Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Generasi Muda dan Pertaruhan Masa Depan Cianjur

Jangan Lewatkan! Fenomena Matahari Tepat di Atas Ka’bah

Penembak Gedung Putih Pernah Ancam Trump

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Sabtu, 30 Mei 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Ma Eroh, Perempuan Bertangan Batu

Disaat orang memilih mengeluh, ia memilih menggali bukit dengan tangan sendiri demi hidup orang banyak.
Alfi SalamahAlfi Salamah31 Januari 2026 Profil
Jejak Kepahlawanan Ma Eroh, Belah Gunung untuk Alirkan Air Menuju Desa
Jejak Kepahlawanan Ma Eroh, Belah Gunung untuk Alirkan Air Menuju Desa (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Di lereng Gunung Galunggung, sebuah kisah perjuangan luar biasa lahir dari tangan seorang perempuan desa. Namanya Ma Eroh, atau akrab dipanggil Mak Eroh oleh warga. Ia bukan pejabat, bukan insinyur, bukan tokoh politik.

Ia hanyalah seorang petani biasa dari Kampung Pasirkadu, Desa Santanamekar, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Namun tindakannya membuatnya layak disebut pahlawan bukan karena retorika, tapi karena kerja kerasnya menggali bukit demi mengalirkan air untuk rakyat.

Terlahir dalam Kehidupan Sederhana

Ma Eroh lahir sekitar tahun 1934 di lereng gunung yang sunyi, tempat kehidupan bergantung pada sawah dan hujan. Sejak muda ia telah akrab dengan kerja fisik: mencangkul, menanam, memanen. Di desa kecilnya, sumber air adalah segalanya. Namun kehidupan berubah drastis saat Gunung Galunggung meletus pada 1982.

Letusan tersebut menghancurkan irigasi dan menutup jalur air yang selama ini menghidupi sawah dan kebun warga. Kekeringan melanda. Ladang-ladang mengering, hasil panen gagal. Sementara banyak orang mengeluh dan menunggu bantuan, Ma Eroh memilih langkah berbeda: ia ingin mengalirkan kembali air dari hulu dengan tangannya sendiri.

Menggali Bukit Sendirian

Di usia hampir 50 tahun, Ma Eroh memikul linggis, cangkul, dan tali rotan. Dengan alat seadanya, ia mulai menggali bukit cadas yang menjadi penghalang aliran air. Di tengah hutan rimbun, tanpa bantuan siapa pun, ia mulai membuka jalur yang kemudian menjadi saluran air sepanjang 4,5 hingga 6 kilometer.

Ia bekerja tanpa rencana besar, tanpa peta teknik, tanpa gaji. Setiap hari ia menembus semak, memotong akar pohon, dan memecah batu. Banyak warga awalnya menganggapnya “gila” bagaimana mungkin seorang perempuan bisa mengerjakan proyek sebesar itu seorang diri?

Namun Ma Eroh tidak tergoyahkan oleh celaan. Ia terus menggali, dan kerja kerasnya mulai menarik perhatian warga. Perlahan, satu per satu warga mulai ikut membantunya. Dalam waktu 2,5 tahun, saluran air itu akhirnya selesai dan mampu mengairi sawah di tiga desa.

Baca Juga:
  • AHY Raih Wisudawan Terbaik Unair dengan IPK 3.94
  • Mochtar Kusumaatmadja, Arsitek Laut Nusantara
  • dr. Dara Ayu: Dari Madrasah Aliyah ke Fakultas Kedokteran
  • Dari Sel Penjara ke Ruang Sidang

Air untuk Rakyat, Bukan untuk Nama

Yang paling istimewa dari perjuangan Ma Eroh adalah tujuannya. Ia tidak mencari pujian, tidak mengejar penghargaan. Ia hanya ingin air mengalir kembali ke sawah-sawah yang kering, agar warga bisa menanam kembali padi dan bertahan hidup.

Saluran yang ia buka bukan hanya mengairi kampungnya sendiri, tapi juga dua desa tetangga.
Ia juga tidak pernah meminta bayaran. Ketika warga bertanya apa imbalan yang ia inginkan, Ma Eroh hanya menjawab, “Yang penting sawah bisa ditanami. Kalau panen bagus, kita bisa makan.”

Perjuangannya menjadi simbol nyata bahwa kepahlawanan tidak selalu hadir dari panggung politik atau senjata perang. Kadang, kepahlawanan hadir dalam bentuk perempuan desa yang menggali bukit agar anak-anak di kampungnya bisa makan nasi.

Penghargaan Datang, Tapi Terlambat

Atas jasanya, Ma Eroh menerima Kalpataru, penghargaan tertinggi bidang lingkungan hidup, dari Presiden Soeharto pada tahun 1988. Setahun kemudian, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga memberikan penghargaan lingkungan hidup kepadanya.

Namun dalam kenyataannya, penghargaan itu tidak pernah menyentuh hidupnya secara langsung. Piala Kalpataru bahkan tidak disimpan oleh keluarga, melainkan oleh Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya. Ia tetap hidup sederhana hingga akhir hayatnya. Rumahnya terbuat dari bilik bambu, dan ia meninggal dunia pada 18 Oktober 2004 dalam usia sekitar 70 tahun.

Penghargaan datang, tapi kehidupan Ma Eroh tidak pernah berubah. Ia tetap hidup seperti rakyat yang ia perjuangkan. Barangkali inilah bentuk ketulusan sejati: berbuat tanpa pamrih.

Artikel Terkait:
  • Adam D’Angelo: Pendiri Quora dan Mantan CTO Facebook
  • Nusaibah binti Ka’ab, Ikon Keberanian
  • Göbekli Tepe: Terungkapnya Misteri Peradaban Tertua
  • Evis Santika: Wajah Baru di Kwarran Pramuka Cisayong

Warisan yang Terlupakan?

Kini, dua dekade sejak kepergiannya, nama Ma Eroh mulai terdengar samar. Tugu peringatan memang telah didirikan di Alun-Alun Tasikmalaya, tapi semangat perjuangannya belum sepenuhnya diwarisi. Banyak anak muda bahkan tidak mengenalnya. Saluran air yang ia gali kini masih digunakan, tapi tidak semua tahu siapa penggalinya.

Beberapa pihak menganggap pemerintah setempat belum cukup serius mengangkat warisan perjuangan Ma Eroh. Tidak ada buku biografi resmi, tidak ada film dokumenter besar, bahkan tidak ada kurikulum sekolah yang mengisahkan perjuangan lokal seperti milik Ma Eroh.

Padahal, di tengah tantangan perubahan iklim dan degradasi lingkungan saat ini, kisah Ma Eroh bisa menjadi inspirasi nasional tentang ketahanan, kerja nyata, dan kepemimpinan lokal yang lahir dari kebutuhan, bukan pencitraan.

Keteladanan untuk Masa Kini

Ma Eroh adalah simbol ketangguhan perempuan desa. Ia menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari satu orang dengan alat sederhana dan niat yang kuat. Ia tidak menunggu program pemerintah, tidak menuntut proyek besar. Ia bertindak dan tindakannya membawa air ke ribuan petak sawah.

Di masa kini, ketika pembangunan kerap dibingkai oleh angka dan laporan, Ma Eroh mengajarkan bahwa membangun tidak selalu membutuhkan dana besar. Yang dibutuhkan hanyalah kemauan untuk bergerak, dan keyakinan bahwa satu orang bisa membuat perbedaan.

Jangan Lewatkan:
  • Tan Malaka: Pejuang Tanpa Mahkota
  • Generasi Tua dan Muda Berkolaborasi untuk Indonesia Emas 2045
  • Daniel Kahneman: Akhir Tragis Seorang Peraih Nobel
  • Dalam Diam, Tumbuh Arah

Perjuangan Ma Eroh adalah narasi alternatif dari pembangunan: narasi tentang gotong royong, keteguhan hati, dan cinta tanah. Kisahnya layak dikenang, diajarkan, dan dijadikan teladan.

Kalpataru Lingkungan Hidup Pahlawan Lokal Perempuan Tangguh Tasikmalaya
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleMahmud Marhaba: Penetapan Tersangka Wartawan Babel Langgar UU Pers
Next Article Aphrodisias: Kota Dewi Cinta yang Abadi

Informasi lainnya

Izzuddin Al-Qassam, Ulama yang Menggerakkan Perlawanan

27 April 2026

Ikan Sapu-Sapu dan Krisis Sunyi

23 April 2026

Tidur Nanti Saja

21 April 2026

Dalam Diam, Tumbuh Arah

21 April 2026

Jejak Muda, Prestasi Nyata

21 April 2026

Dari Dapur ke Ruang Strategis

21 April 2026
Paling Sering Dibaca

Bersihkan Warisan Kabinet Jokowi

Editorial Udex Mundzir

Makanan Indonesia Memukau Arab Saudi dengan Bakso dan Rendang

Islami Alfi Salamah

Lindungi Uangmu, Cerdas Finansial dengan PeKA

Daily Tips Ericka

Angin Segar bagi Narapidana

Editorial Udex Mundzir

PLTU Gunakan Integrated Security Solutions untuk Cegah Sabotase

Techno Ericka
Berita Lainnya
Info Haji
Alfi Salamah1 Juli 2023

Perspektif Ulama Mengenai Waktu Tawaf Ifadah

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

Modus Penipuan Catut Nama Bank Marak, Waspadai Taktik Baru

Pemerintah Tetapkan Lebaran 2026 Jatuh 21 Maret

Hukum Barang Temuan dalam Islam

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Alat Tulis Sekolah Murah Buku Anak Islami Murah Perlengkapan Pramuka Lengkap
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi