Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Ramadan 2026: Kemenag Tetapkan Batas Volume Toa Masjid

BPS Catat Ekonomi Indonesia 2025 Tumbuh 5,11 Persen

Rebung Lebih Sehat dari Dugaan

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Kamis, 5 Februari 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Alibi Efisiensi, Pilkada Tetap Harus Langsung

Di balik alasan efisiensi anggaran, wacana mengembalikan pilkada ke DPRD menimbulkan ancaman serius terhadap demokrasi lokal.
Udex MundzirUdex Mundzir22 Desember 2024 Editorial
Wacana pilkada via DPRD
Wacana pilkada via DPRD (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Wacana efisiensi politik kembali digunakan untuk menggiring opini publik terhadap perubahan sistem pilkada. Presiden Prabowo Subianto mengusulkan agar kepala daerah dipilih oleh DPRD dengan alasan menghemat anggaran negara. Namun, di balik janji efisiensi tersebut, ada ancaman nyata terhadap kedaulatan rakyat dan prinsip dasar demokrasi yang telah dibangun selama hampir dua dekade.

Presiden Prabowo menyebut bahwa sistem di negara-negara seperti Malaysia dan Singapura lebih efisien karena kepala daerah tidak dipilih langsung oleh rakyat. Ia mengklaim, anggaran yang dihemat dari pilkada langsung dapat dialihkan untuk memperbaiki infrastruktur, pendidikan, dan kebutuhan mendesak lainnya. Namun, apakah efisiensi ini benar-benar sepadan dengan dampak buruknya terhadap demokrasi dan akuntabilitas pemerintah?

Sejarah menunjukkan bahwa pilkada langsung memberi ruang bagi rakyat untuk memilih pemimpin secara transparan dan bertanggung jawab. Dengan menyerahkan pemilihan kepada DPRD, kontrol rakyat atas proses demokrasi berpotensi terkikis. Kepala daerah yang dipilih oleh DPRD cenderung lebih bertanggung jawab kepada para anggota dewan ketimbang kepada masyarakat luas.

Pilkada langsung memang memerlukan biaya besar, tetapi biaya tersebut adalah investasi bagi demokrasi. Pengalihan pilkada ke DPRD tidak menjamin pengurangan biaya secara signifikan. Sebaliknya, negosiasi politik, lobi-lobi antarpartai, dan potensi politik uang di balik layar justru berisiko menambah biaya politik yang lebih sulit dipantau.

Peneliti dari Perludem menegaskan bahwa akar masalah biaya tinggi dalam pilkada langsung terletak pada lemahnya penegakan hukum terhadap praktik politik transaksional, bukan pada sistem pemilunya. Jika pemerintah serius ingin menekan biaya politik, yang perlu dilakukan adalah memperbaiki regulasi kampanye, menindak pelanggaran, dan mendorong transparansi dalam proses pencalonan.

Pilkada langsung adalah salah satu mekanisme demokrasi yang menjamin keterlibatan rakyat dalam menentukan pemimpin lokal mereka. Mekanisme ini memberikan legitimasi kuat kepada kepala daerah dan memperkuat akuntabilitas mereka kepada rakyat.

Dengan mengembalikan pemilihan kepada DPRD, pemerintah berisiko mengurangi hak rakyat untuk terlibat langsung dalam proses demokrasi. Kepala daerah yang dipilih tanpa mandat langsung dari rakyat dapat kehilangan legitimasi dan cenderung fokus pada kepentingan elite politik.

Wacana ini juga berisiko memunculkan kolusi antara eksekutif dan legislatif lokal, yang melemahkan prinsip check and balances. Demokrasi prosedural semacam ini dikhawatirkan akan menguatkan oligarki dan merugikan masyarakat.

Alih-alih mengubah sistem, pemerintah harus fokus pada reformasi teknis yang meningkatkan efisiensi pilkada langsung. Salah satu solusinya adalah penggabungan pemilu nasional dan daerah untuk mengurangi frekuensi pemilu, sekaligus menghemat biaya. Digitalisasi pemilu juga bisa menjadi alternatif yang relevan untuk menekan anggaran jangka panjang.

Pemerintah juga harus memperkuat kapasitas partai politik dalam membangun basis dukungan di tingkat akar rumput, sehingga tidak bergantung pada praktik politik uang. Upaya ini lebih menjanjikan dalam meningkatkan kualitas demokrasi tanpa mengorbankan hak rakyat.

Wacana ini tidak hanya soal efisiensi, tetapi juga mencerminkan upaya untuk melanggengkan kontrol politik oleh segelintir elite. Dalam demokrasi yang sehat, rakyat adalah pusat dari setiap proses politik. Mengalihkan kekuasaan memilih dari rakyat kepada DPRD adalah langkah mundur yang dapat mengerdilkan demokrasi lokal.

Investasi dalam demokrasi, termasuk biaya pilkada langsung, adalah harga yang pantas untuk memastikan hak rakyat tetap terjaga. Efisiensi tidak boleh dijadikan alasan untuk melemahkan demokrasi. Pilkada langsung harus dipertahankan demi kedaulatan rakyat dan masa depan demokrasi Indonesia.

Demokrasi Lokal Efisiensi Politik Pilkada DPRD Pilkada Langsung Wacana Prabowo
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleStrategi Pemanfaatan AI Nasional: Pemerintah Tetapkan Lima Prioritas
Next Article Kenaikan PPN 12 Persen Picu Polemik, PDIP Tegaskan Inisiatif Pemerintahan Jokowi

Informasi lainnya

Politisi dan Nafsu Menguasai Institusi

31 Januari 2026

Gaduh Ijazah dan Politik Adu Domba

26 Januari 2026

Warisan Masalah Era Jokowi

19 Januari 2026

ASEAN di Tengah Preseden Maduro

5 Januari 2026

Menguji Gelar Pahlawan Soeharto

13 November 2025

Insentif MBG: Jangan Alihkan Beban

2 November 2025
Paling Sering Dibaca

Tri Mumpuni, Penyulut Cahaya dari Desa Terpencil

Biografi Alfi Salamah

Childfree dalam Pandangan Islam

Islami Alfi Salamah

Hari Dongeng Nasional 28 November

Happy Udex Mundzir

Keindahan Negeri Dua Benua, Inilah 10 Tempat yang Harus Dikujungi di Turki

Travel Alfi Salamah

Isu, Skandal, dan Politik Panggung

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Pendidikan
Lisda Lisdiawati28 Januari 2026

Workshop Transformasi Tugas Akhir menjadi Artikel Ilmiah di Politeknik Triguna

Gus Yaqut Disorot KPK di Balik Skema 50:50 Kuota Haji

Susu Dingin atau Hangat, Mana yang Lebih Baik untuk Tubuh?

Workshop Visi SMPN 1 Cisayong Tekankan Karakter Murid

Harga Tandan Buah Segar Sawit di Kaltim Turun Rp2.099,15 per Kilogram

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.