Es gabus kembali menjadi perbincangan setelah beredar informasi yang mengaitkannya dengan bahan berbahaya. Narasi tersebut menyebar cepat di media sosial dan menimbulkan kekhawatiran luas di masyarakat.
Kegaduhan meningkat ketika beredar video penindakan terhadap pedagang es gabus. Potongan visual tanpa penjelasan ilmiah membuat publik menarik kesimpulan prematur, seolah jajanan ini identik dengan praktik berbahaya.
Es Gabus dalam Lintasan Sejarah Kuliner
Es gabus merupakan jajanan tradisional yang populer sejak dekade 1980–1990-an. Dahulu, es ini mudah ditemui di depan sekolah dasar, pasar tradisional, hingga perayaan rakyat. Keberadaannya tidak sekadar soal rasa, tetapi juga memori kolektif. Es gabus menjadi simbol masa kecil yang sederhana, murah, dan merakyat.
Asal-usul Nama dan Tekstur Unik
Nama “gabus” disematkan karena teksturnya yang ringan dan berpori. Saat digigit, sensasinya menyerupai spons lembut yang mudah patah di mulut. Karakter ini justru menjadi sumber kesalahpahaman. Banyak orang mengira tekstur tersebut mustahil tercipta tanpa bahan sintetis, padahal anggapan ini keliru.
Bahan Utama yang Sering Disalahpahami
Bahan utama es gabus adalah tepung hunkwe. Tepung ini merupakan pati murni yang ekstrak dari kacang hijau dan telah lama digunakan dalam berbagai olahan pangan Asia.
Di Indonesia, hunkwe lazim dipakai untuk kue lapis, puding, dan aneka jajanan pasar. Bahan ini tergolong aman dan dikenal luas oleh masyarakat.
Proses Pembentukan Tekstur Es Gabus
Tekstur khas es gabus terbentuk melalui proses gelatinisasi pati. Tepung hunkwe dimasak bersama air hingga molekul pati mengembang dan saling mengikat.
Saat adonan didinginkan dan dibekukan, struktur gel membentuk rongga udara alami. Rongga inilah yang menghasilkan pori-pori menyerupai spons, tanpa campur tangan bahan kimia berbahaya.
Fenomena Alami pada Olahan Pati
Pembentukan pori-pori bukanlah hal asing dalam dunia pangan. Proses serupa dapat ditemukan pada agar-agar, puding tertentu, dan olahan pati lainnya.
Ketidaktahuan terhadap proses fisik ini kerap memicu salah tafsir. Visual yang tidak familiar sering dianggap mencurigakan, meski secara ilmiah aman.
Kandungan Gizi Tepung Hunkwe
Dari sisi nutrisi, tepung hunkwe mengandung karbohidrat tinggi sebagai sumber energi. Dalam 100 gramnya, terkandung lebih dari 80 gram karbohidrat.
Selain itu, terdapat protein nabati dari kacang hijau serta kandungan lemak yang rendah. Nilai gizi ini menjadikannya lebih unggul dibanding pati murni lainnya.
Soal Keamanan Konsumsi
Keamanan es gabus tidak ditentukan oleh jenis jajanan, melainkan oleh proses produksinya. Faktor kebersihan dan pemilihan bahan tambahan memegang peran penting.
Risiko muncul jika pedagang menggunakan pewarna nonpangan atau mengabaikan higienitas. Namun, hal ini tidak bisa dijadikan dasar untuk menggeneralisasi seluruh es gabus sebagai berbahaya.
Pewarna Makanan dan Pengawasan
Pewarna makanan sering menjadi sorotan dalam isu jajanan tradisional, serta harus terdaftar sesuai standar pangan. Masalah muncul ketika akses pedagang kecil terhadap bahan bersertifikat masih terbatas. Di sinilah peran negara seharusnya hadir melalui pembinaan, bukan sekadar penindakan.
Dampak Sosial bagi Pedagang Kecil
Isu viral berdampak langsung pada pedagang es gabus. Penurunan kepercayaan konsumen membuat sebagian pedagang menghentikan aktivitas berjualan sementara.
Tekanan psikologis dan kerugian ekonomi tidak bisa diabaikan. Bagi pedagang kecil, satu isu bisa berarti hilangnya sumber penghasilan harian.
Literasi Pangan yang Masih Rendah
Kasus es gabus mencerminkan rendahnya literasi pangan publik. Banyak orang belum memahami perbedaan antara proses alami dan penggunaan bahan sintetis.
Media sosial mempercepat penyebaran informasi tanpa verifikasi. Konten sensasional lebih mudah viral dibanding penjelasan ilmiah yang membutuhkan konteks.
Pendekatan Kebijakan yang Penting
Pengawasan pangan memang penting, akan tetapi harus dilakukan secara proporsional. Penindakan tanpa edukasi berpotensi menciptakan ketakutan dan ketidakadilan.
Pendekatan yang lebih efektif adalah pendampingan pedagang, uji laboratorium terbuka, serta komunikasi publik yang transparan.
Pelestarian Jajanan Tradisional
Es gabus adalah bagian dari warisan kuliner Indonesia. Melindunginya berarti menjaga identitas budaya sekaligus ekonomi rakyat kecil. Dengan standarisasi sederhana dan edukasi publik, jajanan tradisional dapat tetap aman dikonsumsi tanpa kehilangan karakter aslinya.
Es gabus bukan jajanan berbahaya seperti yang ramai dituduhkan. Tekstur dan keunikannya lahir dari proses alami tepung hunkwe. Kepanikan hanya bisa diredam dengan literasi, edukasi, dan kebijakan yang adil.
