Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Ketika Bencana Mengubah Cara Kita Bepergian

Wisata Gunung Api, Indah tapi Seberapa Aman?

Sejauh Apa Abu Vulkanik Bisa Terbang?

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Minggu, 13 September 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Kemenag: Elongasi Hilal Belum Cukup, Lebaran Bisa Beda

Perhitungan astronomi menunjukkan elongasi hilal belum memenuhi standar MABIMS sehingga potensi perbedaan Idul Fitri kembali muncul.
Lisda LisdiawatiLisda Lisdiawati9 Maret 2026 Nasional
Kemenag: Elongasi Hilal Belum Cukup, Lebaran Bisa Beda
Ilustrasi, pemantauan rukyat hilal awal Ramadan atau hari raya Idul Fitri (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Jakarta – Penentuan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah kembali berada di persimpangan. Ibarat menunggu garis tipis di ufuk senja, posisi hilal yang menjadi penanda akhir Ramadan disebut masih berada di batas kritis sehingga membuka kemungkinan perbedaan penetapan Lebaran di Indonesia.

Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) menyampaikan bahwa secara perhitungan astronomi, posisi hilal pada akhir Ramadan 1447 H belum sepenuhnya memenuhi standar visibilitas yang digunakan negara anggota MABIMS (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura). Kondisi ini berpotensi memunculkan perbedaan penentuan awal Syawal antara pemerintah dan sejumlah organisasi keagamaan.

Direktur Urusan Agama Islam Kemenag, Arsad Hidayat, menjelaskan bahwa berdasarkan metode hisab, ketinggian hilal saat menjelang akhir Ramadan berada pada rentang 0 hingga 3 derajat. Posisi tertinggi diperkirakan terjadi di wilayah Aceh, sementara sudut elongasi diperkirakan berada di kisaran 4 hingga 6 derajat.

“Kalau berdasarkan hitungan hisab, ketinggian hilal itu sekitar 0 sampai 3 derajat dan yang tertinggi berada di wilayah Aceh. Kemudian untuk elongasi 4 sampai 6 derajat,” kata Arsad dalam press briefing di Jakarta, Senin (9/3/2026).

Secara astronomi, standar yang digunakan MABIMS mensyaratkan ketinggian hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat agar hilal berpotensi terlihat. Elongasi sendiri merupakan jarak sudut antara matahari dan bulan jika dilihat dari bumi. Semakin besar sudut tersebut, semakin besar peluang hilal dapat diamati saat rukyat.

Baca Juga:
  • Komdigi Rancang Aturan Larangan Akun Medsos untuk Anak
  • Mayoritas Bus di Kampung Rambutan Tak Lolos Uji Kelayakan
  • Sidang Isbat Idul Fitri 2025 Digelar 29 Maret, Pemantauan Hilal di 33 Titik
  • Gempa Susulan 5,2 Guncang Bitung, Total 484 Kali

Dalam paparan Kemenag, meskipun ada kemungkinan ketinggian hilal di beberapa wilayah mendekati batas minimal, sudut elongasi diperkirakan masih berada di bawah standar imkan rukyat MABIMS. Hal inilah yang membuat kemungkinan hilal terlihat secara kasat mata dinilai masih kecil.

“Kriteria imkan rukyat versi MABIMS menetapkan elongasi minimal 6,4 derajat. Berdasarkan perhitungan saat ini, angka tersebut masih belum terpenuhi,” ujar Arsad.

Situasi tersebut membuka peluang terjadinya perbedaan penentuan awal Syawal antara pemerintah dan Muhammadiyah. Sebelumnya, Muhammadiyah telah lebih dahulu menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Jumat 20 Maret 2026 melalui pendekatan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

Sementara itu, pemerintah masih menggunakan metode hisab rukyat yang mengacu pada standar MABIMS. Berdasarkan perhitungan tersebut, posisi hilal pada saat Maghrib 19 Maret 2026 di kawasan Asia Tenggara diperkirakan belum memenuhi kriteria visibilitas. Dengan demikian, secara hisab kemungkinan awal Syawal jatuh pada 21 Maret 2026.

Kepastian mengenai penetapan Hari Raya Idul Fitri sendiri akan diputuskan melalui sidang isbat yang dijadwalkan berlangsung pada 19 Maret 2026. Sidang tersebut akan melibatkan berbagai unsur, termasuk ulama, ahli astronomi, organisasi masyarakat Islam, serta perwakilan lembaga terkait.

Artikel Terkait:
  • Kemenag Terbitkan Edaran Efisiensi Anggaran Tahun 2025
  • 354.247 Ribu Orang Tinggalkan Jawa ke Sumatra saat Libur Natal
  • UNESCO: Hari Lahir Pahlawan Indonesia Sebagai Perayaan Internasional
  • Penumpang Whoosh Capai 20 Ribu Per Hari Jelang Nataru

Peneliti Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, juga memperkirakan adanya potensi perbedaan awal Syawal tahun ini. Ia menilai perbedaan metode yang digunakan dalam menentukan kalender hijriah menjadi faktor utama munculnya perbedaan tersebut.

Dalam beberapa tahun terakhir, perbedaan metode hisab global dan hisab rukyat berbasis kriteria visibilitas hilal memang kerap memunculkan perbedaan awal Ramadan maupun Idul Fitri di Indonesia.

Meski demikian, pemerintah menegaskan bahwa sidang isbat tetap menjadi rujukan resmi karena menggabungkan perhitungan astronomi dan hasil rukyat di berbagai wilayah. Di tengah dinamika tersebut, masyarakat diimbau untuk menunggu keputusan resmi pemerintah serta tetap menjaga sikap saling menghormati jika terjadi perbedaan penetapan hari raya.

Jangan Lewatkan:
  • Lagapurnagita 2023 Lansia Bernyanyi Bahagia
  • Festival Sambel Wader, Kuliner Khas Mojokerto
  • BUMN Sebagai Pionir Kesehatan Mental di Lingkungan Kerja
  • Kesepakatan Sertifikasi Halal Antar Arab Saudi dan Malaysia

Hilal MABIMS Kemenag Lebaran 2026 Penentuan Idul Fitri Ramadan 1447H
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleKemenag Rilis Panduan Takbiran di Bali Saat Nyepi
Next Article Kemenag Salurkan BOS Madrasah Rp4,5 Triliun Tahap Awal

Informasi lainnya

Gempa M 6,7 Guncang Palu, BMKG Pastikan Tak Picu Tsunami

16 Juni 2026

BEM UI Turun ke Bundaran HI, Soroti Ekonomi dan APBN

12 Juni 2026

4.151 Personel Gabungan Kawal Aksi Mahasiswa di Jakarta

12 Juni 2026

BMKG Keluarkan Peringatan Tsunami Pascagempa Besar Sangihe

8 Juni 2026

Dolar AS Sentuh Rp17.700, Rupiah Makin Tertekan

19 Mei 2026

Musim Nobar Pesta Babi Diatur Lewat Pendaftaran

18 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Politik Kongkow, Rakyat Menunggu

Editorial Udex Mundzir

Ai Sri Mulyani, Ketelitian yang Berbuah Terang

Profil Adit Musthofa

Hindari Kata Kasar, Bisa Dipenjara 4 Bulan!

Daily Tips Udex Mundzir

Reformasi Polri: Antara Penegak Hukum atau Duta Wisata?

Refleksi Udex Mundzir

Memahami Kuasa Pengampunan Negara

Refleksi Ericka
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Diplomasi Ubah Peta, Sebatik Bertambah Luas

Alumni SMAN 1 Cisayong Lolos Seleksi Program Pendanaan Penelitian Mahasiswa Universitas Terbuka 2026

Temaram di Khalifa

Lari Rutin Tapi Berat Badan Naik? Ini Penyebabnya!

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Mic Wireless Untuk Masjid Buku Anak Islami Murah Perlengkapan Pramuka Lengkap
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi