank of America menunjukkan bahwa banyak donatur besar menilai keberhasilan filantropi dari perubahan yang bertahan lama, bukan dari besarnya dana yang dikeluarkan dalam waktu singkat.

“Beramal menuntut orang kaya untuk memikirkan kebutuhan dan posisi mereka yang tidak memiliki apa yang mereka miliki,” ujar Melanie Musson, pakar keuangan dari InsuranceProviders.com.

Pernyataan tersebut menggambarkan kesadaran akan jarak sosial yang kerap muncul ketika seseorang berada di puncak piramida ekonomi. Melalui yayasan, para miliarder berupaya menjembatani jarak tersebut dengan menyediakan akses pendidikan, layanan kesehatan, peluang kerja, hingga program pemberdayaan komunitas.

Dalam banyak kasus, yayasan juga menjadi ruang pertemuan lintas kelas yang memungkinkan transfer pengetahuan, jejaring, dan pengalaman.

Namun, di balik dampak positifnya, keberadaan yayasan orang kaya juga memunculkan kritik. Dari sisi fiskal, sumbangan ke yayasan kerap memberikan keuntungan pajak, baik dalam bentuk pengurangan pajak penghasilan maupun pajak warisan. Selain itu, praktik hak penamaan gedung, fasilitas publik, atau institusi pendidikan sering dipandang sebagai upaya penciptaan status sosial dan keabadian simbolik.

Artikel Terkait:
  • Zulhas Usul Kewenangan Lartas Impor Pangan Pindah ke Kemenko Pangan
  • BPK Selamatkan Uang Negara Rp 13,66 Triliun pada Semester I 2024
  • Orang Kaya RI Alihkan Aset, Pasar Domestik Tertekan
  • XL Axiata Pastikan Tidak Ada PHK Pasca-Merger dengan Smartfren

Sejumlah akademisi menilai filantropi sebagai bentuk kekuasaan lunak. Melalui yayasan, pemilik modal dapat memengaruhi arah riset, kebijakan sosial, bahkan wacana publik, tanpa mekanisme akuntabilitas yang seketat lembaga negara. Minimnya transparansi dan dominasi kepentingan donor menjadi tantangan tersendiri yang perlu diawasi.

Meski demikian, banyak institusi dan komunitas tetap memandang yayasan sebagai mitra penting dalam menjawab persoalan sosial yang belum tertangani secara optimal. Di tengah keterbatasan anggaran publik, kehadiran yayasan kerap menjadi solusi nyata bagi masyarakat.

Pada akhirnya, mendirikan yayasan bagi orang kaya adalah cara menata warisan sosial. Ia berdiri di antara idealisme kepedulian dan realitas kepentingan, menghadirkan manfaat sekaligus pertanyaan kritis. Di sanalah filantropi menemukan wajah aslinya: bukan hitam atau putih, melainkan ruang abu-abu tempat kekayaan, niat baik, dan kekuasaan saling berkelindan.

Jangan Lewatkan:
  • ESDM Optimistis PNBP Minerba Capai Target Rp124,5 Triliun
  • Indonesia Tawarkan Telur Sebagai Alat Negosiasi Tarif AS
  • Daftar Biaya Transaksi Elektronik yang Dikenakan PPN
  • UMKM Tembus Pasar Arab Saudi Lewat Pameran

Ekonomi Sosial Orang Kaya Strategi Kekayaan Warisan Sosial Yayasan Filantropi
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleKuliner Viral 2026, Sekadar Gaya?
Next Article Maraknya Child Grooming, Kurikulum Pendidikan Disorot

Informasi lainnya

Kopdes Bidik Dana Pensiun ASN, Taspen Tunggu Aturan

28 Oktober 2026

Rupiah Terancam Rp19.000, Kebijakan BI Dipertanyakan

27 Oktober 2026

Pertalite Tetap Rp10.000, Konsumsi Naik dan Stok Tertekan

26 Oktober 2026

Bazar Murah Bandung, Berapa Warga Bisa Berhemat?

14 September 2026

Emas Antam Naik Rp46 Ribu, Tembus Rp2,71 Juta

5 September 2026

Dapur Warga Bakal Berubah? Pemerintah Siapkan Gas Pengganti LPG

7 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Hukum dan Tata Cara Distribusi Kulit Hewan Qurban dalam Islam

Islami Udex Mundzir

Jamaah Haji Wafat Dibadalkan Gratis dengan Sertifikat Bukti

Islami Alfi Salamah

Pimpinan Viral, Yang Menderita Rakyatnya.

Editorial Udex Mundzir

Hakim Mana yang Berani Vonis Ijazah Palsu?

Editorial Udex Mundzir

Rumah Berantakan, Ternyata Cerminkan Kepribadian

Daily Tips Alfi Salamah
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Jika Gibran Didiskualifikasi, Siapa Pengganti Wapres?

Dana Desa untuk Kopdes Merah Putih Dipersoalkan di MK

Dua Anak Menteri Haji Mundur Usai Disorot Nepotisme

PHK 1.100 Buruh di Lebak, Nasib Industri Padat Karya

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Buku Anak Islami Murah Produk Dapur Terlaris Buku Anak Islami Murah
“Landing

☪   JADWAL SALAT

Mendeteksi lokasi...

Memuat tanggal...

⌖  Menyiapkan lokasi
Memuat jadwal salat...
SALAT BERIKUTNYA —
Menunggu jadwal...
Metode Kemenag RI

© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi