Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

MK Tegaskan Sikap soal Nikah Beda Agama

Politisi dan Nafsu Menguasai Institusi

Aphrodisias: Kota Dewi Cinta yang Abadi

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Kamis, 5 Februari 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

QR Warung dan Ketakutan Amerika

Dominasi digital Asia bukan lagi ancaman diam-diam—ia menggugat akar kekuasaan finansial Barat yang sudah mapan.
Udex MundzirUdex Mundzir24 Mei 2025 Editorial
QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard)
QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

QR kecil di meja warung bukan sekadar alat pembayaran. Ia simbol perubahan besar dalam lanskap kekuasaan global.

Ketika masyarakat Indonesia memindai kode QR untuk membeli kopi atau gorengan, mereka sedang mengambil bagian dalam transformasi keuangan dunia.

Sistem keuangan yang dulu dikuasai Barat kini digoyang oleh inovasi dari Asia. Ini bukan soal teknologi semata. Ini soal kedaulatan.

Teknologi pembayaran berbasis QR awalnya dikembangkan di Jepang. Ia lalu disempurnakan dan diadopsi luas di Tiongkok, India, hingga Indonesia.

Inovasi ini sederhana. Tapi revolusioner. Tanpa kartu kredit. Tanpa bank asing. Transaksi menjadi lebih murah dan efisien.

Di Indonesia, QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) kini digunakan lebih dari 30 juta merchant.

Dari warung kecil hingga toko modern, semua bisa menerima pembayaran digital. Cepat, murah, dan terhubung langsung ke sistem domestik.

Biaya transaksinya hanya sekitar 0,7 persen. Bandingkan dengan Visa atau Mastercard yang memotong hingga 2,5 persen—dan membawa dana itu ke luar negeri.

Inilah yang membuat Amerika khawatir.

Bagi Washington, ini bukan soal kenyamanan teknologi. Tapi ancaman terhadap dominasi finansial yang selama ini mereka nikmati.

Jika dunia beralih ke sistem pembayaran lokal, dolar AS kehilangan cengkeramannya.

Perusahaan Amerika kehilangan keuntungan. Sistem mereka tak lagi jadi standar global.

Itu artinya: kekuasaan mereka perlahan memudar.

Ketika kode QR menjadi norma di Asia, Amerika mulai menggambarkannya sebagai potensi risiko keamanan.

Padahal, yang mereka takutkan adalah kehilangan kendali.

Di balik semua retorika soal keamanan siber, yang dipertahankan adalah dominasi ekonomi global.

Tak hanya Amerika. Eropa juga mulai panik. Mereka kini mengembangkan sistem pembayaran mandiri seperti European Payments Initiative.

Mereka sadar. Jika tidak membangun sistem sendiri, mereka akan tergilas oleh dua kutub besar: Asia dan Amerika.

Dunia sedang menuju multipolaritas keuangan. Tak lagi satu poros.

Infrastruktur digital menjadi medan perebutan pengaruh baru. Siapa menguasainya, dia menguasai aliran uang dunia.

Bagi Indonesia, ini peluang emas. Dengan QRIS, kita bisa memperkuat ekonomi domestik dan mengurangi ketergantungan pada sistem asing.

Tapi ini juga tanggung jawab besar.

Kita harus pastikan sistem ini aman dari peretasan. Tahan terhadap intervensi politik.

Perlindungan data dan kedaulatan digital harus menjadi prioritas utama.

Pemerintah perlu memperkuat regulasi. Menjamin bahwa teknologi ini berpihak pada rakyat. Bukan pada oligarki baru digital.

Literasi digital juga perlu ditingkatkan. Banyak pelaku UMKM yang belum paham sepenuhnya manfaat QRIS.

Mereka butuh edukasi. Bukan sekadar alat, tapi pemahaman.

Bahwa dengan memindai QR, mereka sedang ikut membangun ekonomi yang lebih mandiri.

Langkah regional juga penting. ASEAN sudah memulai integrasi sistem pembayaran lintas negara.

Bayangkan: orang Indonesia bisa belanja di Thailand atau Malaysia cukup dengan satu kode QR.

Ini bukan mimpi. Ini masa depan yang sedang dibentuk hari ini.

Amerika boleh gelisah. Tapi sejarah sedang bergerak.

Dominasi mereka tidak abadi. Dunia sedang menata ulang sistem kekuasaan global—melalui teknologi yang paling dekat dengan rakyat.

QR di warung kopi itu kecil. Tapi dampaknya sangat besar.

Ia adalah tanda zaman. Simbol bahwa kekuasaan tak lagi hanya milik negara besar. Tapi juga warung kecil di sudut gang.

Dominasi Global Fintech Asia Kedaulatan Ekonomi Pembayaran Digital QRIS Indonesia
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleGenerasi Emas, Fondasi Kelas Kacau
Next Article Revisi Dam: Ibadah atau Administrasi?

Informasi lainnya

Politisi dan Nafsu Menguasai Institusi

31 Januari 2026

Gaduh Ijazah dan Politik Adu Domba

26 Januari 2026

Warisan Masalah Era Jokowi

19 Januari 2026

ASEAN di Tengah Preseden Maduro

5 Januari 2026

QRIS dan Tunai, Ketika Teknologi Tak Selalu Memudahkan Semua

28 Desember 2025

Menguji Gelar Pahlawan Soeharto

13 November 2025
Paling Sering Dibaca

Pergi Haji atau Umroh Dulu? Ini Jawaban Ustadz Abdul Somad

Islami Alfi Salamah

Energi Para Pahlawan

Gagasan Syamril Al-Bugisyi

Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan Baru

Profil Ericka

Pentingnya Self-Care dan Cara Menjaganya

Opini Alfi Salamah

Evis Santika: Wajah Baru di Kwarran Pramuka Cisayong

Profil Silva
Berita Lainnya
Pendidikan
Lisda Lisdiawati28 Januari 2026

Workshop Transformasi Tugas Akhir menjadi Artikel Ilmiah di Politeknik Triguna

Gus Yaqut Disorot KPK di Balik Skema 50:50 Kuota Haji

Susu Dingin atau Hangat, Mana yang Lebih Baik untuk Tubuh?

Workshop Visi SMPN 1 Cisayong Tekankan Karakter Murid

Harga Tandan Buah Segar Sawit di Kaltim Turun Rp2.099,15 per Kilogram

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.