Surabaya – Kongres Nasional/Majelis Tahkim Syarikat Islam ke-42 di Surabaya membawa pergantian kepemimpinan organisasi yang memiliki akar panjang dalam sejarah pergerakan nasional Indonesia. Ferry Juliantono ditetapkan sebagai Presiden Lajnah Tanfidziyah Syarikat Islam, sedangkan Hamdan Zoelva mengemban amanah sebagai Ketua Dewan Pusat Syarikat Islam untuk masa jihad 2026–2031.
Penetapan kepemimpinan tersebut berlangsung dalam rangkaian Kongres Nasional Syarikat Islam yang diselenggarakan pada 17–20 Oktober 2026 di Surabaya, Jawa Timur. Kongres mengusung tema “Dakwah Ekonomi Menuju Kemerdekaan Sejati” dengan agenda konsolidasi organisasi, pembahasan arah perjuangan ekonomi umat, serta pergantian kepemimpinan untuk lima tahun mendatang.
Pergantian posisi Ferry dan Hamdan mempertemukan dua figur dengan pengalaman berbeda. Ferry sebelumnya menjabat Sekretaris Jenderal Syarikat Islam dan kini mengemban tugas sebagai Menteri Koperasi, sementara Hamdan merupakan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi yang telah memimpin Syarikat Islam selama sekitar satu dekade.
Kepemimpinan baru tersebut dihadapkan pada agenda besar untuk mengembalikan kekuatan ekonomi rakyat sebagai salah satu landasan perjuangan organisasi. Syarikat Islam yang tumbuh dari gerakan perdagangan pada awal abad ke-20 kini berupaya menghidupkan kembali semangat kemandirian melalui koperasi, kewirausahaan, dan pemberdayaan masyarakat.
Pembukaan kongres berlangsung di Jatim Expo, Jalan Ahmad Yani, Surabaya, Minggu (18/10/2026). Kegiatan tersebut dihadiri peserta dari berbagai daerah bersama sejumlah tokoh nasional, antara lain Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, serta jajaran pengurus Syarikat Islam.
Zulkifli Hasan membuka kongres atas nama Presiden Republik Indonesia. Kehadiran pemerintah dalam kegiatan tersebut beriringan dengan pembahasan sejumlah persoalan ekonomi nasional, terutama penguatan koperasi, akses pembiayaan, dan kesejahteraan masyarakat.
Sebelum pergantian kepemimpinan, Hamdan Zoelva mengingatkan pentingnya membangun kedaulatan ekonomi setelah Indonesia meraih kemerdekaan politik. Menurutnya, ketergantungan terhadap produk impor merupakan salah satu persoalan yang perlu dijawab melalui penguatan kemampuan produksi dalam negeri.
“Kita berkomitmen dari Surabaya untuk membangkitkan semangat kembali untuk sampai kepada kemandirian, kedaulatan ekonomi dan menuju kepada kemerdekaan sejati,” kata Hamdan Zoelva saat pembukaan Kongres Nasional/Majelis Tahkim ke-42 di Jatim Expo, Surabaya, Minggu (18/10/26).
Pandangan tersebut menjadi salah satu pijakan agenda dakwah ekonomi yang dibahas dalam kongres. Kemandirian tidak hanya diukur dari pertumbuhan usaha, tetapi juga kemampuan masyarakat memperoleh akses permodalan, mengembangkan produksi, dan membangun usaha bersama.
Kongres Syarikat Islam ke-42 menempatkan lima pilar utama sebagai arah penguatan ekonomi umat, yakni ekonomi syariah, koperasi, zakat dan wakaf, ekologi dan keberlanjutan, serta kewirausahaan umat.
Kelima bidang tersebut saling berkaitan. Koperasi dapat menjadi wadah penguatan usaha masyarakat, ekonomi syariah memperluas alternatif pembiayaan, sedangkan pengelolaan zakat dan wakaf secara produktif berpotensi membantu pemberdayaan kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.
Pada sektor koperasi, Syarikat Islam mendorong pengembangan koperasi pesantren, koperasi berbasis masjid, serta lembaga pembiayaan syariah. Langkah ini diarahkan untuk memperluas akses ekonomi masyarakat, termasuk pelaku usaha mikro yang selama ini menghadapi keterbatasan modal.
Ferry Juliantono menegaskan bahwa gerakan ekonomi Syarikat Islam perlu menjangkau persoalan yang benar-benar dihadapi masyarakat. Ia menyebut pengaktifan jaringan organisasi sebagai salah satu langkah untuk membantu warga yang menghadapi kesulitan ekonomi.
“Kami aktifkan seluruh cabang untuk membebaskan masyarakat dari jeratan pinjaman ilegal, memberikan bantuan pangan, serta menyelesaikan masalah warga yang miskin,” ujar Ferry Juliantono seusai pembukaan Kongres Nasional/Majelis Tahkim ke-42 di Surabaya, Minggu (18/10/26).
Pernyataan tersebut memberi gambaran mengenai pekerjaan yang menanti kepemimpinan baru. Jaringan Syarikat Islam di berbagai daerah diharapkan tidak hanya menjalankan kegiatan organisasi, tetapi juga mengembangkan program ekonomi yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Bagi pedagang kecil, pelaku usaha mikro, petani, dan masyarakat berpenghasilan rendah, keberadaan lembaga ekonomi bersama dapat membuka pilihan pembiayaan dan pemasaran yang lebih luas. Namun, manfaat itu bergantung pada kemampuan organisasi mengubah hasil kongres menjadi kegiatan yang berkesinambungan.
Pemilihan Surabaya sebagai lokasi Kongres Nasional Syarikat Islam memiliki hubungan erat dengan sejarah organisasi. Kota ini merupakan salah satu pusat perkembangan gerakan Syarikat Islam pada masa kepemimpinan HOS Tjokroaminoto, tokoh pergerakan yang mempertemukan perjuangan ekonomi, pendidikan, dan kesadaran kebangsaan.
Pada Januari 1913, Surabaya menjadi tempat penyelenggaraan kongres Syarikat Islam yang dihadiri sekitar 15.000 orang. Pertemuan tersebut merupakan bagian penting dari pertumbuhan organisasi yang semula bertumpu pada kepentingan perdagangan menjadi gerakan sosial dan kebangsaan yang lebih luas.
Hamdan Zoelva menilai gagasan sosialisme Islam yang diwariskan HOS Tjokroaminoto masih relevan bagi perjuangan organisasi. Pemikiran tersebut menekankan solidaritas sosial, keadilan ekonomi, dan pentingnya memperkuat kedudukan rakyat dalam kegiatan perekonomian.
Bagi Syarikat Islam, warisan sejarah tersebut memberi dasar untuk mengembangkan gerakan ekonomi yang tidak semata-mata mengejar keuntungan. Koperasi, misalnya, dipandang sebagai wadah kerja sama masyarakat sekaligus instrumen untuk memperluas kesejahteraan.
“Koperasi bukan sekadar usaha mencari untung, melainkan wujud solidaritas. Inilah yang kita kembangkan kembali saat ini,” ujar Hamdan Zoelva dalam rangkaian Kongres Nasional/Majelis Tahkim Syarikat Islam ke-42 di Surabaya, Minggu (18/10/26).
Terpilihnya Ferry Juliantono sebagai Presiden Lajnah Tanfidziyah menempatkan penguatan ekonomi umat sebagai salah satu perhatian utama kepemimpinan Syarikat Islam periode 2026–2031. Pengalamannya di bidang perkoperasian menjadi modal untuk mendorong pengembangan lembaga ekonomi masyarakat.
Sementara itu, Hamdan Zoelva sebagai Ketua Dewan Pusat Syarikat Islam memiliki peran penting dalam keberlanjutan arah perjuangan dan konsolidasi kelembagaan organisasi. Pengalaman panjangnya di bidang hukum, ketatanegaraan, dan kepemimpinan Syarikat Islam menjadi bekal untuk mendampingi perjalanan organisasi pada periode berikutnya.
Salah satu tantangan yang perlu dijawab adalah kemampuan jaringan organisasi di daerah mengembangkan program ekonomi yang sesuai dengan kebutuhan setempat. Penguatan usaha anggota, peningkatan literasi keuangan, serta pendampingan koperasi membutuhkan kerja sama antara pengurus, pelaku usaha, lembaga pendidikan, dan masyarakat.
Di tengah kebutuhan masyarakat terhadap akses modal yang terjangkau dan peluang usaha yang berkelanjutan, keberhasilan program dakwah ekonomi akan sangat ditentukan oleh pelaksanaannya. Keberadaan koperasi yang sehat, usaha produktif yang berkembang, dan meningkatnya kemampuan ekonomi anggota dapat menjadi ukuran kemajuan program tersebut.
Kongres Nasional Syarikat Islam ke-42 tidak hanya menghadirkan pergantian kepemimpinan dari Hamdan Zoelva kepada Ferry Juliantono. Pertemuan di Surabaya juga menempatkan kembali perjuangan ekonomi rakyat sebagai agenda penting organisasi untuk lima tahun mendatang.
Dengan Ferry memimpin Lajnah Tanfidziyah dan Hamdan mengemban amanah Ketua Dewan Pusat, Syarikat Islam memasuki masa jihad 2026–2031 dengan tantangan menerjemahkan warisan perjuangan HOS Tjokroaminoto menjadi program yang menjangkau kehidupan masyarakat. Dari Surabaya, keberlanjutan gerakan tersebut akan diuji melalui kerja nyata organisasi di berbagai daerah.
