Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Ramadan 2026: Kemenag Tetapkan Batas Volume Toa Masjid

BPS Catat Ekonomi Indonesia 2025 Tumbuh 5,11 Persen

Rebung Lebih Sehat dari Dugaan

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Jumat, 6 Februari 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Ibnu Al‑Haytham: Sang Bapak Optik Dunia

Di balik cahaya dan bayangan, ia membaca hukum alam dengan akal dan eksperimen.
Alfi SalamahAlfi Salamah28 Desember 2025 Profil
Ilmuan Muslim, Bapak Optik Dunia
Iluatrasi Ibnu Haytham,Cendekiawan Muslim, Bapak Optik dan Ahli Ilmu Fikih (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Abu Ali Al‑Hasan ibnu Al‑Haytham lebih dikenal di dunia Barat sebagai Alhazen adalah salah satu ilmuwan Muslim terbesar sepanjang sejarah yang kontribusinya secara jelas memengaruhi dasar ilmu fisika dan metode ilmiah modern. Ia lahir sekitar tahun 965 M di Basrah (sekarang Irak) dan wafat sekitar 1040 M di Kairo (Mesir). Meski hidup lebih dari seribu tahun lalu, pemikirannya tentang cahaya, penglihatan, dan metode eksperimen masih dipelajari hingga hari ini.

Ibnu Al‑Haytham bukan hanya ilmuwan dalam arti klasik, tetapi juga pelopor modern dalam pendekatan observasi dan eksperimen. Ia menolak mentah‑mentah teori lama yang semata berdasarkan asumsi, dan menggantinya dengan teori yang bisa diteliti secara sistematis, suatu prinsip yang kini merupakan inti dari scientific method.

Dari Matematika ke Peradaban Ilmu

Awalnya, Ibnu Al‑Haytham mempelajari matematika dan astronomi. Namun, rasa ingin tahunya yang besar membawanya ke bidang yang kemudian menempatkannya dalam sejarah, optik merupakan ilmu tentang cahaya dan penglihatan. Di kala itu, konsep tentang cahaya masih dipenuhi asumsi dari para filsuf Yunani seperti Euclid dan Ptolemy, yang kurang didukung eksperimen nyata.

Al‑Haytham tidak menerima begitu saja teori lama. Ia justru mengembangkan eksperimennya sendiri untuk mempelajari bagaimana mata melihat, bagaimana cahaya dipantulkan dan bagaimana bayangan terbentuk. Ini membuatnya bukan hanya pengikut ilmu, tetapi pembentuk prinsip ilmiah yang benar‑benar baru.

Karya Utama: Kitab al‑Manazir (Buku Optik)

Karyanya yang paling monumental adalah Kitab al‑Manazir (Buku Optik). Dalam buku ini, ia membedah secara rinci fenomena cahaya, pantulan (reflection), pembiasan (refraction), pembentukan bayangan, serta fungsi mata dalam melihat objek. Ia membuktikan bahwa penglihatan terjadi bukan karena “sinar keluar dari mata” seperti teori sebelumnya, tetapi karena cahaya memantul dari objek menuju mata gagasan yang kini menjadi landasan optik modern.

Eksperimen: Melihat dengan Fakta, Bukan Dugaan

Salah satu kekuatan Ibnu Al‑Haytham adalah metode ilmiahnya yang sistematis:

  • Observasi: Mengamati fenomena nyata
  • Hipotesis: Membentuk penjelasan berdasarkan bukti
  • Eksperimen: Menguji hipotesis dengan alat atau perlakuan tertentu
  • Verifikasi: Membandingkan hasil observasi dengan teori

Pendekatan ini sangat mirip dengan apa yang sekarang disebut scientific method. Ia bahkan menggunakan lubang kecil untuk mengamati bayangan sinar teknik dasar yang kemudian berkembang menjadi prinsip kamera pinhole.

Penelitian Multidisiplin yang Menginspirasi

Selain optik, Al‑Haytham juga meneliti astronomi, matematika, dan teknik. Ia menulis tentang bentuk geometri, kalkulus awal (melalui masalah pembagian kurva), hingga pengaruh cahaya terhadap struktur benda. Karena ia menggabungkan matematika dan eksperimen kuantitatif, pemikirannya sering dipandang sebagai jembatan antara ilmu kuno dan ilmu modern.

Pendekatan Baru terhadap Cahaya dan Bayangan

Ibnu Al‑Haytham menjelaskan bahwa:

  • Sumber cahaya memancarkan gelombang atau sinar ke segala arah
  • Cahaya yang memantul dari objek masuk ke mata
  • Mata memiliki struktur optik kompleks yang memproses citra

Ini bertolak belakang dengan teori kuno yang menganggap sinar keluar dari mata ke objek untuk melihatnya. Prinsip ini sangat fundamental hingga kini diajarkan di sekolah dan kampus sebagai dasar ilmu optik.

Pengaruhnya terhadap Ilmu Modern

Gagasan Al‑Haytham memengaruhi banyak ilmuwan setelahnya, termasuk tokoh‑tokoh Renaisans Eropa seperti Kepler dan Newton. Aspek yang paling penting dari warisannya bukan sekadar temuan tentang cahaya, tetapi cara ia meneliti dunia nyata dengan observasi, pengalaman, dan logika yang terukur.

Nilai Filosofis dan Intelektual

Ibnu Al‑Haytham adalah contoh ilmuwan yang menggabungkan akal dan pengalaman. Ia menekankan bahwa ilmu bukan diukur dari spekulasi tanpa bukti, tetapi oleh kemampuan teori itu diuji dan dibuktikan lewat kenyataan. Sikap ini sangat relevan di era modern di mana hoaks, asumsi tanpa data, dan pendapat tanpa bukti kerap menyesatkan publik.

Ia juga merupakan simbol bahwa ilmu berkembang dengan keterbukaan, bukan kekakuan terhadap otoritas lama atau prasangka budaya. Pendekatan semacam ini menjadi teladan bagi siapa pun yang ingin menjadi pemikir kritis, khususnya generasi muda.

Pelajaran bagi Dunia Saat Ini

Di era modern yang dipenuhi teknologi visual seperti kamera, teleskop, mikroskop, dan optik digital—warisan Al‑Haytham sangat terasa. Tanpa dasar teorinya:

  • Kamera modern mungkin tidak ada
  • Ilmu fisika optik tidak akan berkembang seperti sekarang
  • Metode ilmiah yang jadi fondasi sains modern mungkin akan berbeda bentuknya

Lebih dari itu, sikap ilmiahnya mengajarkan:

  • Ilmu harus berdasarkan bukti, bukan sekadar teks lama
  • Keraguan ilmiah adalah awal dari penemuan
  • Diskusi lintas disiplin memperkaya pengetahuan

Ibnu Al‑Haytham bukan sekadar ilmuwan dari masa lalu. Ia adalah pelopor metode ilmiah modern dan bapak optik dunia yang pemikirannya masih hidup hingga kini. Dengan pendekatan observasi, eksperimen, dan logika yang sistematis, ia menjadikan ilmu bukan sekadar teori, tetapi cara berpikir yang kuat dan universal.

Ibnu Al‑Haytham Ilmuwan Muslim Metode Ilmiah Optik Sejarah Sains
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleAl‑Biruni: Penjelajah Ilmu Tanpa Batas
Next Article Laba Freeport Rp67 T, Setoran Negara Dinilai Janggal

Informasi lainnya

Ma Eroh, Perempuan Bertangan Batu

31 Januari 2026

Malahayati, Laksamana Laut Perempuan

30 Januari 2026

Göbekli Tepe: Terungkapnya Misteri Peradaban Tertua

29 Januari 2026

Mas Isman, Komandan Rakyat Muda

29 Januari 2026

S.K. Trimurti: Suara Perempuan Merdeka

28 Januari 2026

Tan Malaka: Pejuang Tanpa Mahkota

27 Januari 2026
Paling Sering Dibaca

Sejarah Perjalanan Haji Masa Kerajaan Nusantara

Islami Ericka

Langkah Utang Pemerintah di Akhir 2024

Editorial Udex Mundzir

Siswa SMA di Kebumen Patungan untuk Teman

Happy Assyifa

Bubur Kacang Hijau: Kelezatan Tradisional Selama Puncak Haji

Islami Alfi Salamah

Tan Malaka: Pejuang Tanpa Mahkota

Profil Alfi Salamah
Berita Lainnya
Pendidikan
Lisda Lisdiawati28 Januari 2026

Workshop Transformasi Tugas Akhir menjadi Artikel Ilmiah di Politeknik Triguna

Gus Yaqut Disorot KPK di Balik Skema 50:50 Kuota Haji

Workshop Visi SMPN 1 Cisayong Tekankan Karakter Murid

Harga Tandan Buah Segar Sawit di Kaltim Turun Rp2.099,15 per Kilogram

Catat Tanggalnya, Nisfu Syaban 2026

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.