Kebenaran yang tertunda sering kali terasa seperti hukuman kedua bagi orang tak bersalah. Itulah yang dialami Isaac Wright Jr., seorang pria yang pernah dijatuhi vonis seumur hidup plus 70 tahun. Tuduhan itu terkait konspirasi narkoba. Namun, kebenaran berkata lain. Ia tidak bersalah. Kisahnya memaksa siapa pun berhenti sejenak, lalu mempertanyakan makna keadilan.
Kasus Isaac mencerminkan fenomena kelam dalam sistem peradilan pidana Amerika Serikat. Pada Selasa 12 Maret 1991, ia dihukum berdasarkan kesaksian yang kemudian terbukti direkayasa. Jaksa dan aparat penegak hukum memanipulasi saksi. Bukti yang meringankan disembunyikan. Narasi palsu disajikan di persidangan. Vonis ekstrem itu menjadi contoh nyata prosecutorial misconduct. Dampaknya menghancurkan hidup, reputasi, dan masa depan.
“Saya tahu saya tidak bersalah. Maka saya harus belajar hukum untuk bertahan hidup,” ungkap Isaac dalam sebuah wawancara setelah bebas. Pernyataan itu bukan sekadar tekad. Dari balik jeruji, ia mempelajari hukum secara otodidak. Ia membaca buku undang-undang. Ia menulis motion dan appeal sendiri. Ia menyusun strategi hukum yang teliti. Langkah-langkah itu membuka tabir kebohongan yang selama ini menutup kasusnya.
Perlawanan dari dalam penjara bukan perkara mudah. Akses terbatas. Tekanan mental berat. Namun Isaac konsisten. Ia mengurai inkonsistensi kesaksian. Ia menunjukkan pelanggaran prosedur. Ia membuktikan adanya bukti yang disembunyikan. Upaya panjang itu berbuah pada 2019. Vonisnya dibatalkan. Ia akhirnya menghirup udara bebas setelah belasan tahun dipenjara.
Kisah ini tidak berhenti pada kebebasan. Setelah keluar, Isaac memilih jalan yang lebih sulit. Ia masuk sekolah hukum. Ia lulus. Ia lolos ujian advokat. Kini, ia berpraktik sebagai pengacara pembela. Fokusnya jelas: kasus wrongful conviction. Transformasi ini nyaris mustahil secara statistik. Namun ia melakukannya dengan disiplin dan keyakinan.
Dampak kisah Isaac melampaui ruang sidang. Ceritanya diangkat dalam serial drama terinspirasi fakta berjudul For Life. Diskusi publik pun menguat. Isu penyalahgunaan kekuasaan jaksa, bias struktural, dan ketimpangan hukum kembali disorot. Banyak gerakan reformasi peradilan pidana menjadikan kisahnya sebagai rujukan moral.
Lebih dari sekadar inspirasi, kisah ini adalah peringatan. Sistem hukum bisa salah. Kebenaran tidak selalu menang cepat. Pengetahuan dapat menjadi alat pembebasan. Bahkan dari sel penjara. Isaac Wright Jr. membuktikan bahwa ketidakadilan bisa dilawan dengan ketekunan, akal sehat, dan keberanian moral.
Pada akhirnya, kisah ini meninggalkan pesan sederhana namun keras. Keadilan bukan hanya soal putusan. Ia tentang proses yang jujur. Ia tentang manusia yang berani melawan ketika sistem gagal.
