Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Politisi dan Nafsu Menguasai Institusi

Aphrodisias: Kota Dewi Cinta yang Abadi

Ma Eroh, Perempuan Bertangan Batu

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Senin, 2 Februari 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Self Healing, Tren atau Pelarian?

Saat semua diklaim sebagai self healing, batas antara pemulihan jiwa dan pelarian diri makin kabur.
Alfi SalamahAlfi Salamah22 Januari 2026 Happy
Tren Self Healing
Ilustrasi Self Healing
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Istilah “self-healing” menjamur di mana-mana. Dari postingan Instagram di kafe estetik, video staycation di hotel mewah, hingga konten traveling di TikTok semuanya menyebut aktivitas itu sebagai bentuk self-healing. Istilah ini seolah jadi pembenaran atas segala bentuk “me time”, seberapapun mahal atau impulsifnya.

Namun, apakah semua itu benar-benar bentuk pemulihan? Atau justru pelarian yang dibungkus secara estetik dan sosial media-friendly?

Self-healing seharusnya lahir dari kebutuhan mental yang nyata. Tapi kini, ia mulai bergeser menjadi tren konsumtif yang sering kali menyesatkan makna aslinya.

Self Healing yang Asli itu Sunyi, Tidak Glamor

Dalam psikologi, self-healing merujuk pada proses pemulihan diri dari luka emosional, trauma, atau kelelahan mental melalui refleksi, pengolahan emosi, dan aktivitas yang mendukung kesehatan jiwa. Itu bisa berupa:

  • Journaling
  • Meditasi
  • Konseling psikolog
  • Istirahat total dari stimulasi digital
  • Membangun kembali relasi yang sehat

Aktivitas ini tidak selalu indah di kamera, bahkan seringkali sunyi, menyakitkan, dan penuh proses internal. Tapi justru itu esensinya.

Bergesernya Makna di Media Sosial

Kini, istilah self-healing dipakai secara longgar. Nongkrong di kafe fancy, belanja impulsif, menghilang dari kerja tanpa pemberitahuan, hingga jalan-jalan ke Bali semua dilabeli “healing”.

Padahal, itu bisa jadi mekanisme pelarian, bukan penyembuhan. Fenomena ini menggambarkan bagaimana media sosial memelintir istilah psikologis menjadi komoditas gaya hidup.

Lebih ironis lagi, banyak konten promosi menggunakan kata “healing” untuk menjual produk: skincare, tiket pesawat, resort, hingga kopi kemasan.

Akibatnya, publik terutama Gen Z bisa salah kaprah, mengira healing adalah konsumsi, bukan refleksi.

Risiko Psikologis dan Ekspektasi Palsu

Masalahnya bukan sekadar istilah, tapi dampaknya. Ketika seseorang mencoba healing “ala konten” dan tidak merasakan dampak positif, mereka bisa merasa gagal atau semakin terpuruk.

Menurut psikolog klinis Adinda K., healing yang tidak otentik justru bisa memperparah kondisi psikologis, karena memperkuat ilusi bahwa kebahagiaan itu harus visual dan instan.

Di sisi lain, mereka yang benar-benar butuh dukungan mental justru terpinggirkan oleh tren yang membuat self-healing jadi sekadar gaya hidup elit.

Komersialisasi Kesehatan Mental

Self-healing kini bukan cuma istilah, tapi industri. Banyak bisnis berlomba menawarkan “produk penyembuhan” dari yoga retreat berbiaya jutaan hingga essential oil eksklusif yang katanya bisa menyembuhkan trauma.

Padahal, penyembuhan mental tidak bisa dibeli. Prosesnya personal, panjang, dan kadang tidak terlihat hasilnya dalam waktu singkat. Ketika healing dipasarkan layaknya fast food, nilai dan substansinya hilang.

Saatnya Kita Lebih Reflektif

Kita perlu membedakan antara “refreshing” dan “healing”. Tidak semua liburan itu penyembuhan. Tidak semua diam itu refleksi. Dan tidak semua belanja itu terapi.

Mungkin kita semua butuh rehat. Tapi menyebut semua aktivitas itu sebagai self-healing bisa membuat kita tertipu oleh ilusi bahwa kita sudah pulih, padahal belum.

Self-healing adalah proses personal yang kompleks, bukan label gaya hidup. Di tengah gelombang komersialisasi dan estetisasi, penting bagi kita untuk mengembalikan makna healing pada intinya, pemulihan mental yang jujur dan otentik. Karena ternyata, tidak semua yang kita sebut “healing” benar-benar menyembuhkan.

Gen Z Milenial Healing atau Pelarian Kesehatan Mental Self Healing Tren Psikologi 2026
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleKak Mashuri Pimpin Kwartir Ranting Tellu Siattinge 2026-2029
Next Article AI Bantu Guru, Tapi Hambat Murid?

Informasi lainnya

Gen Z dan Tantangan Tanpa Ponsel

20 Januari 2026

Paspor Abadi Sang Firaun: Pelajaran Kepemimpinan yang Tak Pernah Mati

11 Januari 2026

Tangisan Bakar Kalori: Fakta Ilmiah di Balik Air Mata

15 November 2025

Soft Living: Hidup lebih pelan, bahagia lebih lama

29 Oktober 2025

Thrifting: Gaya Stylish yang Ramah Lingkungan

29 Oktober 2025

Kenali 6 Tipe Toxic Person agar Kesehatan Mentalmu Terjaga

7 Agustus 2025
Paling Sering Dibaca

Mindset Penghambat Investasi

Editorial Udex Mundzir

Kerja Seru di Luar Rumah, Bukan Sekadar Gaya

Happy Alfi Salamah

Waspadai, Purbaya Anak Buah Luhut

Editorial Udex Mundzir

Kunci Hidup Tenang: Belajar Bertanggung Jawab pada Diri Sendiri

Happy Assyifa

Lumbung Korupsi dalam Demokrasi yang Terganjal

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Pendidikan
Lisda Lisdiawati28 Januari 2026

Workshop Transformasi Tugas Akhir menjadi Artikel Ilmiah di Politeknik Triguna

Susu Dingin atau Hangat, Mana yang Lebih Baik untuk Tubuh?

Workshop Visi SMPN 1 Cisayong Tekankan Karakter Murid

Eka Cahya Prima Jadi Profesor Fisika Termuda di UPI

Harga Tandan Buah Segar Sawit di Kaltim Turun Rp2.099,15 per Kilogram

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.