Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Batas Kuasa, Uji Demokrasi

AI Ciptakan Konsensus Palsu di Ruang Digital

Uji Coba Sukses, QRIS Indonesia-Tiongkok Rilis Akhir April 2026

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Senin, 27 April 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Refleksi Kemenangan dan Kekalahan dalam Pilkada 2024

Udex MundzirUdex Mundzir28 November 2024 Editorial
Megawati Soekarno Putri, politisi senior sarat pengalaman
Megawati Soekarno Putri, politisi senior sarat pengalaman (.pdip)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Pilkada serentak 2024 menjadi panggung politik yang penuh dinamika. Jateng dan Sumut, yang selama ini dikenal sebagai “kandang banteng” PDI Perjuangan, mengalami pergeseran signifikan. Kekalahan jagoan PDIP di dua provinsi tersebut menjadi gambaran menarik, terutama dalam konteks pengaruh figur-figur sentral seperti Presiden Joko Widodo dan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto.

Hasil hitung cepat menunjukkan pasangan yang diusung Koalisi Indonesia Maju (KIM) unggul telak. Di Jawa Tengah, Ahmad Luthfi-Taj Yasin berhasil mengalahkan pasangan Andika Perkasa-Hendrar Prihadi, sedangkan di Sumatra Utara, Bobby Nasution-Surya mendominasi suara melawan Edy Rahmayadi-Hasan Basri. Kemenangan ini tidak lepas dari dukungan Jokowi dan Prabowo, yang oleh banyak pengamat dianggap sebagai faktor krusial.

Namun, narasi kemenangan ini tidak berlaku universal. Di Bali, PDIP berhasil mempertahankan dominasi melalui I Wayan Koster-I Nyoman Giri Prasta. Bahkan di Jakarta, pasangan Pramono Anung-Rano Karno yang didukung Anies Baswedan mampu melampaui Ridwan Kamil-Suswono meskipun didukung Jokowi dan Prabowo. Pertanyaannya, mengapa pola ini muncul, dan apa makna di balik pergeseran ini?

Kekalahan PDIP di Jawa Tengah dan Sumatra Utara memberikan banyak pelajaran. Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, menuding adanya “mobilisasi” serta “intimidasi” aparat yang dilakukan oleh kubu lawan. Namun, narasi ini perlu diuji lebih dalam.

Beberapa kritikus menyatakan bahwa kekalahan PDIP bukan semata hasil permainan politik di lapangan. Ada yang menuding bahwa Megawati tidak menyadari manuver Joko Widodo yang dinilai berpihak pada lawan politik PDIP, meskipun ia merupakan kader partai. Sebagian pihak bahkan menyebut Jokowi sebagai figur yang “bermain dua kaki” dengan mendukung kandidat dari luar PDIP.

Baca Juga:
  • Jabatan Simbolis atau Ancaman Toleransi?
  • Prabowo Masih Takut Bayang-Bayang Jokowi
  • UKT dan Ilusi Kesejahteraan ASN
  • Larangan Study Tour: Solusi atau Masalah Baru?

Di sisi lain, ada anggapan bahwa kekalahan ini merupakan bentuk “hukum karma” politik. Kritik ini merujuk pada sejarah masa lalu, seperti hubungan Megawati dengan Gus Dur yang pernah berujung pada konflik hingga pelengseran.

Sejarah politik yang penuh intrik ini dianggap menciptakan dinamika hubungan yang kompleks antara Megawati dan rekan-rekan politiknya.

Keberhasilan PDIP di Bali menegaskan kekuatan basis tradisional yang sulit tergeser. Popularitas Giri Prasta dan keberhasilan kinerja pemerintahan sebelumnya memainkan peran besar. Sebaliknya, rival politik seperti Made Muliawan Arya hanya memiliki waktu terbatas untuk membangun elektabilitas.

Di Jakarta, fenomena berbeda muncul. Ridwan Kamil, meski didukung Jokowi dan Prabowo, gagal memanfaatkan momentum. Sebaliknya, Anies Baswedan mampu memobilisasi dukungan signifikan untuk Pramono Anung-Rano Karno. Pengamat menyebut ini sebagai bukti bahwa popularitas Anies masih sangat kuat di Jakarta, yang selama ini menjadi salah satu basis utamanya.

Artikel Terkait:
  • Omong Kosong Industri Kreatif
  • Fakta Sebenernya, Inflasi Pejabat
  • Sikap PDIP: Antara Prinsip dan Kepentingan
  • Di Balik Pagar yang Menyandera Laut

Pilkada serentak 2024 merefleksikan bagaimana politik Indonesia semakin bertumpu pada figur sentral. Namun, ketergantungan pada figur juga menghadirkan risiko, terutama bila mesin partai tidak bekerja optimal. PDIP, misalnya, perlu merefleksikan kekalahannya sebagai momentum untuk memperkuat strategi politik di masa depan, terutama di wilayah yang rentan tergerus oleh pengaruh figur luar.

Dukungan Jokowi dan Prabowo menjadi pelajaran penting tentang bagaimana figur dapat memengaruhi hasil, tetapi tidak dapat menjadi faktor tunggal. Kasus Jakarta dan Bali menunjukkan bahwa dukungan figur harus dibarengi dengan strategi lokal yang matang.

Pilkada serentak 2024 menunjukkan bahwa politik Indonesia tengah memasuki babak baru. Dominasi tradisional partai mulai tergeser oleh kekuatan koalisi dan figur sentral. Namun, hasil ini juga menjadi pengingat penting bahwa strategi jangka panjang, kinerja nyata, dan kedekatan dengan masyarakat tetap menjadi kunci keberhasilan.

Jangan Lewatkan:
  • Bayang Luhut di Tubuh Prabowo
  • Selat Hormuz dan Ancaman Ekonomi Dunia
  • Jokowi Ingin Pegang Partai Anak?
  • Mike Tyson vs Jake Paul, Duel Fenomenal untuk Konten YouTube!

PDIP dan partai-partai lainnya perlu menyadari bahwa keberlanjutan politik tidak hanya bergantung pada figur, tetapi juga pada visi, program, dan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan zaman.

Jokowi Prabowo KIM Plus PDIP Kalah Pilkada 2024
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticlePKS dan Strategi Politik yang Memukul Balik
Next Article Tatacipta Dirgantara Terpilih Sebagai Rektor ITB 2025-2030

Informasi lainnya

Batas Kuasa, Uji Demokrasi

26 April 2026

e-KTP: Teknologi Tanpa Arah

25 April 2026

Ikan Sapu-Sapu dan Krisis Sunyi

23 April 2026

UKT dan Ilusi Kesejahteraan ASN

19 April 2026

War Ticket: Ilusi Akses Setara

12 April 2026

Fakta Sebenernya, Inflasi Pejabat

12 April 2026
Paling Sering Dibaca

Sejarah Perjalanan Haji Masa Kerajaan Nusantara

Islami Ericka

Nasaruddin Umar di Puncak Kepuasan Publik

Editorial Udex Mundzir

Menag di Vatikan: Diplomasi Iman dan Kemanusiaan

Editorial Udex Mundzir

Rahasia Minyak Zaitun untuk Kulit dan Rambut Sehat

Daily Tips Ericka

Terpidana Dilindungi, Hukum Dipermalukan

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Pendidikan
Alfi Salamah21 April 2026

Empat Tim Mahasiswa UT dari Pesantren Khalifa Lolos Pendanaan Riset

Alumni SMAN 1 Cisayong Lolos Seleksi Program Pendanaan Penelitian Mahasiswa Universitas Terbuka 2026

5 E-Commerce Dominasi Pasar Usai Bukalapak Tutup Layanan

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

Ledakan Ikan Sapu-sapu, Jakarta Cari Cara Ampuh

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi