Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Politisi dan Nafsu Menguasai Institusi

Aphrodisias: Kota Dewi Cinta yang Abadi

Ma Eroh, Perempuan Bertangan Batu

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Senin, 2 Februari 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Mengenal Es Gabus: Bahan, Tekstur, dan Keamanan

Lisda LisdiawatiLisda Lisdiawati29 Januari 2026 Food
Mengenal Es Gabus: Bahan, Tekstur, dan Keamanan
Ilustrasi Es Gabus
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Es gabus kembali menjadi perbincangan setelah beredar informasi yang mengaitkannya dengan bahan berbahaya. Narasi tersebut menyebar cepat di media sosial dan menimbulkan kekhawatiran luas di masyarakat.

Kegaduhan meningkat ketika beredar video penindakan terhadap pedagang es gabus. Potongan visual tanpa penjelasan ilmiah membuat publik menarik kesimpulan prematur, seolah jajanan ini identik dengan praktik berbahaya.

Es Gabus dalam Lintasan Sejarah Kuliner

Es gabus merupakan jajanan tradisional yang populer sejak dekade 1980–1990-an. Dahulu, es ini mudah ditemui di depan sekolah dasar, pasar tradisional, hingga perayaan rakyat. Keberadaannya tidak sekadar soal rasa, tetapi juga memori kolektif. Es gabus menjadi simbol masa kecil yang sederhana, murah, dan merakyat.

Asal-usul Nama dan Tekstur Unik

Nama “gabus” disematkan karena teksturnya yang ringan dan berpori. Saat digigit, sensasinya menyerupai spons lembut yang mudah patah di mulut. Karakter ini justru menjadi sumber kesalahpahaman. Banyak orang mengira tekstur tersebut mustahil tercipta tanpa bahan sintetis, padahal anggapan ini keliru.

Bahan Utama yang Sering Disalahpahami

Bahan utama es gabus adalah tepung hunkwe. Tepung ini merupakan pati murni yang ekstrak dari kacang hijau dan telah lama digunakan dalam berbagai olahan pangan Asia.
Di Indonesia, hunkwe lazim dipakai untuk kue lapis, puding, dan aneka jajanan pasar. Bahan ini tergolong aman dan dikenal luas oleh masyarakat.

Proses Pembentukan Tekstur Es Gabus

Tekstur khas es gabus terbentuk melalui proses gelatinisasi pati. Tepung hunkwe dimasak bersama air hingga molekul pati mengembang dan saling mengikat.
Saat adonan didinginkan dan dibekukan, struktur gel membentuk rongga udara alami. Rongga inilah yang menghasilkan pori-pori menyerupai spons, tanpa campur tangan bahan kimia berbahaya.

Fenomena Alami pada Olahan Pati

Pembentukan pori-pori bukanlah hal asing dalam dunia pangan. Proses serupa dapat ditemukan pada agar-agar, puding tertentu, dan olahan pati lainnya.
Ketidaktahuan terhadap proses fisik ini kerap memicu salah tafsir. Visual yang tidak familiar sering dianggap mencurigakan, meski secara ilmiah aman.

Kandungan Gizi Tepung Hunkwe

Dari sisi nutrisi, tepung hunkwe mengandung karbohidrat tinggi sebagai sumber energi. Dalam 100 gramnya, terkandung lebih dari 80 gram karbohidrat.
Selain itu, terdapat protein nabati dari kacang hijau serta kandungan lemak yang rendah. Nilai gizi ini menjadikannya lebih unggul dibanding pati murni lainnya.

Soal Keamanan Konsumsi

Keamanan es gabus tidak ditentukan oleh jenis jajanan, melainkan oleh proses produksinya. Faktor kebersihan dan pemilihan bahan tambahan memegang peran penting.
Risiko muncul jika pedagang menggunakan pewarna nonpangan atau mengabaikan higienitas. Namun, hal ini tidak bisa dijadikan dasar untuk menggeneralisasi seluruh es gabus sebagai berbahaya.

Pewarna Makanan dan Pengawasan

Pewarna makanan sering menjadi sorotan dalam isu jajanan tradisional, serta harus terdaftar sesuai standar pangan. Masalah muncul ketika akses pedagang kecil terhadap bahan bersertifikat masih terbatas. Di sinilah peran negara seharusnya hadir melalui pembinaan, bukan sekadar penindakan.

Dampak Sosial bagi Pedagang Kecil

Isu viral berdampak langsung pada pedagang es gabus. Penurunan kepercayaan konsumen membuat sebagian pedagang menghentikan aktivitas berjualan sementara.
Tekanan psikologis dan kerugian ekonomi tidak bisa diabaikan. Bagi pedagang kecil, satu isu bisa berarti hilangnya sumber penghasilan harian.

Literasi Pangan yang Masih Rendah

Kasus es gabus mencerminkan rendahnya literasi pangan publik. Banyak orang belum memahami perbedaan antara proses alami dan penggunaan bahan sintetis.
Media sosial mempercepat penyebaran informasi tanpa verifikasi. Konten sensasional lebih mudah viral dibanding penjelasan ilmiah yang membutuhkan konteks.

Pendekatan Kebijakan yang Penting

Pengawasan pangan memang penting, akan tetapi harus dilakukan secara proporsional. Penindakan tanpa edukasi berpotensi menciptakan ketakutan dan ketidakadilan.
Pendekatan yang lebih efektif adalah pendampingan pedagang, uji laboratorium terbuka, serta komunikasi publik yang transparan.

Pelestarian Jajanan Tradisional

Es gabus adalah bagian dari warisan kuliner Indonesia. Melindunginya berarti menjaga identitas budaya sekaligus ekonomi rakyat kecil. Dengan standarisasi sederhana dan edukasi publik, jajanan tradisional dapat tetap aman dikonsumsi tanpa kehilangan karakter aslinya.

Es gabus bukan jajanan berbahaya seperti yang ramai dituduhkan. Tekstur dan keunikannya lahir dari proses alami tepung hunkwe. Kepanikan hanya bisa diredam dengan literasi, edukasi, dan kebijakan yang adil.

Es Gabus Jajanan Tradisional Keamanan Pangan Kuliner Indonesia Literasi Pangan
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleGöbekli Tepe: Terungkapnya Misteri Peradaban Tertua
Next Article Usai Dituduh Pakai Spons, Pedagang Es Gabus Dapat Kulkas dari TNI

Informasi lainnya

Kuliner Viral 2026, Sekadar Gaya?

20 Januari 2026

Akar Rasa Nusantara yang Terlupakan di Dapur Modern

24 Desember 2025

Rahasia Ayam Goreng Kalasan yang Garing dan Manisnya Pas

12 November 2025

Resep Puding Karamel Kukus Hanya dengan 1 Telur

12 November 2025

Siapa Kenyang dari Proyek Makan Bergizi?

27 Oktober 2025

Rahasia Membuat Kentang Goreng Tetap Sehat

21 Oktober 2025
Paling Sering Dibaca

Menyesap Filosofi di Balik Secangkir Teh Jepang

Travel Alfi Salamah

Mendapatkan Hadiah Terindah Saat Kembali Dari Haji dan Umroh

Islami Alfi Salamah

Ijazah Jokowi: Bukan Privasi, Tapi Legitimasi

Editorial Udex Mundzir

Perselisihan Jabatan dan Integritas Pilkada

Editorial Udex Mundzir

Sepertinya Prabowo Tak Akan Berani Pecat Bahlil

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Pendidikan
Lisda Lisdiawati28 Januari 2026

Workshop Transformasi Tugas Akhir menjadi Artikel Ilmiah di Politeknik Triguna

Susu Dingin atau Hangat, Mana yang Lebih Baik untuk Tubuh?

Workshop Visi SMPN 1 Cisayong Tekankan Karakter Murid

Eka Cahya Prima Jadi Profesor Fisika Termuda di UPI

Harga Tandan Buah Segar Sawit di Kaltim Turun Rp2.099,15 per Kilogram

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.