Jejak waktu sering hadir dalam percakapan sehari-hari. Kita mengenal kata kemarin, hari ini, besok, dan lusa. Namun, bahasa Indonesia ternyata memiliki kosakata yang lebih beragam untuk menyebut rentang hari sebelum maupun sesudah hari ini. Sayangnya, sebagian besar istilah tersebut kini jarang digunakan sehingga tidak banyak dikenal oleh generasi muda.
Fenomena ini menarik perhatian para pencinta bahasa. Di tengah derasnya penggunaan istilah modern dan bahasa asing, sejumlah kosakata lama Indonesia perlahan terlupakan. Padahal, kata-kata tersebut menunjukkan kekayaan bahasa yang mampu menjelaskan waktu secara lebih rinci tanpa harus menyebut jumlah hari secara berulang.
Salah satu kosakata yang cukup dikenal adalah kemarin, yang berarti satu hari sebelum hari ini. Dua hari sebelum hari ini disebut selumbari, sedangkan tiga hari sebelumnya dikenal dengan istilah kilamulai. Di sisi lain, bahasa Indonesia juga memiliki istilah khusus untuk hari-hari yang akan datang.
Untuk waktu setelah hari ini, satu hari berikutnya disebut besok. Dua hari berikutnya disebut lusa. Tiga hari setelah hari ini dikenal sebagai tulat atau langkat. Empat hari setelah hari ini disebut tubin atau tunggi, sedangkan lima hari setelah hari ini disebut jakelong.
Selain itu, terdapat istilah yang menggambarkan rentang waktu yang lebih umum. Senantu digunakan untuk menyebut beberapa hari yang lalu. Sementara itu, embutin digunakan untuk menyebut beberapa hari yang akan datang. Kehadiran kata-kata ini menunjukkan bahwa bahasa Indonesia memiliki cara yang unik dalam menggambarkan perjalanan waktu.
“Jika hari ini Selasa, maka tulat adalah Jumat.”
Contoh tersebut membantu memahami penggunaan kosakata secara praktis. Bila hari ini Selasa, maka besok adalah Rabu, lusa adalah Kamis, dan tulat atau langkat jatuh pada Jumat. Setelah itu, tubin atau tunggi menjadi Sabtu, sedangkan jakelong menjadi Minggu.
Penggunaan istilah-istilah tersebut sebenarnya dapat membuat komunikasi menjadi lebih singkat dan menarik. Alih-alih mengatakan “tiga hari lagi”, seseorang dapat menggunakan kata tulat. Begitu pula saat menyebut “empat hari lagi”, istilah tubin atau tunggi bisa menjadi alternatif yang lebih ringkas.
Di era digital, mengenalkan kembali kosakata seperti ini memiliki nilai penting. Selain menambah wawasan kebahasaan, penggunaan kata-kata tersebut juga membantu menjaga warisan bahasa Indonesia agar tidak hilang ditelan waktu. Semakin sering digunakan, semakin besar peluang istilah-istilah tersebut tetap hidup dalam percakapan masyarakat.
Bahasa bukan hanya alat komunikasi. Bahasa juga menjadi cermin budaya dan sejarah. Mengenal kata seperti kilamulai, selumbari, tulat, hingga jakelong dapat memperkaya perbendaharaan kata sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap bahasa Indonesia.
Pada akhirnya, mempelajari kosakata lama tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga membuka pemahaman bahwa bahasa Indonesia memiliki kekayaan yang luar biasa. Dari masa lalu hingga masa depan, setiap rentang waktu ternyata memiliki namanya sendiri.
