Bangkok – Seperti efek domino yang tak terhindarkan, konflik militer di Timur Tengah mulai mengguncang sektor energi Asia Tenggara. Thailand menghadapi kelangkaan pasokan, sementara Singapura mencatat lonjakan harga bahan bakar hingga menembus rekor tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu kekhawatiran global terhadap distribusi energi, khususnya jalur minyak strategis. Dampaknya mulai terasa pada Rabu (18/03/2026), ketika sejumlah negara di Asia Tenggara melaporkan gangguan pasokan dan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Di Thailand, harga solar dilaporkan naik sekitar 4 hingga 5 baht per liter, dipicu oleh kekhawatiran terganggunya rantai distribusi akibat konflik berkepanjangan.
“Bagi masyarakat tidak akan ada kekurangan minyak, tetapi mungkin akan ada dampak pada harga,” ujar Chaiyong Maneerungsakul, anggota Senat Thailand, dalam keterangannya pada Rabu (18/03/2026).
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa meskipun stok nasional masih terjaga, tekanan harga menjadi konsekuensi yang sulit dihindari. Di sejumlah wilayah Thailand bagian utara dan selatan, pasokan dari depot mengalami penurunan di tengah meningkatnya permintaan masyarakat. Kondisi ini memicu antrean panjang di SPBU, bahkan beberapa di antaranya dilaporkan kehabisan jenis BBM tertentu seperti Gasohol E85 dan E91.
Seorang pemilik SPBU di Mae Hong Son, Adul Payomdong, mengaku sempat mempertimbangkan untuk menghentikan penjualan sementara karena tidak mampu bersaing dengan harga dari jaringan besar.
“Saya berencana untuk menangguhkan penjualan BBM sementara karena kami tidak dapat bersaing dengan harga SPBU besar. Tetapi pelanggan tetap kami mengatakan mereka bersedia untuk terus membeli meskipun harganya disesuaikan,” ungkapnya.
Di wilayah perbatasan seperti Tachileik, situasi bahkan lebih kompleks. Harga BBM eceran dalam kemasan botol melonjak tajam, sementara volume penjualan justru dikurangi. Pemerintah setempat pun mengambil langkah pembatasan pembelian dan pengurangan jam operasional SPBU untuk menjaga stabilitas distribusi.
Sementara itu, Singapura mengalami tekanan dari sisi harga. Operator SPBU besar menaikkan harga BBM jenis RON 95 hingga setara lebih dari Rp58 ribu per liter, melampaui rekor yang sebelumnya tercatat pada 2022 saat konflik Rusia-Ukraina memuncak. Fluktuasi harga di negara tersebut juga tergolong tinggi, dengan penyesuaian yang dapat terjadi beberapa kali dalam sehari mengikuti dinamika pasar global.
Kenaikan harga ini mencerminkan sensitivitas tinggi pasar energi terhadap konflik geopolitik. Jalur distribusi minyak global yang terganggu membuat negara-negara importir harus menyesuaikan harga domestik dengan cepat.
Selain berdampak pada sektor transportasi, lonjakan harga BBM juga berpotensi meningkatkan biaya logistik dan harga barang kebutuhan pokok. Jika konflik terus berlanjut, tekanan inflasi di kawasan Asia Tenggara diperkirakan akan semakin meningkat dalam beberapa bulan ke depan.
Secara keseluruhan, situasi ini menunjukkan betapa eratnya keterkaitan antara stabilitas geopolitik global dan ketahanan energi regional. Negara-negara di Asia Tenggara kini dihadapkan pada tantangan untuk menjaga pasokan sekaligus mengendalikan dampak ekonomi yang ditimbulkan.
