Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Syarat Tak Bisa Dicuci Kekuasaan

Jika Gibran Didiskualifikasi, Siapa Pengganti Wapres?

SPPG De La Tina Ciamis Terapkan Inovasi Pengelolaan Limbah Dapur MBG

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Minggu, 4 Oktober 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Kemenag: Elongasi Hilal Belum Cukup, Lebaran Bisa Beda

Perhitungan astronomi menunjukkan elongasi hilal belum memenuhi standar MABIMS sehingga potensi perbedaan Idul Fitri kembali muncul.
Lisda LisdiawatiLisda Lisdiawati9 Maret 2026 Nasional
Kemenag: Elongasi Hilal Belum Cukup, Lebaran Bisa Beda
Ilustrasi, pemantauan rukyat hilal awal Ramadan atau hari raya Idul Fitri (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Jakarta – Penentuan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah kembali berada di persimpangan. Ibarat menunggu garis tipis di ufuk senja, posisi hilal yang menjadi penanda akhir Ramadan disebut masih berada di batas kritis sehingga membuka kemungkinan perbedaan penetapan Lebaran di Indonesia.

Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) menyampaikan bahwa secara perhitungan astronomi, posisi hilal pada akhir Ramadan 1447 H belum sepenuhnya memenuhi standar visibilitas yang digunakan negara anggota MABIMS (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura). Kondisi ini berpotensi memunculkan perbedaan penentuan awal Syawal antara pemerintah dan sejumlah organisasi keagamaan.

Direktur Urusan Agama Islam Kemenag, Arsad Hidayat, menjelaskan bahwa berdasarkan metode hisab, ketinggian hilal saat menjelang akhir Ramadan berada pada rentang 0 hingga 3 derajat. Posisi tertinggi diperkirakan terjadi di wilayah Aceh, sementara sudut elongasi diperkirakan berada di kisaran 4 hingga 6 derajat.

“Kalau berdasarkan hitungan hisab, ketinggian hilal itu sekitar 0 sampai 3 derajat dan yang tertinggi berada di wilayah Aceh. Kemudian untuk elongasi 4 sampai 6 derajat,” kata Arsad dalam press briefing di Jakarta, Senin (9/3/2026).

Secara astronomi, standar yang digunakan MABIMS mensyaratkan ketinggian hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat agar hilal berpotensi terlihat. Elongasi sendiri merupakan jarak sudut antara matahari dan bulan jika dilihat dari bumi. Semakin besar sudut tersebut, semakin besar peluang hilal dapat diamati saat rukyat.

Baca Juga:
  • Gempa Magnitudo 5,4: BPBD Pandeglang Himbau Tetap Waspada
  • Hasto Tekankan Menteri PDIP Berfokus Cegah Instabilitas Politik
  • Menag Buka MTQ Internasional IV di Jakarta, 60 Peserta dari 38 Negara
  • Gempa Besar Guncang Bitung, BMKG Keluarkan Peringatan

Dalam paparan Kemenag, meskipun ada kemungkinan ketinggian hilal di beberapa wilayah mendekati batas minimal, sudut elongasi diperkirakan masih berada di bawah standar imkan rukyat MABIMS. Hal inilah yang membuat kemungkinan hilal terlihat secara kasat mata dinilai masih kecil.

“Kriteria imkan rukyat versi MABIMS menetapkan elongasi minimal 6,4 derajat. Berdasarkan perhitungan saat ini, angka tersebut masih belum terpenuhi,” ujar Arsad.

Situasi tersebut membuka peluang terjadinya perbedaan penentuan awal Syawal antara pemerintah dan Muhammadiyah. Sebelumnya, Muhammadiyah telah lebih dahulu menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Jumat 20 Maret 2026 melalui pendekatan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

Sementara itu, pemerintah masih menggunakan metode hisab rukyat yang mengacu pada standar MABIMS. Berdasarkan perhitungan tersebut, posisi hilal pada saat Maghrib 19 Maret 2026 di kawasan Asia Tenggara diperkirakan belum memenuhi kriteria visibilitas. Dengan demikian, secara hisab kemungkinan awal Syawal jatuh pada 21 Maret 2026.

