Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

MK Tegaskan Sikap soal Nikah Beda Agama

Politisi dan Nafsu Menguasai Institusi

Aphrodisias: Kota Dewi Cinta yang Abadi

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Kamis, 5 Februari 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Hamangkunegoro Dinobatkan sebagai Pakubuwono XIV di Surakarta

Upacara jumeneng dalem berlangsung khidmat di Siti Hinggil dengan iring-iringan adat lengkap.
Lisda LisdiawatiLisda Lisdiawati15 November 2025 Daerah
Hamangkunegoro Dinobatkan sebagai Pakubuwono XIV di Surakarta
Putra mahkota, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom (KGPAA) Hamengkunegoro Sudibyo Raja Putra Narendra Mataram (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Solo – Dalam suasana yang menyerupai babak baru sebuah epos Jawa, prosesi penobatan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom (KGPAA) Hamangkunegoro Sudibyo Raja Putra Narendra Mataram sebagai SISKS Pakubuwono XIV berlangsung megah di kompleks Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat pada Sabtu (15/11/2025). “Keraton selalu menemukan jalannya kembali,” ujar seorang abdi dalem berbisik, menggambarkan suasana haru dan tegang yang menyelimuti jumenengan tersebut.

Upacara dimulai dari Dalem Ageng, tempat putra bungsu mendiang SISKS Pakubuwono XII menjalani prosesi internal yang hanya disaksikan para pemangku adat. Setelah itu, Hamangkunegoro berjalan kaki keluar dari Prabasuyasa, diiringi tabuhan gamelan, barisan bregada prajurit, dan drumband keraton menuju Siti Hinggil. Dengan mengenakan busana takwa fuchsia berpadu jarik batik parang barong, ia melangkah menuju Bangsal Manguntur Tangkul untuk membacakan sabda dalem di atas Watu Gilang batu sakral para raja Mataram sebagai peneguhan legitimasi kepemimpinan.

“Ing Watu Gilang ini, ingsun hanetepake nggenteni kalenggahane Kanjeng Rama Sinuhun Pakoe Boeowono XIII, minangka Sri Susuhunan ing Karaton Suramarta Hadiningrat,” ucapnya lantang saat mengucap sumpah sebagai raja ke-14.

Sumpah itu menjadi pijakan awal masa pemerintahannya. Sebagai SISKS Pakubuwono XIV, ia berjanji menjalankan kebijakan berdasarkan syariat Islam dan paugeran keraton, menjaga NKRI, serta melestarikan warisan adiluhung kerajaan Mataram. Prosesi kemudian berlanjut dengan kirab menuju Sasana Sumewa, tempat kereta Garuda Kencana yang dihias bunga warna-warni telah menunggu untuk mengantar raja berkeliling Solo sesuai rute kirab pusaka malam 1 Sura.

Sejak pagi, persiapan penobatan sudah tampak di dalam keraton. Para abdi dalem hilir mudik membawa sesaji dan perlengkapan ritual ke Siti Hinggil. Kereta Garuda Kencana pun dipoles hingga tampak megah, siap mengantar raja dalam tradisi kirab yang menjadi simbol legitimasi kekuasaan Kasunanan.

Meski berlangsung meriah, penobatan ini juga dibayangi dualisme kepemimpinan. Putri tertua PB XIII, GKR Timoer Rumbay Kusuma Dewayani, mengungkapkan kesedihannya karena sebagian keluarga menobatkan adiknya, KGPH Hangabehi, sebagai PB XIV dalam pertemuan internal.

“Saya cuma sedih saja, Gusti Mangkubumi bisa berkhianat dengan kami putra-putri… Kami sudah sepakat putra mahkota menjadi PB XIV,” ujarnya dengan suara bergetar.

Ia menilai situasi ini mengingatkan kembali pada masa ketika keraton memiliki dua raja PB XIII Hangabehi dan PB XIII Tedjowulan setelah wafatnya PB XII pada 2004. Menurutnya, perpecahan seperti itu kembali mengancam keutuhan keraton jika tidak segera dirukunkan.

Meskipun polemik internal masih menggantung, penobatan Hamangkunegoro tetap berlangsung penuh khidmat. Keraton Surakarta kini memasuki babak baru yang menanti upaya rekonsiliasi serta pemulihan harmoni di antara keluarga dalem dan para pendukungnya.

Dualisme Keraton Solo Keraton Surakarta Pakubuwono XIV Penobatan Raja Jawa Tradisi Mataram
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleTangisan Bakar Kalori: Fakta Ilmiah di Balik Air Mata
Next Article Lari Rutin Tapi Berat Badan Naik? Ini Penyebabnya!

Informasi lainnya

25 Jenazah Ditemukan, Tim SAR Terus Cari Korban Longsor Cisarua

26 Januari 2026

Longsor Pasirlangu, 111 Warga Belum Ditemukan

24 Januari 2026

Longsor Cisarua Tewaskan Delapan Orang, 82 Masih Dicari

24 Januari 2026

Darurat Bencana Ditetapkan, Longsor Pasirlangu Telan Banyak Korban

24 Januari 2026

Kak Mashuri Pimpin Kwartir Ranting Tellu Siattinge 2026-2029

22 Januari 2026

Pramuka Tellu Siattinge Satukan Langkah Lewat Musyawarah Ranting

22 Januari 2026
Paling Sering Dibaca

Mar’ie Muhammad: Pejuang Integritas dan Kesederhanaan

Biografi Ericka

Membedah Tren Pembelian Barang Palsu di Dunia Fashion

Bisnis Ericka

Destinasi Impian untuk Cuti Bersama Desember 2023

Travel Alfi Salamah

Kehidupan di Jepang, Perpaduan Tradisi dan Modernitas

Travel Alfi Salamah

Adab Bertemu Guru dalam Islam

Islami Assyifa
Berita Lainnya
Pendidikan
Lisda Lisdiawati28 Januari 2026

Workshop Transformasi Tugas Akhir menjadi Artikel Ilmiah di Politeknik Triguna

Gus Yaqut Disorot KPK di Balik Skema 50:50 Kuota Haji

Susu Dingin atau Hangat, Mana yang Lebih Baik untuk Tubuh?

Workshop Visi SMPN 1 Cisayong Tekankan Karakter Murid

Harga Tandan Buah Segar Sawit di Kaltim Turun Rp2.099,15 per Kilogram

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.