Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Pertalite Tetap Rp10.000, Konsumsi Naik dan Stok Tertekan

PHK 1.100 Buruh di Lebak, Nasib Industri Padat Karya

Pesantren Pramuka Khalifa Gebrak Panggung ICOMUS 2026

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Senin, 26 Oktober 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Negeri Pungli dan Pajak Tinggi

Ketika pajak kian mencekik dan pungli tetap menjalar, wibawa negara dipertaruhkan di depan rakyatnya sendiri.
Udex MundzirUdex Mundzir29 Maret 2025 Editorial
Negeri Pungli dan Pajak Tinggi
Ilustrasi Pajak Tinggi di Indonesia (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Pajak tinggi seharusnya tidak menjadi masalah, selama dikelola secara adil dan transparan. Namun di Indonesia, pajak seringkali hadir bersamaan dengan pungutan liar, menciptakan beban ganda yang merugikan rakyat kecil.

Rakyat diminta taat membayar pajak, tetapi dalam kenyataannya, mereka juga harus menghadapi birokrasi yang penuh praktik pungli. Di ruang pelayanan publik, perizinan, hingga proyek infrastruktur, pungutan tak resmi masih menjadi hal yang lumrah.

Laporan Bank Dunia pada Maret 2025 kembali menampar realitas fiskal kita. Indonesia disebut kehilangan potensi penerimaan pajak sebesar Rp546 triliun setiap tahun dalam periode 2016–2021, akibat rendahnya efisiensi dan kepatuhan.

Angka itu terdiri dari kebocoran Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar Rp386 triliun, serta Pajak Penghasilan Badan (PPh Badan) sebesar Rp160 triliun. Bukan jumlah yang kecil—setara dengan hampir sepertiga APBN untuk sektor pendidikan.

Masalah ini bukan soal kekurangan sumber daya, tetapi lemahnya pengawasan dan budaya fiskal yang tidak sehat. Korporasi besar dengan mudah menghindari pajak, sementara sektor informal dan kelas menengah justru menjadi sasaran utama.

Penghindaran pajak terjadi melalui manipulasi laporan keuangan, transfer pricing, dan penggunaan perusahaan cangkang di luar negeri. Praktik semacam ini sulit disentuh karena lemahnya regulasi dan pengawasan yang kerap bisa dinegosiasikan.

Di sisi lain, pemerintah justru semakin agresif menaikkan tarif dan memperluas basis pajak. Tarif PPN naik menjadi 12 persen, wacana pajak karbon digulirkan, serta ekonomi digital mulai dijadikan target penerimaan baru.

Baca Juga:
  • Apa yang Sebenarnya Disembunyikan dari Dana Desa?
  • Obsesi IQ yang Keliru Arah
  • Stop Putar Lagu atau Musik Lokal Indonesia
  • Demokrasi Tak Boleh Kalah Oleh Lumpur

Namun ekspansi ini tak dibarengi dengan pembersihan sistem perpajakan. Tanpa reformasi struktural, kebijakan hanya akan membebani yang lemah dan melanggengkan ketimpangan fiskal.

Kondisi ini menciptakan krisis legitimasi. Rakyat membayar, tapi tidak melihat hasilnya dalam bentuk pelayanan publik yang memadai.

Sebagian masyarakat bahkan mulai menganggap penghindaran pajak sebagai bentuk perlawanan terhadap sistem yang tidak adil. Ini berbahaya, karena bisa merusak fondasi kepercayaan terhadap negara.

Keadilan fiskal tak hanya soal angka, tapi soal rasa keadilan yang dirasakan warga. Ketika mereka melihat korupsi dan pungli merajalela, rasa percaya akan runtuh meski pajak dibayar dengan taat.

Di lapangan, pungli tetap hidup karena dibiarkan. Penegakan hukum lemah, pengawasan internal tak serius, dan sanksi yang ada lebih sering menjadi tontonan ketimbang tindakan tegas.

Padahal pungli adalah penggerogot sistemik terhadap keadilan ekonomi. Setiap rupiah yang diambil tanpa hak, mengikis moral aparat dan menjauhkan warga dari rasa memiliki terhadap negara.

Pemerintah tak bisa hanya mengandalkan kampanye kesadaran pajak. Keteladanan dan integritas lembaga jauh lebih menentukan dalam membangun kepatuhan yang sukarela.

Artikel Terkait:
  • Dilema Profesi Guru di Tengah Ancaman Kriminalisasi
  • Pahlawan yang Dipenjara
  • Kehadiran Prabowo di Kongres Projo, Akan Menegaskan Dirinya “Termul”
  • Menyingkap Tabir di Balik ‘Penyalahgunaan Wewenang’

Langkah pertama yang harus diambil adalah membenahi institusi perpajakan. Direktorat Jenderal Pajak harus direformasi dari dalam, bukan sekadar lewat digitalisasi, tapi juga etika dan budaya kerjanya.

Publik perlu tahu ke mana pajak mereka dibelanjakan. Transparansi anggaran, audit terbuka, dan laporan berkala wajib disampaikan secara sederhana dan mudah dipahami masyarakat.

Langkah kedua, pemberantasan pungli harus dilakukan secara nyata dan sistematis. Tidak cukup hanya dengan OTT atau pemberhentian sementara—perlu ada perubahan sistem yang menutup celah negosiasi liar.

Langkah ketiga, pemerintah perlu fokus melindungi dan memberdayakan sektor ekonomi rakyat. UMKM harus diberikan insentif, bukan sekadar dibebani kewajiban fiskal tanpa perlindungan.

Pajak bukan sekadar alat memungut, tapi juga distribusi keadilan. Negara tidak bisa terus menarik dari bawah, sementara membiarkan yang di atas bermain tanpa batas.

Jika negara ingin rakyat patuh, maka negara harus terlebih dulu menunjukkan integritasnya. Bukan hanya di atas mimbar, tapi dalam praktik sehari-hari pelayanan publik.

Jangan Lewatkan:
  • PKS dan Strategi Politik yang Memukul Balik
  • Keadilan Dibelokkan oleh Kekuasaan
  • Batas Kuasa, Uji Demokrasi
  • Ketika Kebijakan Membakar Dapur Rakyat

Kita tak hanya butuh reformasi pajak, tapi juga revolusi kepercayaan. Karena tanpa kepercayaan, pajak hanya akan menjadi kewajiban yang dipenuhi dengan keterpaksaan, bukan dengan kesadaran.

Negara yang memungut terlalu besar, tapi membiarkan pungli berkembang, sedang menggali kuburnya sendiri. Maka saat ini, perubahan bukan lagi pilihan—melainkan keharusan.

Keadilan Ekonomi Kepercayaan Publik Pajak Tinggi Pungli Indonesia Reformasi Fiskal
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticlePajak Bukan Satu-Satunya Jalan
Next Article Pemerintah Tetapkan 1 Syawal 1446 H Jatuh pada 31 Maret 2025

Informasi lainnya

Hibah untuk Aparat, Buat Apa?

12 Juli 2026

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

12 Juni 2026

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026

Dosen: Akademisi atau Aparatur?

5 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Pengalaman Naik Bus Umum Samarinda-Balikpapan: Tiket Murah, Musik Dangdut, dan Jalanan Bergelombang

Travel Udex Mundzir

Menghidupkan Kembali Cahaya Keemasan Islam

Islami Alfi Salamah

Golkar di Persimpangan Jalan

Editorial Udex Mundzir

Empat Inovasi Baru Pelayanan Haji di Arafah dan Mina

Islami Alfi Salamah

Indonesia dan Dua Periode Jokowi yang Memalukan

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Pesantren Pramuka Khalifa Gebrak Panggung ICOMUS 2026

Wonderchicken, Jejak Burung Awal Zaman Dinosaurus

Ferry Pimpin Syarikat Islam, Hamdan Ketua Dewan Pusat

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Buku Anak Islami Murah Alat Tulis Sekolah Murah Produk Dapur Terlaris
“Landing

☪   JADWAL SALAT

Mendeteksi lokasi...

Memuat tanggal...

⌖  Menyiapkan lokasi
Memuat jadwal salat...
SALAT BERIKUTNYA —
Menunggu jadwal...
Metode Kemenag RI

© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi