Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

BI Kaltim Siapkan Rp2,18 T untuk Serambi 2026

Tim Kaltim Pantau Harga Pangan di Berau

Awal Ramadhan 1447 H Tunggu Sidang Isbat

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Rabu, 25 Februari 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Jangan Mencari Tumbal demi Kemenangan Pilkada di Sampang

Udex MundzirUdex Mundzir26 November 2024 Editorial
Kesehatan polisi di Sampang diperiksa jelang pengamanan Pilkada pada 27 November 2024 (.ini)
Kesehatan polisi di Sampang diperiksa jelang pengamanan Pilkada pada 27 November 2024 (.ini)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Kekerasan dalam Pilkada kembali menelan korban. Insiden pembacokan di Sampang, Jawa Timur, yang menewaskan seorang pendukung calon bupati, mencerminkan sisi gelap demokrasi negeri ini. Proses politik seharusnya menjadi ajang untuk memilih pemimpin terbaik. Di Sampang malah berubah menjadi arena konflik berdarah. Ketika ambisi politik melampaui batas, nyawa rakyat biasa menjadi taruhan.

Kejadian ini bermula pada 17 November 2024, ketika Haji Slamet Junaidi, calon bupati nomor urut dua, mengunjungi salah satu tokoh agama di Ketapang. Sebagai petahana, Haji Idi—sapaan akrabnya—seharusnya paham bahwa Ketapang adalah wilayah rawan konflik.

Namun, ia tetap memaksakan kunjungan politiknya. Keputusan ini memicu bentrokan yang berakhir tragis dengan tewasnya Jimmy Sugito Putra, seorang pendukung pasangan Jimat Sakteh.

Jangan berdalih lagi, Polisi lengah dalam mencegah tragedi ini. Polda Jawa Timur, yang telah menempatkan Sampang sebagai salah satu daerah rawan, seharusnya bertindak lebih cepat dan sigap. Langkah pengamanan yang baru dilakukan setelah insiden ini terkesan sebagai respons terlambat. Kepolisian harus lebih serius mengantisipasi potensi konflik, bukan sekadar menunjukkan langkah korektif di akhir.

Di sisi lain, sikap Haji Idi sebagai petahana juga tak lepas dari sorotan. Sebagai pemimpin yang telah lama memahami dinamika sosial dan politik di daerahnya, ia justru mengabaikan risiko yang jelas ada di Ketapang. Keputusannya untuk tetap masuk ke wilayah yang rentan konflik menunjukkan kelalaian yang tidak dapat dibenarkan.

Tragedi itu seolah memperlihatkan bahwa korban seperti Jimmy Sugito menjadi alat untuk memperkuat narasi politik tertentu. Jangan sampai nyawa manusia hanya menjadi alat pembuktian ambisi politik.

Kekerasan dalam Pilkada bukanlah fenomena baru. Di berbagai daerah, rivalitas politik sering kali berujung pada konflik fisik yang melibatkan massa pendukung. Sampang hanyalah salah satu contoh dari betapa lemahnya fondasi demokrasi kita di tingkat lokal. Ketika politik identitas dan provokasi menjadi alat utama kampanye, masyarakat rentan terpecah, bahkan tersulut untuk saling menyakiti.

Konflik ini juga mengungkap bagaimana lemahnya edukasi politik di kalangan masyarakat. Alih-alih menjadi ajang pertarungan gagasan, Pilkada sering kali berubah menjadi pertarungan kekuatan. Pendukung yang termakan emosi lupa bahwa politik hanyalah alat, bukan tujuan akhir. Ini menjadi tanggung jawab bersama untuk memastikan masyarakat memahami bahwa perbedaan pilihan politik adalah hal yang wajar.

Dampak dari kekerasan seperti ini tidak hanya dirasakan oleh korban dan keluarganya, tetapi juga masyarakat luas. Ketegangan meningkat, kepercayaan terhadap proses demokrasi menurun, dan luka sosial semakin dalam.

Ketika darah menjadi bagian dari narasi politik, legitimasi hasil Pilkada pun dipertanyakan. Bagaimana kita bisa mempercayai hasil pemilu jika prosesnya penuh dengan intimidasi dan kekerasan?

Penegakan hukum yang tegas harus menjadi prioritas. Tiga orang yang telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus Ketapang harus dihukum seberat-beratnya untuk memberikan efek jera.

Namun, itu saja tidak cukup. Aparat harus memastikan bahwa semua potensi konflik di TPS-TPS rawan ditangani sejak dini. Intelijen dan pengamanan harus diperkuat untuk mencegah insiden serupa terulang.

Selain itu, kampanye damai harus digalakkan, bukan hanya oleh pemerintah, tetapi juga oleh para kandidat dan pendukungnya.

Para tokoh agama dan masyarakat harus dilibatkan untuk membangun dialog yang sehat dan menyatukan kembali masyarakat yang terpecah akibat rivalitas politik. Media juga memiliki peran penting dalam mengedukasi publik dan melawan narasi provokatif yang berpotensi memicu konflik.

Teknologi bisa menjadi alat bantu yang efektif dalam pengawasan. Pemasangan CCTV di TPS-TPS rawan dan penggunaan sistem berbasis AI untuk mendeteksi potensi kericuhan dapat membantu aparat bertindak lebih cepat. Di era digital seperti sekarang, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak memanfaatkan teknologi demi memastikan keamanan dan transparansi proses demokrasi.

Tragedi di Sampang adalah pelajaran pahit yang harus segera ditindaklanjuti. Demokrasi yang bermartabat tidak seharusnya mengorbankan nyawa. Semua pihak—baik kandidat, aparat, maupun masyarakat—memiliki tanggung jawab untuk menjaga agar proses politik berjalan damai dan adil.

Pilkada adalah momentum untuk menentukan masa depan daerah, tetapi jika tidak dikelola dengan baik, ia bisa menjadi bencana. Jangan ada lagi nyawa yang menjadi korban ambisi politik. Demokrasi sejati tidak membutuhkan darah sebagai alat pembuktian. Kemenangan sejati adalah ketika masyarakat dapat memilih dengan damai, tanpa rasa takut atau terintimidasi.


Pengamanan Pilkada Pilkada 2024 Pilkada Sampang 2024
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticlePemkab Kutim Perjuangkan Kesejahteraan Guru dan Siswa SMA/SMK
Next Article BYD Siap Luncurkan Baterai Blade Generasi Baru pada 2025

Informasi lainnya

Ketika Narkoba Dilindungi Oknum

15 Februari 2026

Politisi dan Nafsu Menguasai Institusi

31 Januari 2026

Gaduh Ijazah dan Politik Adu Domba

26 Januari 2026

Warisan Masalah Era Jokowi

19 Januari 2026

ASEAN di Tengah Preseden Maduro

5 Januari 2026

Menguji Gelar Pahlawan Soeharto

13 November 2025
Paling Sering Dibaca

Beban Mental dalam Pernikahan

Happy Alfi Salamah

Titiek Puspa: Legenda Musik yang Menembus Zaman

Biografi Ericka

Tiga Kelompok Wanita bagi Laki-laki dalam Islam: Mahram, Azwaj, dan Ajnabi

Islami Udex Mundzir

Tri Mumpuni, Penyulut Cahaya dari Desa Terpencil

Biografi Alfi Salamah

Tips Mengatasi Demam Setelah Puncak Haji untuk Jamaah

Islami Alfi Salamah
Berita Lainnya
Nasional
Lisda Lisdiawati5 Februari 2026

Ramadan 2026: Kemenag Tetapkan Batas Volume Toa Masjid

Limbah Kelapa Muda Menumpuk, Teh Ros Tawarkan Gratis

Haji 2026 Diperketat, Jemaah Tak Sehat Terancam Gagal Berangkat

Pelaku UMKM Kesulitan Jadi Mitra MBG, Syarat Dinilai Berat

Layanan Legalisasi Apostille, Langkah Terbaru Ditjen AHU

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot thailand slot gacor slot gacor slot gacor