Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Politisi dan Nafsu Menguasai Institusi

Aphrodisias: Kota Dewi Cinta yang Abadi

Ma Eroh, Perempuan Bertangan Batu

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Senin, 2 Februari 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Tan Malaka: Pejuang Tanpa Mahkota

Seorang intelektual revolusioner yang berjuang bukan demi tahta, melainkan demi kemerdekaan sejati yang tak tergoyahkan oleh waktu.
Alfi SalamahAlfi Salamah27 Januari 2026 Profil 2K Views
Tan Malaka, pahlawan Indonesia yang jarang diketahui
Tan Malaka, pahlawan Indonesia yang jarang diketahui (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Tokoh berlapis ini sering disebut “pejuang paling cemerlang yang kurang diapresiasi” dalam sejarah Indonesia. Tan Malaka bukan sekadar pejuang pada masa kolonial; ia adalah pemikir radikal, penulis revolusioner, dan sosok yang pikirannya sering berada jauh di depan zamannya. Namanya mungkin tidak sepopuler tokoh-tokoh lain dalam narasi kemerdekaan nasional, tetapi jejak pemikirannya terus hidup dalam diskursus politik dan sosial di Indonesia.

Tan Malaka lahir pada 1897 di tanah Minangkabau, Sumatera Barat, sebuah lingkungan yang sejak lama dikenal sebagai tempat lahirnya kaum intelektual dan perlawanan terhadap kolonialisme. Sejak muda, ia sudah menunjukkan kecerdasan di atas rata‑rata. Pendidikan formalnya membawa dia jauh dari kampung halaman; pengalaman ini membuka cakrawala pemikirannya dan membentuk pandangan politiknya yang progresif.

Ketertarikannya pada gagasan perubahan sosial membawanya kepada akar perjuangan kelas dan Marxisme. Ia kemudian aktif dalam pergerakan internasional dan terlibat dalam jaringan Partai Komunis di berbagai negara. Aktivitas politiknya membuatnya menjadi buronan di banyak penjuru; nama Tan Malaka tercatat dalam daftar orang‑orang yang paling dicari oleh aparat kolonial Belanda. Namun justru dalam pelarian itulah gagasan‑gagasannya berkembang pesat, dan karya‑karyanya lahir satu demi satu.

Salah satu karya paling berpengaruh yang ia tulis adalah Madilog singkatan dari Materialisme, Dialektika, dan Logika — yang memperlihatkan kedalaman pemikirannya. Dalam Madilog, Tan Malaka menyajikan kritik tajam terhadap cara berpikir tradisional dan menawarkan pendekatan yang rasional, dialektis, dan ilmiah sebagai landasan perjuangan sosial politik. Bagi dia, revolusi bukan hanya soal perubahan sistem politik, tetapi juga tentang cara berpikir masyarakat.

Di tengah perjalanannya, Tan Malaka juga kembali ke tanah air untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Ia sempat bergabung dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), namun kemudian berselisih dengan pimpinan partai tersebut karena perbedaan strategi dan pandangan. Sikap kritisnya terhadap otoritarianisme di dalam pergerakan sendiri membuat hubungan dengan berbagai kelompok perjuangan tidak selalu mulus.

Pada suatu masa, ia mendirikan Partai Murba, sebuah organisasi politik yang mengambil garis perjuangan berbeda dari PKI. Partai ini menekankan pentingnya nasionalisme revolusioner dan independensi dalam menentukan arah perjuangan bangsa. Tan Malaka percaya bahwa kemerdekaan Indonesia tidak boleh sekadar menggantikan penguasa kolonial dengan kekuatan lain yang justru mengekang rakyat.

Kontribusi Tan Malaka terhadap perjuangan kemerdekaan seringkali tidak tertulis dalam catatan sejarah resmi. Ia lebih banyak dikenang melalui catatan pribadi, tulisan‑tulisannya, dan sebagian kecil dokumen perjuangan yang tersebar. Namun, gagasan dan keberanian intelektualnya memberi warna tersendiri dalam pergerakan nasional.

Perjuangan Tan Malaka mencapai puncaknya ketika ia kembali aktif di masa revolusi fisik setelah proklamasi kemerdekaan 1945. Di tengah gejolak antara tentara Republik, pasukan sekutu, dan berbagai kelompok bersenjata lainnya, Tan Malaka terus bergerak, berusaha menggalang dukungan rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan yang baru diproklamasikan.

Sayangnya, kisah perjuangan Tan Malaka berakhir tragis. Pada tahun 1949, di wilayah Kediri, Jawa Timur, ia ditangkap dan dieksekusi tanpa proses peradilan yang adil oleh pasukan Republik sendiri. Alasannya tetap menjadi perdebatan sejarah hingga hari ini; beberapa sumber menyebutkan bahwa kecurigaan politik dan persaingan internal menjadi pemicu utama keputusan kelam tersebut. Selama puluhan tahun, keberadaan jasadnya menjadi misteri sejarah. Baru beberapa dekade kemudian, peti yang diyakini sebagai miliknya ditemukan dan diidentifikasi oleh sejarawan. Penemuan itu menutup salah satu bab misteri dalam kisah hidupnya, tetapi sekaligus membuka ruang bagi generasi baru untuk menelaah kembali perannya.

Perjalanan hidup Tan Malaka menunjukkan betapa beratnya jalan seorang pemikir revolusioner. Ia bukanlah tokoh yang mencari popularitas atau pengakuan instan. Ia bersedia berbeda pendapat bahkan dengan sekutu‑sekutunya demi menjaga prinsip perjuangan yang menurutnya benar. Dalam konteks ini, ia sering dikritik sebagai sosok yang keras, tegas, dan tidak kompromi. Namun justru dari ketegasan itu lahir konsep perjuangan yang berakar pada kesadaran kelas dan intelektual.

Selain Madilog, Tan Malaka juga menulis Dekonstruksi Kolonialisme, Menuju Republik Indonesia, serta puluhan tulisan yang tersebar dalam berbagai surat kabar masa itu. Semua karya ini memperlihatkan kepiawaiannya dalam merangkai pemikiran yang tidak hanya kritis terhadap kolonialisme, tetapi juga terhadap struktur kekuasaan secara umum.

Pemikiran Tan Malaka tentang kebangsaan tidak semata‑mata soal identitas etnik atau budaya semata. Baginya, kebangsaan adalah perjuangan kolektif untuk mencapai kemerdekaan yang sejati kemerdekaan dari semua bentuk penindasan, baik yang berasal dari luar maupun dari dalam. Ia menolak keras segala bentuk hegemoni politik yang justru mencederai cita‑cita rakyat tertindas.

Makna perjuangan Tan Malaka sejatinya relevan hingga kini. Di tengah dinamika politik modern Indonesia yang sering kali diwarnai oleh polarisasi, ketidakadilan struktural, dan dominasi elite. Gagasan Tan Malaka tentang emansipasi sosial dan politik yang berpijak pada rasionalitas layak menjadi bahan renungan bersama. Ia mengingatkan bahwa kemerdekaan sejati bukan hanya soal bebas dari penjajahan. Tetapi juga soal memerdekakan cara berpikir bangsa itu sendiri agar tidak mudah terjebak dalam kebodohan struktural, ketidakadilan, dan dominasi sekadar simbol.

Generasi muda Indonesia dapat belajar banyak dari sosok ini. Tan Malaka bukanlah pahlawan yang berdamping dengan bendera nasional di tugu peringatan. Ia bukan figur yang selalu dipuji di buku pelajaran sekolah. Namun, komitmennya terhadap prinsip dan kejujuran intelektual memperlihatkan bahwa keberanian berpikir sering kali merupakan bentuk perjuangan paling radikal.

Dalam konteks sejarah Indonesia, kita bisa melihat bahwa perjuangan tidak hanya berlangsung di medan pertempuran atau dalam sidang diplomasi internasional. Perjuangan gagasan memiliki peran yang sama pentingnya dalam membentuk identitas bangsa. Tan Malaka mengajarkan bahwa setiap gagasan yang lahir dari observasi kritis, analisis tajam, serta dedikasi terhadap kesejahteraan rakyat berpotensi menjadi landasan perubahan sosial yang besar.

Menjadi penting pula untuk melihat kembali bagaimana sejarah mencatat dan mengapresiasi pejuang‑pejuang bangsa. Dominasi narasi tertentu sering membuat kita lupa bahwa bangsa ini juga diperjuangkan oleh mereka yang berpikir berbeda. Yang menolak kemapanan gagasan kolonial, dan yang berusaha menggagas arah perjuangan yang lebih radikal.

Pada akhirnya, mengenang Tan Malaka berarti menghargai pluralitas cara kita memahami sejarah. Bukan hanya sekadar mengenang perjuangan fisik, tetapi juga menghargai perjuangan intelektual yang selama ini kurang mendapat tempat. Ia adalah cermin bahwa demokrasi dan kemerdekaan yang sejati tidak pernah hadir begitu saja melainkan melalui perdebatan, pengorbanan, dan perjuangan tanpa pamrih.

Kemerdekaan Indonesia Pemikir Revolusioner Profil Tokoh Sejarah Indonesia Tan Malaka
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleGaduh Ijazah dan Politik Adu Domba
Next Article Kastil Neuschwanstein, Dongeng Itu Nyata

Informasi lainnya

Ma Eroh, Perempuan Bertangan Batu

31 Januari 2026

Malahayati, Laksamana Laut Perempuan

30 Januari 2026

Göbekli Tepe: Terungkapnya Misteri Peradaban Tertua

29 Januari 2026

Mas Isman, Komandan Rakyat Muda

29 Januari 2026

S.K. Trimurti: Suara Perempuan Merdeka

28 Januari 2026

Dari Sel Penjara ke Ruang Sidang

24 Januari 2026
Paling Sering Dibaca

Benturan Kekuasaan dan Kemanusiaan

Editorial Assyifa

Bahlil Memang Tidak Punya Urat Malu

Editorial Udex Mundzir

Inilah Tips Menjaga Kesehatan Saat Puasa

Islami Alfi Salamah

Tips Belajar Efektif untuk Anak-anak

Daily Tips Alfi Salamah

Peraturan Penggunaan Media Sosial untuk Anak di Indonesia

Techno Ericka
Berita Lainnya
Pendidikan
Lisda Lisdiawati28 Januari 2026

Workshop Transformasi Tugas Akhir menjadi Artikel Ilmiah di Politeknik Triguna

Susu Dingin atau Hangat, Mana yang Lebih Baik untuk Tubuh?

Workshop Visi SMPN 1 Cisayong Tekankan Karakter Murid

Eka Cahya Prima Jadi Profesor Fisika Termuda di UPI

Harga Tandan Buah Segar Sawit di Kaltim Turun Rp2.099,15 per Kilogram

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.