Jakarta – Dunia pesantren Indonesia kehilangan salah seorang ulama yang dikenal lantang berdakwah sekaligus tekun membina generasi muda. Prof KH Syukron Ma’mun, pengasuh Pondok Pesantren Daarul Rahman Jakarta yang dikenal dengan julukan Singa Podium, wafat pada Minggu (18/10/2026) setelah menjalani perawatan akibat gangguan kesehatan jantung.
Kabar wafatnya KH Syukron Ma’mun membawa duka bagi keluarga, santri, alumni, dan masyarakat yang mengenal kiprah dakwahnya selama puluhan tahun. Ulama yang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk pendidikan Islam itu mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta, setelah kondisi kesehatannya menurun dalam beberapa pekan terakhir.
Kepergian KH Syukron Ma’mun bukan hanya kehilangan bagi keluarga besar Pesantren Daarul Rahman. Sosoknya telah menjadi bagian dari perjalanan pendidikan pesantren dan dakwah Islam di Jakarta, terutama melalui pembinaan santri serta ceramah keagamaan yang dikenal tegas dan penuh semangat.
Kondisi Kesehatan Menurun Sebelum Wafat
Putra almarhum, KH Muhammad Faiz Syukron Makmun atau Gus Faiz, mengungkapkan bahwa kesehatan ayahnya mulai menurun sekitar dua pekan sebelum wafat. KH Syukron mengalami gangguan jantung cukup berat sehingga harus menjalani perawatan medis.
Setelah kondisinya sempat membaik, almarhum diperbolehkan kembali ke rumah. Meski demikian, keluarga tetap memberikan pendampingan karena kondisi kesehatannya belum sepenuhnya pulih.
Menjelang hari terakhir, Gus Faiz masih berkesempatan mendampingi dan berbincang dengan ayahnya. Percakapan tersebut berlangsung seperti biasa, tanpa ada pesan khusus yang mengisyaratkan bahwa kebersamaan mereka segera berakhir.
“Sehabis shalat Subuh ngobrol biasa dengan saya,” ujar Gus Faiz ketika menceritakan saat-saat terakhir bersama ayahnya dalam rangkaian prosesi jenazah di Pesantren Daarul Rahman, Jagakarsa, Jakarta, Minggu (18/10/26).
Tidak lama setelah percakapan tersebut, kondisi KH Syukron kembali memburuk. Almarhum mengalami sesak napas sehingga keluarga segera membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.
Upaya penanganan dilakukan, tetapi kondisi kesehatannya terus menurun hingga akhirnya dinyatakan wafat. Kabar duka kemudian menyebar di kalangan pesantren, organisasi keagamaan, dan masyarakat yang selama ini mengikuti dakwahnya.
Wasiat Terakhir tentang Pemakaman
Di balik kepergiannya, KH Syukron Ma’mun meninggalkan sejumlah pesan kepada keluarga. Salah satunya berkaitan dengan pelaksanaan pemakaman yang diinginkan berlangsung tanpa penundaan.
Almarhum juga telah menyampaikan keinginan agar sejumlah sahabat dan ulama yang dikenalnya turut mengambil bagian dalam prosesi salat jenazah serta pembacaan talqin.
“Cepat. Yang paling penting, teman-teman saya kamu kan tahu, tolong ada yang imami. Ada yang nalqini,” tutur Gus Faiz saat menyampaikan kembali pesan ayahnya di Pesantren Daarul Rahman, Jagakarsa, Jakarta, Minggu (18/10/26).
Keinginan tersebut menjadi perhatian keluarga dalam mempersiapkan prosesi pemakaman. Salat jenazah almarhum dipimpin KH Mahfudz Asirun, yang pernah menjabat Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DKI Jakarta.
Menariknya, KH Syukron telah menentukan sendiri lokasi yang diinginkannya sebagai tempat peristirahatan terakhir. Keputusan itu disampaikan kepada keluarga sekitar lima tahun sebelum wafat.
Lokasi tersebut berada di kompleks Pesantren Daarul Rahman, Jagakarsa, Jakarta Selatan, tidak jauh dari pohon kelapa yang pernah ditanamnya sendiri. Tempat itu kemudian menjadi lokasi pemakaman almarhum.
“Beliau bilang, ‘Nanti kepala saya di sini.’ Dan itu saya wujudkan bersama,” ungkap Gus Faiz ketika menjelaskan keinginan ayahnya mengenai lokasi pemakaman, di Pesantren Daarul Rahman, Jagakarsa, Jakarta, Minggu (18/10/26).
Pilihan dimakamkan di lingkungan pesantren memiliki kedekatan dengan perjalanan hidup KH Syukron. Di tempat itulah ia mencurahkan perhatian untuk membangun pendidikan agama, mendampingi santri, dan menjaga keberlangsungan kegiatan dakwah.
Puluhan Tahun Mengabdikan Hidup untuk Pesantren
Nama KH Syukron Ma’mun tidak dapat dipisahkan dari perkembangan Pondok Pesantren Daarul Rahman. Lembaga pendidikan Islam tersebut menjadi tempat pengabdiannya selama puluhan tahun, sekaligus ruang untuk membina generasi penerus.
Dalam perjalanan pengabdiannya, KH Syukron menghabiskan sekitar 41 tahun di lingkungan Pesantren Daarul Rahman kawasan Senopati, Jakarta Selatan. Aktivitas pendidikan kemudian berlanjut di kawasan Jagakarsa selama sekitar satu dekade.
Selama masa tersebut, kegiatan pesantren tidak hanya berpusat pada pengajaran ilmu agama. Pembinaan kedisiplinan, pembentukan akhlak, serta penguatan kemampuan santri untuk hidup di tengah masyarakat menjadi bagian penting dari pendidikan pesantren.
KH Syukron juga dikenal luas sebagai pendakwah yang memiliki kemampuan berbicara di hadapan publik. Gaya ceramahnya yang tegas, bersemangat, dan mudah dikenali membuatnya memperoleh julukan Singa Podium.
Namun, kiprah dakwahnya tidak berhenti pada mimbar ceramah. Pendidikan pesantren menjadi bagian penting dari pengabdiannya karena melalui lembaga tersebut, ilmu agama dapat diteruskan kepada generasi berikutnya secara berkelanjutan.
Pesantren memiliki peran penting dalam pendidikan Islam Indonesia. Selain mengajarkan Al-Qur’an dan berbagai disiplin ilmu keislaman, pesantren juga membentuk kehidupan bersama antara santri, guru, dan masyarakat melalui tradisi belajar serta keteladanan sehari-hari.
Dalam perjalanan panjangnya, KH Syukron memilih mempertahankan hubungan erat antara dakwah dan pendidikan. Keduanya menjadi jalan pengabdian yang terus dijalankannya hingga usia lanjut.
Santri Menjadi Bagian dari Pesan Terakhir
Salah satu pesan KH Syukron yang disampaikan keluarga memperlihatkan betapa besar perhatian almarhum kepada para santri. Bahkan, menjelang akhir hayat, ia masih mengaitkan kepergiannya dengan kegiatan membaca Al-Qur’an di lingkungan pesantren.
“Kalau saya mati, Is, biar santri-santri saya yang baca Qur’an agar menjadi saksi di hadapan Allah bahwa saya itu tidak pernah berpikir apa pun kecuali dakwah dan pesantren,” ujar Gus Faiz saat mengutip pesan ayahnya dalam prosesi jenazah di Pesantren Daarul Rahman, Jagakarsa, Jakarta, Minggu (18/10/26).
Pesan tersebut menggambarkan hubungan yang dibangun KH Syukron dengan para santri selama masa pengabdiannya. Bagi almarhum, keberadaan santri bukan sekadar bagian dari aktivitas lembaga pendidikan, melainkan penerus ilmu dan dakwah yang selama ini diperjuangkannya.
Kepergian seorang pengasuh pesantren juga membawa tanggung jawab baru bagi keluarga dan pengelola lembaga. Keberlangsungan pendidikan, pembinaan santri, serta pemeliharaan tradisi keilmuan menjadi pekerjaan yang harus terus dijalankan setelah wafatnya tokoh utama.
Bagi para alumni, hubungan dengan pesantren tidak selalu berakhir ketika masa pendidikan selesai. Nilai-nilai yang diperoleh selama belajar dapat diteruskan melalui pekerjaan, kehidupan keluarga, kegiatan sosial, dan pengabdian kepada masyarakat.
Warisan Pendidikan di Tengah Perubahan Zaman
Wafatnya KH Syukron Ma’mun terjadi ketika lembaga pendidikan Islam terus menghadapi perubahan kebutuhan masyarakat. Pesantren dituntut mempertahankan kekuatan pendidikan agama sekaligus mempersiapkan santri menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kehidupan sosial.
Perjalanan panjang KH Syukron bersama Pesantren Daarul Rahman memperlihatkan pentingnya kesinambungan pendidikan yang tidak bergantung pada satu generasi. Pengabdian seorang kiai dapat berlanjut melalui para pengajar, santri, alumni, dan lembaga yang dibangunnya.
Kehilangan seorang pengasuh tentu membawa duka bagi lingkungan pesantren. Namun, kegiatan belajar, pembinaan akhlak, dan pengajaran agama yang telah berlangsung selama puluhan tahun tetap memiliki ruang untuk diteruskan.
Bagi masyarakat, keberadaan pesantren juga berkaitan dengan akses pendidikan keagamaan dan pembentukan karakter generasi muda. Karena itu, keberlanjutan lembaga setelah wafatnya pendiri atau pengasuh merupakan bagian penting dari tanggung jawab pendidikan.
KH Syukron Ma’mun kini beristirahat di lingkungan pesantren yang menjadi bagian besar perjalanan hidupnya. Di tempat yang sama, kegiatan pendidikan dan pembelajaran para santri menjadi warisan pengabdian yang diharapkan terus hidup setelah kepergiannya.