Kepastian mengenai penetapan Hari Raya Idul Fitri sendiri akan diputuskan melalui sidang isbat yang dijadwalkan berlangsung pada 19 Maret 2026. Sidang tersebut akan melibatkan berbagai unsur, termasuk ulama, ahli astronomi, organisasi masyarakat Islam, serta perwakilan lembaga terkait.

Artikel Terkait:
  • Gempa Rusia M 8,7 Picu Peringatan Tsunami di Indonesia
  • Program Makan Bergizi Gratis Resmi Dimulai, Target Jangkau 15 Juta Penerima
  • Mahfud MD Tolak Pertanyaan Gibran Tentang Greenflation
  • Bareskrim Polri Tetapkan Panji Gumilang Jadi Tersangka

Peneliti Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, juga memperkirakan adanya potensi perbedaan awal Syawal tahun ini. Ia menilai perbedaan metode yang digunakan dalam menentukan kalender hijriah menjadi faktor utama munculnya perbedaan tersebut.

Dalam beberapa tahun terakhir, perbedaan metode hisab global dan hisab rukyat berbasis kriteria visibilitas hilal memang kerap memunculkan perbedaan awal Ramadan maupun Idul Fitri di Indonesia.

Meski demikian, pemerintah menegaskan bahwa sidang isbat tetap menjadi rujukan resmi karena menggabungkan perhitungan astronomi dan hasil rukyat di berbagai wilayah. Di tengah dinamika tersebut, masyarakat diimbau untuk menunggu keputusan resmi pemerintah serta tetap menjaga sikap saling menghormati jika terjadi perbedaan penetapan hari raya.

Jangan Lewatkan:
  • BAZNAS Tegas: Zakat Tak Sentuh Program MBG
  • 1.084 TNI-Polri Dikerahkan untuk Pengamanan Kunjungan Wapres
  • Kereta Cepat Whoosh Tambah Perjalanan Jadi 62 Kali per Hari
  • Semeru Kembali Erupsi, Kolom Letusan Capai 1.000 Meter

Hilal MABIMS Kemenag Lebaran 2026 Penentuan Idul Fitri Ramadan 1447H
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleKemenag Rilis Panduan Takbiran di Bali Saat Nyepi
Next Article Kemenag Salurkan BOS Madrasah Rp4,5 Triliun Tahap Awal

Informasi lainnya

Gempa M 6,7 Guncang Palu, BMKG Pastikan Tak Picu Tsunami

16 Juni 2026

BEM UI Turun ke Bundaran HI, Soroti Ekonomi dan APBN

12 Juni 2026

4.151 Personel Gabungan Kawal Aksi Mahasiswa di Jakarta

12 Juni 2026

BMKG Keluarkan Peringatan Tsunami Pascagempa Besar Sangihe

8 Juni 2026

Dolar AS Sentuh Rp17.700, Rupiah Makin Tertekan

19 Mei 2026

Musim Nobar Pesta Babi Diatur Lewat Pendaftaran

18 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Kisah Pengusaha Lokal Kalahkan Raksasa Dunia dalam Sengketa Merek

Bisnis Assyifa

Provokator di Balik Api Jalanan

Editorial Udex Mundzir

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

Editorial Udex Mundzir

Prabowo-Gibran dan Propaganda 78% Publik Puas

Editorial Udex Mundzir

Malahayati, Laksamana Laut Perempuan

Profil Alfi Salamah
Berita Lainnya
Saintek
Ericka28 April 2025

Rahasia Daisugi, Teknik Bertani Pohon Tanpa Membabat Hutan

Hukum Barang Temuan dalam Islam

Modus Janji Cinta Diancam Penjara dalam KUHP Baru

PANDI Perketat Aturan Sengketa Domain untuk Cegah Cybersquatting

Generasi Strawberry: Saat Gen Z Dinilai Rentan Tekanan

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Mic Wireless Untuk Masjid Produk Dapur Terlaris Alat Tulis Sekolah Murah
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi