Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Mengenal Suku Kajang, Penjaga Hutan Adat Bulukumba

Emas Antam Naik Rp46 Ribu, Tembus Rp2,71 Juta

100 Mahasiswa UBB Dapat Beasiswa Kelapa 2026

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Sabtu, 5 September 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Mengenal Suku Kajang, Penjaga Hutan Adat Bulukumba

Kesederhanaan mengajarkan bahwa menjaga alam berarti menjaga kehidupan kita sendiri.
Alfi SalamahAlfi Salamah5 September 2026 Travel
Masyarakat adat Ammatoa Kajang
Mengenal Suku Kajang di Bulukumba, masyarakat adat yang menjaga hutan
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Hitam yang sederhana menjadi pemandangan khas saat memasuki kawasan adat Ammatoa Kajang. Masyarakatnya tinggal di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Pakaian hitam menjadi identitas yang mudah dikenali. Namun, kehidupan mereka menyimpan cerita lebih dalam. Kesederhanaan menjadi prinsip yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Masyarakat Ammatoa Kajang memiliki hubungan kuat dengan hutan di sekitar permukiman mereka. Hutan bukan sekadar kumpulan pepohonan. Kawasan itu dipandang sebagai bagian penting kehidupan masyarakat. Data pemerintah mencatat Hutan Adat Ammatoa Kajang seluas 313,99 hektare. Status hutan adat tersebut tercatat sejak 2016.

Kawasan itu meliputi beberapa desa di Kecamatan Kajang. Di antaranya Tana Towa, Pattiroang, Bonto Baji, dan Malleleng. Keberadaan hutan tetap terjaga berkat aturan adat yang diwariskan turun-temurun.

Masyarakat Kajang mengenal pedoman kehidupan bernama Pasang ri Kajang. Pesan leluhur tersebut mengatur banyak sisi kehidupan masyarakat. Isinya mencakup hubungan manusia, lingkungan, hukum adat, hingga nilai kehidupan.

Salah satu prinsipnya mengingatkan masyarakat agar menjaga dunia dan seluruh isinya. Manusia, langit, dan hutan dipandang sebagai bagian yang saling berhubungan. Prinsip tersebut kemudian diterapkan dalam pengelolaan lingkungan sehari-hari.

“Hutan adalah sumber kehidupan!”

Pesan Ammatoa itu disampaikan saat kunjungan kebudayaan pada 4 Desember 2019 lalu. Ketika itu, perwakilan dari 15 daerah datang mempelajari kehidupan masyarakat Kajang. Mereka mempelajari cara masyarakat menjaga adat sekaligus melindungi lingkungan.

Baca Juga:
  • Pesona Kawaguchiko dengan Latar Gunung Fuji
  • Pengalaman Naik Bus Umum Samarinda-Balikpapan: Tiket Murah, Musik Dangdut, dan Jalanan Bergelombang
  • Keunikan Budaya dan Kemajuan Teknologi, Inilah Keistimewaan Jepang
  • Eksotisme Gunung Papandayan, Surga Alam di Garut

Aturan terhadap hutan juga tidak berhenti sebagai nasihat. Masyarakat mengenal hukum adat untuk melindungi kawasan tersebut. Menebang pohon secara sembarangan termasuk pelanggaran berat. Mengganggu lebah dan mengambil ikan tanpa izin juga dilarang.

Kehidupan masyarakat Kajang juga identik dengan warna hitam. Pilihan tersebut bukan sekadar gaya berpakaian tradisional. Hitam memiliki makna kesederhanaan dan kesetaraan dalam kehidupan masyarakat. Warna itu mengingatkan bahwa setiap manusia memiliki kedudukan yang sama.

Kesederhanaan tersebut dikenal melalui prinsip kamase-masea. Prinsip ini mendorong kehidupan yang bersahaja dan tidak berlebihan. Ammatoa sebagai pemimpin adat juga menjadi teladan dalam menjalankan nilai tersebut.

Menariknya, aturan adat tetap berjalan berdampingan dengan kehidupan bernegara. Masyarakat Kajang menjunjung hukum adat, aturan agama, serta hukum negara. Ketiganya menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat.

Keberadaan masyarakat adat Ammatoa juga memperoleh pengakuan dari pemerintah daerah. Hak dan keberadaannya diperkuat melalui Peraturan Daerah Bulukumba Nomor 9 Tahun 2015. Pengakuan tersebut kemudian diperkuat dengan Peraturan Bupati Nomor 40 Tahun 2018.

Namun, daya tarik Kajang sebenarnya bukan hanya pada aturan tertulis. Filosofi kehidupan masyarakatnya terasa relevan bagi kehidupan modern.

Artikel Terkait:
  • Curug Pelangi, Panorama Air dan Cahaya
  • Menepi di Jejeran Cemara & Laut Lepas Pangempang
  • Liburan Hemat ke Jepang untuk Pemula
  • Tips dan Perlengkapan Mendaki Gunung Rinjani bagi Pemula

Saat banyak orang mengejar kecepatan, masyarakat Kajang mempertahankan kesederhanaan. Ketika konsumsi meningkat, mereka mengingatkan pentingnya mengambil secukupnya. Saat kerusakan lingkungan menjadi perhatian dunia, mereka telah lama menjaga hutannya.

Masyarakat Kajang menunjukkan bahwa konservasi tidak selalu bermula dari teknologi canggih. Perlindungan alam dapat tumbuh dari nilai budaya yang dipatuhi bersama.

Hutan akhirnya bukan hanya sumber kayu atau ruang ekonomi. Hutan menjadi warisan yang harus diteruskan kepada generasi berikutnya.

Karena itu, berkunjung ke kawasan adat Ammatoa bukan sekadar perjalanan wisata budaya. Pengunjung dapat menemukan cara pandang berbeda mengenai hubungan manusia dengan alam.

Di tengah perubahan zaman, Suku Kajang membawa sebuah pesan sederhana. Kemajuan tidak harus membuat manusia meninggalkan kebijaksanaan leluhur. Terkadang, masa depan justru dapat diselamatkan dengan mengingat kembali nilai masa lalu.

Jangan Lewatkan:
  • Kastil Neuschwanstein, Dongeng Itu Nyata
  • Pulau Sumba, Surga Eksotis Baru
  • Perjalanan Pulang ke Samarinda: Di Bawah Langit Bontang yang Segar
  • Sensasi Tak Terlupakan Menginap Bersama Keluarga di Mercure & Ibis Samarinda

Dari Bulukumba, masyarakat Kajang memberi pelajaran penting bagi Indonesia. Menjaga hutan bukan hanya tugas pemerintah atau aktivis lingkungan. Tanggung jawab itu dapat dimulai dari cara manusia memandang alam.

Ketika alam dihormati sebagai bagian kehidupan, keinginan merusaknya menjadi semakin kecil. Itulah warisan berharga yang masih dijaga masyarakat Ammatoa Kajang hingga sekarang.

Ammatoa Kajang Budaya Bulukumba Hutan Adat Kearifan Lokal Suku Kajang
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleEmas Antam Naik Rp46 Ribu, Tembus Rp2,71 Juta

Informasi lainnya

Bakar Batu Papua, Lebih dari Sekadar Memasak

2 September 2026

Keindahan Desa Shirakawa-go yang Menawan

14 April 2026

Menjelajah Dunia Digital di teamLab Planets Tokyo

13 April 2026

Menyusuri Heningnya Hutan Bambu Arashiyama

12 April 2026

Pesona Kawaguchiko dengan Latar Gunung Fuji

12 April 2026

Menikmati Senja dari Shibuya Sky Tokyo

11 April 2026
Paling Sering Dibaca

UI Mesin Gelar Doktor Pejabat

Perspektif Assyifa

Outfit Kantor Simpel ala Capsule Wardrobe

Daily Tips Ericka

dr. Dara Ayu: Dari Madrasah Aliyah ke Fakultas Kedokteran

Profil Ericka

Tarif Ojol Naik: Siapa Diuntungkan?

Editorial Udex Mundzir

Demokrasi yang Tersandera Kotak Kosong

Perspektif Silva
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Tugu Titik Nol IKN Bertuliskan ‘Lorem Ipsum’, Jadi Simbol Ibu Kota yang Masih ‘Draft’

Gunung Raung Erupsi, Warga Diminta Jauhi Kawah dalam Radius Tiga Kilometer

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

Prioritas Silaturahmi Lebaran, Siapa Didahulukan?

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Alat Tulis Sekolah Murah Produk Dapur Terlaris Perlengkapan Pramuka Lengkap
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi