Mode selalu menjadi cermin zaman. Tahun 2026 tidak terkecuali. Di tengah dunia yang berubah cepat mulai dari krisis iklim, revolusi AI, hingga kembalinya kultur Y2K industri fashion pun bergerak cepat merespons. Desainer besar hingga UMKM lokal mulai menggeser arah: dari sekadar estetika menuju makna yang lebih dalam dan berkelanjutan.
Tren fashion kini bukan lagi soal siapa mengenakan apa, tetapi mengapa kita mengenakan itu. Dari New York Fashion Week hingga Jakarta Fashion Hub, kita mulai melihat arah baru dalam selera berpakaian generasi muda yang tidak hanya mencari gaya, tetapi juga nilai.
Berikut ini adalah lima tren fashion yang diprediksi akan mendominasi tahun 2026, berdasarkan data industri, laporan tren global, serta pengamatan pasar lokal.
Quiet Luxury: Kesederhanaan yang Mahal
Fenomena “quiet luxury” bukanlah tren sementara. Setelah ramai dibicarakan sejak 2024, gaya ini makin kuat di 2026. Tidak ada logo mencolok, tidak ada warna menyala justru pakaian basic berkualitas tinggi, potongan bersih, dan warna netral menjadi simbol status baru.
Brand seperti The Row, Loro Piana, atau lini terbaru dari Totême terus mendefinisikan kemewahan lewat kesunyian. Di Indonesia, fenomena ini tercermin dari merek-merek lokal seperti Sejauh Mata Memandang yang fokus pada kualitas bahan dan nilai produksi etis.
Ini adalah respons terhadap gaya hidup pasca-pandemi: lebih sadar, lebih selektif, dan lebih berkelas tanpa harus pamer.
Techwear: Ketika Fesyen Bertemu Fungsi
Integrasi antara fashion dan teknologi mulai menjadi arus utama. Tahun ini, techwear tampil bukan hanya sebagai estetika, tapi juga fungsi. Jaket dengan pengatur suhu otomatis, celana anti-air dengan sensor keamanan, dan tas dengan GPS tracker jadi item yang semakin umum.
Pendorong utama tren ini adalah meningkatnya kesadaran terhadap gaya hidup aktif dan nomaden digital. Startup fashion-tech lokal seperti Morphwear dan Versa.id sudah mulai mengembangkan produk wearable tech untuk pasar Indonesia.
Gaya techwear juga dekat dengan estetika futuristik, cocok dengan selera Gen Z yang mulai menggemari tampilan “cyberpunk meets streetwear”.
Sustainable Fashion: Dari Komitmen ke Keharusan
Kalau di masa lalu sustainable fashion hanya sekadar “opsi alternatif”, di 2026 ia menjadi norma baru. Konsumen menuntut transparansi: siapa yang membuat pakaian mereka, dari bahan apa, dan dalam kondisi kerja seperti apa.
Bahkan, laporan McKinsey menyebutkan bahwa 62% konsumen usia 20–35 di Asia Tenggara lebih memilih brand yang punya komitmen lingkungan. Di Indonesia, label seperti SukkhaCitta dan Kana Goods menjadi pelopor sustainable fashion yang juga memiliki cerita sosial di balik setiap produk.
Tren ini menandakan perubahan dari konsumtif menjadi reflektif. Pakaian tidak hanya dikenakan, tapi juga dipertanyakan.
Genderless Design: Mode Tanpa Batas
Dekade ini menyaksikan transisi besar dalam cara kita memandang busana: bukan lagi soal pria atau wanita, melainkan ekspresi personal. Genderless fashion semakin diterima, bahkan oleh brand besar seperti Gucci dan Balenciaga.
Di Indonesia, desainer muda seperti Toton Januar dan Sean Sheila telah lama bereksperimen dengan potongan yang melampaui gender. Kini pasar lokal mulai menyambut koleksi uniseks dengan lebih terbuka.
Gaya oversize, siluet longgar, dan palet netral mendominasi koleksi terbaru. Lebih dari sekadar tren, ini adalah bentuk ekspresi kebebasan baru dalam berbusana.
Kembalinya Gaya Y2K: Nostalgia dan Ironi
Gaya awal 2000-an kembali, tetapi dengan twist. Celana low-rise, baby tee, chunky sneakers, dan aksesori bling-bling kembali mengisi jalanan dan feeds media sosial.
Namun, Y2K kali ini tidak hadir sebagai replika, melainkan bentuk nostalgia yang ironis anak muda mengenakannya sambil menyadari absurditas estetika masa lalu.
Influencer fashion seperti Tasya Farasya atau Rachel Theresia mulai menghadirkan konten gaya Y2K dengan narasi penuh humor dan refleksi. Ini menciptakan ruang baru: berpakaian dengan sadar, namun tetap bersenang-senang.
Fashion Cerminan Zaman
Tren fashion 2026 bukan sekadar perubahan selera visual, tetapi juga perubahan nilai. Dari quiet luxury yang menolak pamer, hingga genderless design yang menantang norma, industri fashion bergerak mengikuti kesadaran sosial yang berkembang.
Fashion kini bukan hanya cermin pribadi, tapi juga cermin zaman. Dan di tengah dunia yang makin sadar, cepat, dan kompleks, mereka yang mampu beradaptasi dengan makna di balik mode akan menjadi pelopor dalam industri ini.
