Kecerdasan buatan kini menjadi fondasi baru dunia kerja. Sejak ChatGPT merevolusi interaksi manusia dengan mesin, berbagai sektor dari keuangan, hukum, hingga kreatif berlomba mengintegrasikan AI untuk efisiensi. Namun, di balik janji produktivitas dan otomatisasi, ada narasi lain yang jarang tersorot: hilangnya pekerjaan manusia secara masif dan cepat.
Banyak pihak menyambut AI sebagai solusi. Tetapi jika kita lihat data yang ada, muncul kekhawatiran yang tak bisa manusia abaikan. World Economic Forum dalam Future of Jobs Report 2025 mencatat bahwa setidaknya 85 juta pekerjaan akan tergantikan oleh otomatisasi hingga 2027. Angka ini tidak main-main, dan banyak di antaranya adalah pekerjaan berisiko rendah yang justru paling banyak menyerap tenaga kerja di negara berkembang seperti Indonesia.
Profesi yang Terancam
Beberapa sektor paling rentan tergantikan AI adalah:
- Customer service: Chatbot kini menggantikan operator manusia di banyak perusahaan besar.
- Penulisan konten dasar: Artikel SEO, ulasan produk, hingga deskripsi e-commerce kini dapat ditulis oleh mesin.
- Akuntansi dasar: Sistem AI mampu memproses transaksi dan audit sederhana lebih cepat dari manusia.
- Data entry dan administrasi: Otomatisasi dokumen dan pengolahan data memotong kebutuhan tenaga admin.
- Penerjemah bahasa standar: Tools seperti Google Translate dan DeepL semakin presisi, menggeser jasa penerjemah umum.
Ini menunjukkan bahwa pekerjaan yang bersifat rutin dan berulang akan lebih dulu menghilang, tak peduli seberapa lama seseorang mengabdi dalam posisi tersebut.
Ilusi Efisiensi, Realitas Pengangguran
Argumen dominan dari pelaku industri adalah bahwa teknologi akan menciptakan “pekerjaan baru”. Namun, kenyataannya tidak semudah itu. Banyak pekerjaan baru yang lahir justru membutuhkan keterampilan teknis tinggi yang tidak dimiliki mayoritas pekerja saat ini.
Artinya, ada jeda keterampilan (skill gap) yang lebar, dan itu berarti banyak pekerja tidak hanya kehilangan pekerjaan, tetapi juga tidak bisa mengakses peluang baru.
Bahkan di negara maju, seperti Jerman dan Jepang, lonjakan adopsi AI justru diikuti oleh gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor-sektor tertentu. Di Amerika Serikat, industri media mengalami PHK massal sejak 2024 karena perusahaan mengganti tim editorial dengan generator konten AI.
Apa Dampaknya Bagi Indonesia?
Di Indonesia, potensi dampak AI jauh lebih kompleks. Dengan struktur tenaga kerja yang mayoritas berpendidikan menengah dan rendah, otomatisasi justru mengancam sumber penghidupan jutaan orang.
Laporan INDEF 2025 mencatat bahwa setidaknya 12 juta pekerjaan berisiko tergantikan AI dalam dekade ini. Sektor yang paling terancam adalah keuangan (terutama teller dan analis), perhotelan, dan administrasi pemerintahan.
Ironisnya, di saat pemerintah gencar mendorong digitalisasi, minim pelatihan keterampilan digital yang inklusif dan merata. Program pelatihan berbasis AI sebagian besar masih berpusat di kota besar, meninggalkan desa dan wilayah pinggiran.
Siapa yang Diuntungkan?
Kita juga harus bertanya: siapa yang sebenarnya paling diuntungkan oleh AI? Tentu bukan pekerja harian, bukan UMKM, dan bukan masyarakat kelas bawah. Yang paling diuntungkan adalah perusahaan besar, pemilik modal, dan platform global yang kini bisa memangkas biaya tenaga kerja sambil meningkatkan margin keuntungan.
Inilah bentuk baru ketimpangan digital: saat sebagian besar masyarakat menghadapi ketidakpastian ekonomi, sebagian kecil elite digital justru menikmati era “pasca-manusia” dengan keuntungan besar dari otomatisasi.
Menuju Solusi yang Adil
Menghentikan perkembangan AI jelas bukan pilihan. Namun, membiarkan transisi ini tanpa kontrol dan regulasi berarti membiarkan jutaan orang kehilangan hak hidup layak. Maka, kita perlu:
- Kebijakan proteksi kerja berbasis AI: pemerintah harus membuat aturan agar adopsi AI tetap menjamin hak pekerja.
- Program pelatihan inklusif dan gratis: terutama bagi pekerja di sektor rawan tergantikan.
- Insentif pajak untuk perusahaan yang mempertahankan tenaga manusia.
- Regulasi atas penggunaan AI generatif di industri media dan kreatif.
- Transparansi algoritma: masyarakat berhak tahu jika pekerjaan mereka tergantikan sistem otomatis.
AI adalah Solusi Universal
Narasi bahwa AI adalah solusi universal perlu dilawan dengan realitas lapangan. Di banyak kasus, AI memang meningkatkan efisiensi, tetapi itu datang dengan harga sosial yang sangat mahal.
Jika negara tidak hadir dengan kebijakan transisi yang adil dan berpihak pada rakyat, maka masa depan dunia kerja akan mesin kuasai, sementara manusia tertinggal begitu saja.
