Dalam sejarah Islam, ada satu sosok pemuda yang menjadi simbol kepercayaan, keberanian, dan kedewasaan luar biasa di usia muda: Usamah bin Zaid RA. Ia bukan hanya sahabat muda, tapi pemimpin pasukan yang ditunjuk langsung oleh Rasulullah SAW saat usianya baru menginjak 17 atau 18 tahun. Di tengah keraguan orang-orang, ia membuktikan bahwa kedewasaan bukan soal umur, tapi iman dan tanggung jawab.
Anak dari Keluarga Istimewa
Usamah adalah putra dari Zaid bin Haritsah, satu-satunya sahabat yang namanya disebut dalam Al-Qur’an, dan ibunya adalah Ummu Aiman, mantan budak yang sangat disayangi oleh Rasulullah.
Usamah tumbuh di lingkungan rumah tangga Nabi, sehingga ia sangat dekat secara pribadi maupun spiritual dengan Rasulullah. Ia sering disebut sebagai “al-Hibb ibn al-Hibb” orang yang dicintai anak dari orang yang dicintai.
Kedekatannya dengan Rasulullah menjadikan Usamah sebagai pribadi yang matang sejak kecil. Ia tidak hanya akrab dengan Nabi secara emosional, tetapi juga terbentuk oleh nilai-nilai Islam sejak usia dini.
Usamah Jadi Panglima Perang di Usia Belia
Salah satu peristiwa paling luar biasa dalam hidup Usamah adalah ketika Rasulullah SAW menunjuknya sebagai panglima perang untuk memimpin ekspedisi militer ke wilayah Romawi (Bizantium) di Syam.
Padahal di dalam pasukan itu ada para sahabat senior seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Abu Ubaidah bin Jarrah. Banyak yang merasa heran dan bahkan menolak, mempertanyakan kenapa anak muda seperti Usamah yang ditunjuk sebagai komandan.
Namun Rasulullah menegaskan: “Jika kalian mencela kepemimpinan Usamah, berarti kalian juga mencela ayahnya sebelumnya. Demi Allah, ia pantas menjadi pemimpin sebagaimana ayahnya dahulu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ini menunjukkan bahwa kompetensi, akhlak, dan amanah lebih penting dari usia atau latar belakang.
Ujian Kepercayaan di Masa Krisis
Penunjukan Usamah sebagai panglima terjadi di masa-masa genting, menjelang wafatnya Rasulullah SAW. Ketika Nabi wafat, pasukan Usamah belum sempat berangkat. Banyak yang mendesak Khalifah Abu Bakar untuk membatalkan atau mengganti Usamah.
Namun, Abu Bakar menolak tegas. Ia berkata: “Demi Allah, aku tidak akan mencabut panji yang sudah dikibarkan oleh Rasulullah.”
Pasukan akhirnya diberangkatkan di bawah komando Usamah, dan ekspedisi itu berhasil dengan gemilang. Wilayah-wilayah yang semula memberontak kembali tunduk, dan kewibawaan Daulah Islam bangkit di mata bangsa-bangsa lain.
Usamah membuktikan bahwa ia bukan hanya layak dipercaya, tapi juga sangat kompeten.
Pelajaran Besar dari Seorang Pemuda
Kisah Usamah bin Zaid mengajarkan bahwa usia muda bukan penghalang untuk berkontribusi besar bagi agama dan masyarakat. Dalam Islam, yang dinilai bukan tua atau mudanya seseorang, melainkan:
- Keimanan yang kuat
- Akhlak yang terpuji
- Kecerdasan dalam bertindak
- Kesungguhan dalam mengemban amanah
Usamah telah memenuhi semuanya. Ia tidak hanya menjadi simbol anak muda teladan, tapi juga menjawab keraguan dengan hasil nyata.
Konteks Hari Ini: Ketika Pemuda Dipandang Sebelah Mata
Di zaman sekarang, banyak pemuda dianggap belum “siap” atau “belum layak” memimpin atau mengambil peran penting, apalagi di bidang dakwah atau masyarakat. Namun sejarah Islam justru dipenuhi oleh pemuda-pemuda hebat yang mewarnai peradaban sejak usia belia.
Usamah bin Zaid menjadi teladan bahwa dengan pembinaan yang benar, anak muda bisa mengemban peran besar. Asal dibekali ilmu, adab, dan kepercayaan, generasi muda bisa menjadi pelopor perubahan.
Rasulullah dan Cara Beliau Mendidik Usamah
Kehebatan Usamah tidak muncul tiba-tiba. Ia adalah hasil dari proses pendidikan langsung dari Rasulullah SAW. Nabi menanamkan:
- Kepercayaan diri
- Tanggung jawab
- Keberanian
- Kedisiplinan
Rasulullah tidak memanjakan Usamah meski sangat mencintainya. Beliau justru memberi kesempatan agar ia tumbuh mandiri, belajar dari tantangan nyata. Ini menjadi pelajaran penting bagi orang tua dan guru hari ini: bahwa kepercayaan adalah bagian dari pendidikan.
Usamah: Teladan Pemuda Berintegritas
Usamah bin Zaid tidak hanya dikenang sebagai pemuda pemberani. Ia juga dikenal memiliki integritas tinggi dan akhlak luhur.
Salah satu kisah yang terkenal adalah ketika ia membela seorang wanita bangsawan Quraisy yang mencuri dan dihadapkan kepada Nabi. Usamah memohon agar wanita itu dimaafkan karena kedudukan keluarganya. Tapi Rasulullah menegur keras:
“Apakah kamu ingin menolongnya dalam hal pelanggaran hukum Allah? Demi Allah, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, pasti aku sendiri yang akan memotong tangannya!” (HR. Bukhari)
Usamah pun sadar, dan sejak itu tak pernah mencampuradukkan antara kasih pribadi dengan prinsip keadilan.
Usamah dan Harapan bagi Generasi Muda
Usamah bin Zaid adalah simbol kepercayaan Nabi kepada pemuda. Di saat dunia meremehkan, Rasulullah justru menanamkan keyakinan bahwa anak muda bisa memimpin jika dibina dengan benar.
Di masa kini, umat Islam sangat butuh “Usamah-Usamah” baru pemuda yang:
- Tangguh secara iman
- Siap memimpin dengan akhlak
- Rendah hati dan siap belajar
- Tidak takut memikul tanggung jawab
Mari jadikan kisah Usamah bin Zaid sebagai inspirasi besar untuk membangkitkan semangat generasi muda Islam hari ini. Bukan hanya untuk tampil, tapi untuk benar-benar berkontribusi dengan kualitas terbaiknya.
