Overthinking atau berpikir berlebihan seringkali terasa seperti hal kecil yang sepele. Tapi jika dibiarkan, ia bisa tumbuh menjadi akar kecemasan, kegelisahan kronis, bahkan membuat seseorang kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Ini bukan lagi sekadar “terlalu mikir”, tapi bisa menjadi awal dari ketidakstabilan emosional yang lebih dalam.
Yang menyedihkan, banyak orang terbiasa dengan overthinking hingga mereka tak sadar bahwa hidupnya dirampas oleh pikiran-pikiran yang belum tentu nyata. Kita memikirkan kemungkinan terburuk, mengulang percakapan di kepala, dan terus merasa bersalah atas hal-hal yang tak bisa dikendalikan.
Apa Itu Overthinking?
Secara sederhana, overthinking adalah kondisi ketika seseorang berpikir secara berlebihan dan terus-menerus terhadap sesuatu yang telah, sedang, atau akan terjadi. Ini bisa berbentuk:
- Terlalu banyak menganalisis situasi
- Mengulang skenario negatif dalam pikiran
- Meragukan keputusan yang telah diambil
- Mengkhawatirkan masa depan secara irasional
Overthinking berbeda dari berpikir kritis. Jika berpikir kritis membawa solusi, overthinking justru membuat kita terjebak dan sulit bergerak.
Mengapa Kita Sering Overthinking?
Ada beberapa alasan mengapa seseorang cenderung berpikir berlebihan:
- Perfeksionisme
Terlalu takut membuat kesalahan atau tidak tampil sempurna membuat kita menimbang semua kemungkinan secara berlebihan. - Takut Ditolak atau Gagal
Ketakutan terhadap penilaian orang lain membuat kita terus menerka-nerka reaksi dan hasil yang belum tentu terjadi. - Trauma Masa Lalu
Pengalaman buruk membuat seseorang lebih waspada dan cenderung memproyeksikan masa lalu ke masa depan. - Kurangnya Kepercayaan Diri
Seseorang yang kurang yakin dengan dirinya akan lebih mudah mempertanyakan keputusan dan merasa bersalah tanpa alasan.
Dampak Buruk Overthinking bagi Kesehatan Mental
Jika tidak dikendalikan, overthinking bisa berdampak serius:
- Kecemasan Berlebih
Pikiran yang terus-menerus memutar skenario buruk membuat tubuh dalam mode “siaga bahaya” secara konstan. - Kualitas Tidur Menurun
Orang yang overthinking cenderung sulit tidur karena otaknya aktif bahkan saat tubuh lelah. - Menurunnya Produktivitas
Terlalu lama dalam fase berpikir menyebabkan keputusan tertunda dan pekerjaan tak selesai. - Gangguan Relasi
Kekhawatiran berlebihan bisa menimbulkan kecurigaan atau komunikasi yang pasif-agresif.
5 Cara Sederhana Mengatasi Overthinking
Berikut beberapa langkah konkret dan sederhana untuk keluar dari jerat pikiran berlebihan:
1. Latih Kesadaran Diri (Mindfulness)
Mindfulness adalah teknik menyadari apa yang terjadi saat ini, tanpa menghakimi. Latihan ini bisa dilakukan dengan:
- Mengamati napas selama 1–2 menit
- Fokus pada sensasi fisik di tubuh
- Memperhatikan suara atau aroma sekitar tanpa reaksi
Dengan mindfulness, kita bisa menghentikan “putaran otomatis” di kepala dan kembali ke momen sekarang.
2. Batasi Waktu Berpikir
Buat batas waktu untuk merenung. Misalnya: 15 menit per hari untuk memikirkan kekhawatiran, setelah itu tutup buku. Ini membantu otak tidak terus aktif di luar kendali.
Anda bahkan bisa menuliskannya di jurnal, lalu setelah 15 menit, berhenti. Praktik ini sangat efektif menurut riset di Journal of Anxiety Disorders.
3. Ganti Pertanyaanmu
Alih-alih bertanya “Kenapa ini terjadi padaku?” coba ubah menjadi “Apa yang bisa kulakukan sekarang?”
Pertanyaan pertama membuat kita terjebak, yang kedua membawa kita pada aksi. Pertanyaan yang tepat mengarahkan otak ke solusi, bukan ke lubang kekhawatiran tanpa ujung.
4. Bergerak: Aktivitas Fisik
Berjalan kaki, lari ringan, yoga, atau sekadar bersih-bersih kamar bisa mengalihkan energi dari kepala ke tubuh. Gerakan fisik merangsang pelepasan endorfin, hormon penenang alami yang bisa membantu mengatasi beban pikiran.
5. Bicara dengan Orang yang Dipercaya
Memendam hanya memperkuat overthinking. Ceritakan pada orang terpercaya sahabat, pasangan, atau psikolog. Perspektif dari luar sering membantu memecah pola pikir yang buntu.
Studi menunjukkan bahwa berbagi emosi secara verbal membantu otak “mengurai” simpul pikiran dan mengurangi tekanan.
Perlukah Bantuan Profesional?
Jika overthinking sudah mengganggu tidur, pekerjaan, atau hubungan sosial, maka bantuan profesional sangat dianjurkan. Terapi kognitif-perilaku (CBT) terbukti efektif dalam menangani pola pikir obsesif.
Konsultasi psikolog kini juga makin mudah. Banyak platform online menyediakan layanan konseling tanpa harus tatap muka. Jangan ragu untuk mencari pertolongan. Menjaga kewarasan adalah bentuk keberanian.
Overthinking bisa menggerogoti hidup secara diam-diam. Tapi kabar baiknya: ia bisa diatasi dengan langkah-langkah kecil yang konsisten. Saat kita berhenti menebak masa depan, kita mulai menikmati hidup hari ini.
