Di masa krisis dan wabah, mudah bagi manusia untuk panik, gelisah, bahkan putus asa. Tapi tidak bagi Muadz bin Jabal RA, sahabat Nabi yang justru menunjukkan keteguhan, ketulusan, dan kebesaran jiwa luar biasa di saat maut menghampiri dirinya dan keluarganya. Kisahnya mengajarkan kita bahwa iman sejati justru diuji saat badai datang.
Siapa Muadz bin Jabal?
Muadz bin Jabal adalah sahabat Nabi Muhammad SAW yang dikenal luas sebagai ahli ilmu dan ahli Al-Qur’an. Nabi pernah bersabda: “Muadz bin Jabal adalah orang yang paling tahu tentang halal dan haram di antara umatku.” (HR. Tirmidzi)
Beliau masuk Islam di usia muda dan langsung menjadi pengikut setia dakwah Nabi. Di usia dua puluhan, Muadz sudah dikirim oleh Rasulullah ke Yaman sebagai duta dakwah dan pemimpin agama, bukti kepercayaan besar yang Nabi berikan kepadanya.
Ia dikenal cerdas, lembut, dan memiliki tutur kata yang menyejukkan. Tapi keteguhan hatinya benar-benar tampak di masa akhir hidupnya saat wabah Tha’un Amwas melanda.
Wabah Mematikan di Era Khalifah Umar
Sekitar tahun 18 H, wabah pes besar menyebar di wilayah Syam (sekarang sekitar Suriah, Yordania, dan Palestina). Wabah ini dikenal sebagai Tha’un Amwas, dinamakan dari sebuah daerah di Palestina.
Menurut banyak sejarawan Muslim, wabah ini mengakibatkan lebih dari 25.000 orang meninggal, termasuk tokoh-tokoh penting seperti Abu Ubaidah bin Jarrah dan Muadz bin Jabal.
Ketika wabah merebak, Muadz tidak melarikan diri. Ia tetap berada bersama rakyatnya di Palestina, memberikan penguatan iman, menjaga kedamaian, dan mendorong masyarakat agar tetap tawakal kepada Allah.
Kehilangan Keluarga, Tapi Tak Kehilangan Iman
Dalam rentang waktu yang singkat, Muadz kehilangan istri dan dua anaknya karena wabah. Suasana duka menyelimuti dirinya. Namun, di hadapan orang-orang, ia tetap tersenyum.
Ketika ditanya kenapa ia masih bisa tersenyum, Muadz berkata: “Aku mencintai kematian seperti kalian mencintai kehidupan. Aku tidak melihatnya sebagai akhir, tapi sebagai pertemuan dengan Tuhanku.”
Ucapan itu bukan sekadar motivasi, tapi keluar dari hati seorang hamba yang benar-benar menerima takdir Allah dengan lapang dada.
Ketika ajal menjemputnya karena wabah, Muadz bin Jabal sempat berdoa dengan suara lirih: “Ya Allah, Engkau tahu bahwa aku mencintai-Mu, maka rahmatilah aku…”
Ia wafat dalam kondisi beriman, tersenyum, dan tidak mengeluh sedikit pun. Kepergiannya menjadi pelajaran abadi bahwa iman dan sabar adalah kunci menghadapi segala musibah.
Keteguhan di Tengah Badai: Pelajaran untuk Kita
Apa yang bisa kita pelajari dari kisah Muadz bin Jabal? Pertama, bahwa ujian tidak selalu berupa kemiskinan atau kekalahan, tapi juga kehilangan orang-orang tercinta. Bahkan orang sekelas sahabat Nabi pun tidak luput dari duka.
Namun, kunci yang membuat mereka berbeda adalah bagaimana mereka merespons duka itu dengan iman. Muadz tidak marah kepada Allah, tidak menyalahkan takdir, tidak juga mempertanyakan keadilan. Ia menerima semuanya dengan tenang, bahkan dengan senyum.
Saat Dunia Dilanda Ketidakpastian
Setelah pandemi COVID-19 dan berbagai krisis kesehatan global yang masih membayangi, dunia telah banyak belajar. Namun, krisis batin justru masih menjadi tantangan besar.
Banyak orang merasa kehilangan arah, kehilangan harapan, bahkan kehilangan iman. Padahal kisah-kisah seperti Muadz bin Jabal bisa menjadi sumber kekuatan spiritual untuk generasi sekarang.
Kita belajar bahwa sakit bukan hukuman, tapi ladang pahala. Bahwa duka tidak harus dibayar dengan keluh kesah, tapi bisa diubah menjadi ladang kebaikan jika disikapi dengan iman dan tawakal.
Diam di Tempat, Tidak Melarikan Diri
Satu hal yang menarik dari kisah Muadz adalah keputusannya untuk tetap tinggal di wilayah wabah, meski tahu bahwa risikonya adalah kematian.
Nabi Muhammad SAW sendiri telah memberi petunjuk dalam hadis: “Jika kalian mendengar wabah di suatu tempat, jangan masuk ke sana. Jika kalian berada di sana, maka jangan keluar darinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Muadz memegang prinsip ini. Ia tidak panik, tidak melarikan diri, dan tidak meninggalkan umatnya. Ia memilih tetap bersama mereka, membimbing sampai akhir nafasnya.
Keteladanan Muadz di Era Modern
Di era yang serba instan ini, banyak yang kehilangan makna dalam menghadapi musibah. Sedikit saja masalah, sudah merasa tak sanggup. Banyak yang gagal melihat bahwa kekuatan spiritual jauh lebih penting daripada solusi teknis semata.
Muadz bin Jabal mengajarkan bahwa:
- Pemimpin sejati tetap tenang saat rakyatnya panik.
- Orang berilmu sejati tidak hanya mengajar, tapi memberi contoh langsung.
- Hamba sejati tidak menghindari ujian, tapi menghadapinya dengan ikhlas dan senyum.
Senyum Terakhir Seorang Wali
Muadz bin Jabal bukan hanya sahabat, bukan hanya ahli fiqih. Ia adalah simbol keteguhan dalam duka, kekuatan dalam kehilangan, dan ketenangan di ambang maut.
Kisahnya harus terus diceritakan agar generasi Muslim hari ini paham, bahwa iman tidak hanya dibuktikan di masjid dan majelis, tapi terutama di masa-masa paling sulit.
Senyum Muadz di tengah derita bukan kepura-puraan, tapi cermin dari kedalaman iman yang murni. Sebuah pelajaran langka yang tak lekang oleh zaman.
