Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Ramadan 2026: Kemenag Tetapkan Batas Volume Toa Masjid

BPS Catat Ekonomi Indonesia 2025 Tumbuh 5,11 Persen

Rebung Lebih Sehat dari Dugaan

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Kamis, 5 Februari 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Pimpinan Viral, Yang Menderita Rakyatnya.

Saat rakyat kehilangan arah, pemimpinnya justru sibuk mencari sorotan.
Udex MundzirUdex Mundzir3 April 2025 Editorial
Pencitraan Pemimpin Daerah dan Kontras Ekonomi Lebaran
Ilustrasi Pencitraan Pemimpin Daerah dan Kontras Ekonomi Lebaran
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Tahun ini jumlah pemudik turun drastis—dari 193 juta menjadi 146 juta orang. Bukan karena orang-orang tak lagi cinta kampung halaman, tapi karena mereka tak punya cukup uang untuk pulang. Namun, di tengah kesulitan ekonomi itu, kita disuguhi pemimpin daerah yang baru dilantik malah tampil layaknya bintang panggung.

Alih-alih bekerja sunyi untuk membenahi daerahnya, mereka justru berlomba tampil di kamera. Menolak gaji, membagikan bansos, membonceng rakyat naik motor, blusukan mendadak—semua dibingkai dalam lensa pencitraan, bukan kinerja.

Padahal, jika dibandingkan dengan Lebaran tahun lalu, tekanan ekonomi tahun ini jauh lebih berat. Banyak pekerja yang kehilangan pekerjaan, upah stagnan, harga pangan tak kunjung turun, dan bantuan sosial justru dipangkas.

Cerita Supriyono dan Hamidah, buruh korban PHK yang tak bisa mudik, hanyalah dua dari ribuan potret warga yang dikorbankan sistem. Mereka yang dulu pulang membawa harapan dan rezeki, kini bahkan tak sanggup membeli tiket pulang.

Namun, pemimpinnya malah menggelar panggung. Yang menjadi simbol, bukan solusi. Yang dikedepankan adalah gestur, bukan kerja.

Lebih parah lagi, pengawasan melemah. Wartawan lokal, LSM, dan aktivis yang dulu vokal kini “dipaksa antri” parcel dan amplop THR. Suara publik dibungkam bukan dengan represi, tapi dengan bingkisan.Kontrol sosial mandul. Kritik dimatikan dengan keramahan palsu. Ruang diskusi publik diganti dengan siaran langsung penuh tepuk tangan.

Sementara itu, pelayanan dasar tetap buruk. Jalan rusak tak tersentuh, air bersih masih langka, layanan kesehatan tetap antre dan minim obat. Rakyat dibiarkan bergulat sendiri dengan hidupnya, sementara anggaran habis untuk pencitraan.

Benar bahwa arus mudik tahun ini lebih lancar. Data Korlantas menunjukkan kecelakaan turun 31 persen, dan korban meninggal menurun 32 persen dibanding 2024. Tapi jangan sampai lancarnya jalan justru menutupi kenyataan bahwa banyak yang tak bisa mudik karena tak punya ongkos.

Dibandingkan tahun lalu, tidak hanya jumlah pemudik yang menyusut, tetapi perputaran uang selama Ramadan dan Lebaran pun turun drastis: dari Rp157 triliun menjadi Rp137 triliun. Uang tidak bergerak, karena dompet rakyat semakin tipis.

Ironisnya, justru di tengah keterpurukan ini, pemimpin daerah sibuk membangun citra saleh dan merakyat. Menolak gaji sambil tetap menikmati semua fasilitas. Membagikan bansos sambil membawa kamera dan pasukan konten.

Rakyat tak butuh pertunjukan. Mereka butuh perubahan nyata. Jika pemimpin ingin menunjukan empati, maka perbaikilah layanan publik. Buka lapangan kerja. Tingkatkan anggaran pendidikan dan kesehatan. Jangan hanya tampil bersih di permukaan, tapi biarkan korupsi, kolusi, dan kemiskinan mengakar di bawah.

Dan jika ingin dihormati, jangan bungkam pengkritik dengan amplop. Beranilah mendengar suara yang tak enak di telinga. Karena dalam demokrasi, lawan bukan musuh. Kritik bukan fitnah.

Hari ini, yang menjaga rakyat bukan lagi lembaga formal, tapi kesadaran publik itu sendiri. Media alternatif, jaringan warga, dan suara-suara kecil harus kembali diberi tempat. Karena jika pengawasan mati, maka kekuasaan akan terus menyalahgunakan panggung.

Kita tidak anti pemimpin muda. Kita hanya muak pada pemimpin yang lebih sibuk bergaya daripada bekerja.Pimpinan boleh viral, tapi jangan lupa: yang masih menderita tetap rakyatnya.

Daya Beli Turun Lebaran 2025 Pemimpin Daerah Pencitraan Politik PHK Massal
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleAngka Kecelakaan Lalu Lintas Mudik Lebaran Menurun, Menhub Apresiasi Peran Polri
Next Article Eks Tambang Disulap Jadi Peternakan, Loa Raya Gandeng Investor Malaysia

Informasi lainnya

Politisi dan Nafsu Menguasai Institusi

31 Januari 2026

Gaduh Ijazah dan Politik Adu Domba

26 Januari 2026

Warisan Masalah Era Jokowi

19 Januari 2026

ASEAN di Tengah Preseden Maduro

5 Januari 2026

Menguji Gelar Pahlawan Soeharto

13 November 2025

Insentif MBG: Jangan Alihkan Beban

2 November 2025
Paling Sering Dibaca

Gubernur Bayangan di Tambang Rakyat

Editorial Udex Mundzir

Poligami dalam Islam: Syarat, Larangan, dan Langkah Persiapan

Islami Udex Mundzir

DPR AS Desak Apple dan Google Hapus TikTok Januari 2025

Techno Silva

Di Balik Kegelapan yang Diteriakkan

Editorial Udex Mundzir

Menjadi Kepala Daerah

Gagasan Syamril Al-Bugisyi
Berita Lainnya
Pendidikan
Lisda Lisdiawati28 Januari 2026

Workshop Transformasi Tugas Akhir menjadi Artikel Ilmiah di Politeknik Triguna

Gus Yaqut Disorot KPK di Balik Skema 50:50 Kuota Haji

Susu Dingin atau Hangat, Mana yang Lebih Baik untuk Tubuh?

Workshop Visi SMPN 1 Cisayong Tekankan Karakter Murid

Harga Tandan Buah Segar Sawit di Kaltim Turun Rp2.099,15 per Kilogram

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.