Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Lupa Takbir Shalat Id, Sahkah Ibadahnya?

Krisis Air Bersih Cisayong Saat Lebaran

Israel Batasi Salat Idul Fitri di Al Aqsa

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Senin, 23 Maret 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Harta Melimpah, Hati Tetap Zuhud

Ketika dunia dalam genggaman, namun hati tetap terikat pada akhirat.
Alfi SalamahAlfi Salamah11 Februari 2026 Islami
Kisah teladan Abdurrahman bin Auf
Ilustrasi Abdurrahman Bin Auf (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Kisah inspiratif sahabat Nabi banyak mewarnai perjalanan umat Islam hingga hari ini. Salah satu yang paling menarik adalah sosok Abdurrahman bin Auf seorang sahabat yang kaya luar biasa, namun tetap hidup sederhana dan sangat dermawan. Di tengah godaan dunia, ia justru menjadi teladan tentang bagaimana seorang Muslim seharusnya menyikapi kekayaan.

Pedagang Ulung Sejak Datang ke Madinah

Abdurrahman bin Auf berasal dari kalangan bangsawan Quraisy dan termasuk dalam delapan orang pertama yang memeluk Islam. Saat berhijrah ke Madinah, ia tak membawa harta benda apa pun. Ia bahkan memulai dari nol—tanpa modal, tanpa koneksi, hanya dengan semangat dan keimanan yang kokoh.

Saat tiba di Madinah, Rasulullah SAW mempersaudarakannya dengan Sa’ad bin Rabi’, salah satu sahabat Anshar yang kaya raya. Sa’ad menawarkan setengah dari hartanya kepada Abdurrahman, namun ia menolak dengan halus, seraya berkata: “Tunjukkan padaku di mana pasar.”

Kalimat itu legendaris. Dalam waktu singkat, Abdurrahman sukses berdagang di pasar Madinah dengan kejujuran dan ketekunannya. Ia dikenal tak pernah menipu, tidak menimbun barang, dan selalu mengedepankan etika dalam berbisnis.

Kekayaan yang Melimpah, Derma yang Melebihi Logika

Kekayaan Abdurrahman bin Auf begitu besar hingga disebut-sebut bahwa hartanya bisa memberi makan seluruh penduduk Madinah. Namun yang lebih menakjubkan, ia tidak pernah menahan harta itu untuk dirinya sendiri. Justru sebaliknya ia menjadi orang yang sangat dermawan hingga sulit ditandingi.

Dalam beberapa riwayat disebutkan:

  • Ia menyumbangkan 700 ekor unta penuh muatan dagangan kepada pasukan Islam.
  • Ia pernah mendermakan 40.000 dinar emas sekaligus.
  • Ia menyumbang 500 ekor kuda perang dan 1.500 unta untuk jihad fi sabilillah.

Bahkan ketika meninggal, ia mewariskan harta dalam jumlah besar yang dibagikan kepada para pejuang Badar dan keluarga Nabi.

Yang menarik, ia tidak hidup dalam kemewahan pribadi. Makanannya biasa, pakaiannya sederhana, dan rumahnya tak mencolok. Ia menolak hidup mewah walau semua fasilitas ada padanya.

Zuhud di Tengah Kekayaan: Mungkinkah?

Zuhud bukan berarti tidak punya harta. Zuhud artinya tidak menjadikan harta sebagai tujuan utama hidup. Abdurrahman bin Auf adalah bukti hidup bahwa seseorang bisa sangat kaya, namun tetap zuhud.

Rasulullah SAW pernah bersabda:

“Tidak akan bergeser kaki anak Adam di hari kiamat sebelum ditanya tentang empat hal: tentang hartanya, dari mana ia peroleh, dan ke mana ia belanjakan…” (HR. Tirmidzi)

Abdurrahman bin Auf sangat sadar akan hal ini. Karena itulah, ia menggunakan hartanya untuk membantu kaum miskin, mendukung perjuangan Islam, membebaskan budak, serta merawat keluarga Nabi SAW. Ia takut kekayaannya menjadi beban di akhirat.

Ketika Abdurrahman Menangis di Akhir Hidupnya

Di akhir hayatnya, Abdurrahman bin Auf justru menangis ketika menyadari betapa besar hartanya. Ia khawatir bahwa terlalu banyak hartanya yang belum sempat ia infakkan. Ia berkata: “Aku khawatir semua kenikmatan ini adalah bagian dari balasan yang dipercepat di dunia.”

Tangisan itu menunjukkan betapa dalam rasa takutnya kepada Allah. Ia tak terlena dengan pujian orang, tak merasa bangga dengan kekayaannya, justru semakin takut jika hartanya membuatnya lalai dari akhirat.

Inilah wajah sejati seorang Muslim yang sukses dunia tapi tidak lepas dari nilai-nilai ukhrawi.

Pelajaran Besar di Zaman Kapitalistik

Di zaman sekarang, harta sering jadi tolok ukur keberhasilan, bahkan di kalangan umat Islam sendiri. Sayangnya, banyak yang kaya tapi tidak peduli pada zakat, enggan berbagi, dan lebih sibuk memamerkan kekayaan daripada menjadikannya ladang pahala.

Kisah Abdurrahman bin Auf menjadi sangat relevan. Ia menunjukkan bahwa Islam tak melarang kekayaan, bahkan mendorong umatnya untuk sukses dalam bisnis dan ekonomi. Tapi kekayaan itu harus menjadi alat, bukan tujuan.

Bayangkan jika hari ini para konglomerat Muslim memiliki jiwa seperti Abdurrahman bin Auf: tak hanya menyumbang, tapi juga terlibat aktif dalam membangun kesejahteraan umat, pendidikan, ekonomi, hingga dakwah.

Sosok yang Dirindukan Rasulullah

Rasulullah SAW sangat mencintai Abdurrahman bin Auf. Beliau pernah berkata: “Abdurrahman bin Auf adalah orang yang amanah dan terpercaya di sisi Allah dan Rasul-Nya.”

Ia juga salah satu dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga (Asyrah al-Mubasysyirah). Meski demikian, ia tidak pernah menyombongkan status itu. Ia justru lebih takut, lebih tawadhu, dan lebih dermawan dari sebelumnya.

Rasa amanah, rendah hati, dan derma inilah yang menjadikannya sangat dirindukan oleh Rasulullah dan para sahabat. Bahkan Aisyah RA, istri Nabi, pernah berkata bahwa jika ada orang yang bisa menyaingi Abu Bakar dalam kedermawanan, maka itu adalah Abdurrahman bin Auf.

Kaya Boleh, Tapi…

Abdurrahman bin Auf adalah simbol bahwa seorang Muslim bisa sukses dunia tanpa kehilangan arah ke akhirat. Justru dengan hartanya, ia memperjuangkan agama dan membantu ribuan jiwa.

Di tengah krisis moral dan ketimpangan ekonomi hari ini, semangat Abdurrahman bin Auf harus dihidupkan kembali. Ia bukan sekadar tokoh sejarah, tapi cermin nilai Islam yang sesungguhnya: kerja keras, kejujuran, dan pengabdian sosial.

Bagi para pengusaha Muslim, pejabat, dan siapa pun yang diberi rezeki lebih, jadikan Abdurrahman bin Auf sebagai teladan. Bukan hanya kaya, tapi juga bermanfaat dan takut kepada Allah.

Abdurrahman Bin Auf Kekayaan Dalam Islam Kisah Teladan Sahabat Nabi Tokoh Muslim Inspiratif
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleMinuman Ini Redakan Nyeri Haid
Next Article Detoks Digital: Jaga Kesehatan Mental

Informasi lainnya

Lupa Takbir Shalat Id, Sahkah Ibadahnya?

22 Maret 2026

Makna Idul Fitri

20 Maret 2026

Sunnah Sunnah Sholat Ied di Hari Raya

20 Maret 2026

Mengeluh Lapar dan Haus Saat Puasa, Ini Hukumnya

15 Maret 2026

Sahabat Kecil Rasulullah

13 Februari 2026

Senyum di Tengah Derita

12 Februari 2026
Paling Sering Dibaca

Chef Degan Septoadji: Membawa Rasa Indonesia ke Meja Dunia

Biografi Alfi Salamah

Pabrik Semen Gresik Menjadi Objek Vital Nasional

Bisnis Alfi Salamah

UU TNI Disahkan, Sipil Terancam Diam

Editorial Udex Mundzir

Menghargai Waktu

Islami Syamril Al-Bugisyi

Pelajaran dari Ju Ji Hoon: Mengenali Penyebab Asam Urat

Daily Tips Assyifa
Berita Lainnya
Kesehatan
Lisda Lisdiawati14 Maret 2026

Mengapa Banyak Orang Sakit di 10 Hari Terakhir Ramadan?

298 Views

Waktu Pencernaan Makanan, Kenali Sebelum Mengatur Pola Makan

Analisis Bosscha: Hilal Lebaran 2026 Sulit Terlihat

Prioritas Silaturahmi Lebaran, Siapa Didahulukan?

Krisis Air Bersih Cisayong Saat Lebaran

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi