Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Syarat Tak Bisa Dicuci Kekuasaan

Jika Gibran Didiskualifikasi, Siapa Pengganti Wapres?

SPPG De La Tina Ciamis Terapkan Inovasi Pengelolaan Limbah Dapur MBG

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Minggu, 4 Oktober 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Self Healing, Tren atau Pelarian?

Saat semua diklaim sebagai self healing, batas antara pemulihan jiwa dan pelarian diri makin kabur.
Alfi SalamahAlfi Salamah22 Januari 2026 Happy
Tren Self Healing
Ilustrasi Self Healing
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Istilah “self-healing” menjamur di mana-mana. Dari postingan Instagram di kafe estetik, video staycation di hotel mewah, hingga konten traveling di TikTok semuanya menyebut aktivitas itu sebagai bentuk self-healing. Istilah ini seolah jadi pembenaran atas segala bentuk “me time”, seberapapun mahal atau impulsifnya.

Namun, apakah semua itu benar-benar bentuk pemulihan? Atau justru pelarian yang dibungkus secara estetik dan sosial media-friendly?

Self-healing seharusnya lahir dari kebutuhan mental yang nyata. Tapi kini, ia mulai bergeser menjadi tren konsumtif yang sering kali menyesatkan makna aslinya.

Self Healing yang Asli itu Sunyi, Tidak Glamor

Dalam psikologi, self-healing merujuk pada proses pemulihan diri dari luka emosional, trauma, atau kelelahan mental melalui refleksi, pengolahan emosi, dan aktivitas yang mendukung kesehatan jiwa. Itu bisa berupa:

  • Journaling
  • Meditasi
  • Konseling psikolog
  • Istirahat total dari stimulasi digital
  • Membangun kembali relasi yang sehat

Aktivitas ini tidak selalu indah di kamera, bahkan seringkali sunyi, menyakitkan, dan penuh proses internal. Tapi justru itu esensinya.

Bergesernya Makna di Media Sosial

Kini, istilah self-healing dipakai secara longgar. Nongkrong di kafe fancy, belanja impulsif, menghilang dari kerja tanpa pemberitahuan, hingga jalan-jalan ke Bali semua dilabeli “healing”.

Baca Juga:
  • Anak dan Sepak Bola: Jembatan Simbolik di Piala AFF 2024
  • Daftar Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2025
  • Menjaga Batasan: Hakmu untuk Hidup Lebih Bahagia
  • Dating Tanpa Alkohol, Tren Baru Generasi Muda

Padahal, itu bisa jadi mekanisme pelarian, bukan penyembuhan. Fenomena ini menggambarkan bagaimana media sosial memelintir istilah psikologis menjadi komoditas gaya hidup.

Lebih ironis lagi, banyak konten promosi menggunakan kata “healing” untuk menjual produk: skincare, tiket pesawat, resort, hingga kopi kemasan.

Akibatnya, publik terutama Gen Z bisa salah kaprah, mengira healing adalah konsumsi, bukan refleksi.

Risiko Psikologis dan Ekspektasi Palsu

Masalahnya bukan sekadar istilah, tapi dampaknya. Ketika seseorang mencoba healing “ala konten” dan tidak merasakan dampak positif, mereka bisa merasa gagal atau semakin terpuruk.

Menurut psikolog klinis Adinda K., healing yang tidak otentik justru bisa memperparah kondisi psikologis, karena memperkuat ilusi bahwa kebahagiaan itu harus visual dan instan.

Artikel Terkait:
  • Job Fair SMK Daarul Abroor Siap Digelar, Dibuka Ust. Hudaifah Aslam Mubarak
  • D’MASIV Menuju Panggung Dunia dari Ciledug ke Los Angeles
  • Siswa SMA di Kebumen Patungan untuk Teman
  • Thrifting: Gaya Stylish yang Ramah Lingkungan

Di sisi lain, mereka yang benar-benar butuh dukungan mental justru terpinggirkan oleh tren yang membuat self-healing jadi sekadar gaya hidup elit.

Komersialisasi Kesehatan Mental

Self-healing kini bukan cuma istilah, tapi industri. Banyak bisnis berlomba menawarkan “produk penyembuhan” dari yoga retreat berbiaya jutaan hingga essential oil eksklusif yang katanya bisa menyembuhkan trauma.

Padahal, penyembuhan mental tidak bisa dibeli. Prosesnya personal, panjang, dan kadang tidak terlihat hasilnya dalam waktu singkat. Ketika healing dipasarkan layaknya fast food, nilai dan substansinya hilang.

Saatnya Kita Lebih Reflektif

Kita perlu membedakan antara “refreshing” dan “healing”. Tidak semua liburan itu penyembuhan. Tidak semua diam itu refleksi. Dan tidak semua belanja itu terapi.

Mungkin kita semua butuh rehat. Tapi menyebut semua aktivitas itu sebagai self-healing bisa membuat kita tertipu oleh ilusi bahwa kita sudah pulih, padahal belum.

Jangan Lewatkan:
  • Kunci Hidup Tenang: Belajar Bertanggung Jawab pada Diri Sendiri
  • Sawer Meriah di Kampung Citepus
  • Paspor Abadi Sang Firaun: Pelajaran Kepemimpinan yang Tak Pernah Mati
  • 6 Alasan Mengapa Suami Harus Memeluk Istri Setiap Hari

Self-healing adalah proses personal yang kompleks, bukan label gaya hidup. Di tengah gelombang komersialisasi dan estetisasi, penting bagi kita untuk mengembalikan makna healing pada intinya, pemulihan mental yang jujur dan otentik. Karena ternyata, tidak semua yang kita sebut “healing” benar-benar menyembuhkan.

Gen Z Milenial Healing atau Pelarian Kesehatan Mental Self Healing Tren Psikologi 2026
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleKak Mashuri Pimpin Kwartir Ranting Tellu Siattinge 2026-2029
Next Article AI Bantu Guru, Tapi Hambat Murid?

Informasi lainnya

Generasi Strawberry: Saat Gen Z Dinilai Rentan Tekanan

25 September 2026

Dating Tanpa Alkohol, Tren Baru Generasi Muda

25 Agustus 2026

Mengapa Cokelat Bisa Naikkan Mood?

4 Juni 2026

Fokus Berlebih yang Tak Disadari

4 Juni 2026

Mengapa Banyak Pikiran Bikin Lapar?

3 Juni 2026

5 Cara Atasi Overthinking

13 Februari 2026
Paling Sering Dibaca

Nasaruddin Umar di Puncak Kepuasan Publik

Editorial Udex Mundzir

Pimpinan Viral, Yang Menderita Rakyatnya.

Editorial Udex Mundzir

Evaluasi Smart City Kabupaten Sidoarjo, Sekda Minta Kolaborasi Hexahelix

Techno Silva

Lupa Takbir Shalat Id, Sahkah Ibadahnya?

Islami Lisda Lisdiawati

Koruptor Dimanja, Rakyat Dihukum Pajak

Perspektif Udex Mundzir
Berita Lainnya
Saintek
Ericka28 April 2025

Rahasia Daisugi, Teknik Bertani Pohon Tanpa Membabat Hutan

Hukum Barang Temuan dalam Islam

Modus Janji Cinta Diancam Penjara dalam KUHP Baru

PANDI Perketat Aturan Sengketa Domain untuk Cegah Cybersquatting

Jika Gibran Didiskualifikasi, Siapa Pengganti Wapres?

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Perlengkapan Pramuka Lengkap Produk Dapur Terlaris Produk Dapur Terlaris
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi